Tidak Selalu Tentang Kepintaran

Malam larut dalam pikiran saya dan perbincangan tetangga depan rumah. Seharusnya, saat ini saya juga mengobrol dengan kekasih hati tapi kesibukan menghantui kami. Ada benarnya juga yang dikatakan ibu, “mata dan hati tidak selalu bisa mengukur jarak, terasa jauh atau terasa dekat. Tapi bagaimana cara seseorang berbicara dengan lawannya lah yang memberitahu jarak tersebut.” Ia menyusun kalimat tersebut sambil mencuci piring. Saya masih penasaran…

Tolooong! Kembalikan Istri Saya.

Terima kasih telah membaca. Ini bukan karya ilmiah melainkan layanan curhatasi.

Sebagai pria yang sudah berumah tangga, saya sudah bosan menghadapi wanita paruh baya di rumah saya yang menuntut ini-itu yaitu, istri saya.

Padahal, sewaktu pacaran dia sangat perhatian dan pengertian. Ketika sabtu saya mengatakan bahwa tidak sempat apel malam, ia memaklumi dan tidak pernah marah. Tutur katanya yang lembut dan menyejukkan, (sekali lagi) tidak pernah marah atau menuduh yang bukan-bukan. Senyumannya sering membuat saya terbang, seakan dia bidadari yang nyasar ke bumi lalu bertemu saya.

Padahal, sewaktu masih bujangan ia selalu mengatakan dengan penuh kasih sayang seperti Shinta, dalam tokoh pewayangan yang lemah gemulai, bahwa dia menunggu saya. Dulu, belasan bulan lamanya, ia mampu meyakinkan saya bahwa dialah wanita yang selama ini saya cari dan idam-idamkan.

Tapi apa yang terjadi setelah kami menikah?

Dia Datang, Aku Menangis!

Ini semua tentangnya.
Dia. Dia. Dia.
Dan selalu dia!

“Dia” bukanlah nama.
Dia adalah makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa.
Dia telah lama menjadi mimpi burukku.
Dia ada dimana-mana
dan kau tahu siapa dia. Tapi mengapa harus dia?

Susu Rambut Kucing

Kucing. Siapa yang belum tahu hewan yang satu ini? Hewan yang merambah ke kehidupan kampung, kota, hutan, pantai hingga pesisirnya, medan perang, kolong jembatan, loteng rumah, dan siapa tahu ada kucing di padang pasir? “Kucing”-pun enggak melulu soal binatang. “Kucing” menjadi primadona diberbagai istilah bermakna konotasi atau denotasi, termasuk peribahasa, seperti apa yang Abraham Lincoln bilang “No matter how much cats fight, there always seems to be plenty of kittens.”, atau sisipan dalam novel Othello, 1604, Shakespeare menyinggung kucing sebagai “monster” bermata hijau karena caranya bermain dengan tikus sebelum membunuh mereka, menggunakan istilah Green-eyed monster.

Kepopulerannya sudah terasa sejak masih anak-anak. Sejak balita maupun baru lahir. Bahkan sejak dalam kandungan pun, “kucing” sudah diperkenalkan. Tidak Percaya?

Sudahkah Anda Dishalatkan?

BELUM. Pertanyaan bagi orang hidup tentu saja belum. Namun, kalau ada yang menjawab sudah, perlu ditanyakan riwayat kehidupannya. Bagi saya, pertanyaan tersebut bukan suatu hal yang sepele. Tidah hanya menyangkut nyawa dan agama, melainkan juga pengalaman hidup. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk mengganti kalimat itu dengan yang lebih baik bin mujarab, seperti kalimat yang pernah ditempel distiker kuning bertuliskan: Sudahkah Anda Shalat Hari Ini?. Jangankan hari ini, besok pun belum tentu saya melakukan ibadah yang satu itu.