Pilih Siapa, Bang 8709?

Dikirim esai dengan kaitan (tags) , , , , pada Juli 2, 2009 oleh mew da vinci

Setelah puyeng berjam-jam dengan soal-soal Ujian Akhir Semester. Akhirnya saya terhibur menonton tayangan Debat Capres Final di RCTI, malam ini. Karena tahun ini merupakan pertama kalinya mengikuti Pemilu maka saya sangat antusias menyambut Pemilu yang tinggal enam hari lagi. Acara yang bersifat setengah kampanye ini ditutup dengan pertanyaan spontan dari moderator: Apa yang akan bapak dan ibu lakukan jika nanti tidak terpilih sebagai presiden?
Simple and easy. Bagi yang masih mengingat Pemilu Presiden USA tentu siap menghadapi pertanyaannya dan memahami arah pertanyaan Sang Moderator. Mengerti apa harapan masyarakat Indonesia modern yang notabene sudah melek teknologi, berpikiran lebih realistis dan lebih luas, dan menginginkan suasana pemerintahan yang tidak melulu panas.

Berikut jawaban tiga calon presiden Indonesia : Ibu Mega, Pak SBY dan Pak JK menjawab,

Teorinya Gitu Sieh..

Dikirim esai dengan kaitan (tags) , , , pada Mei 15, 2009 oleh mew da vinci

Pagi ini saya sengaja dandan rapi, pakai tank top hitam dan blazer coklat muda plus sabuk coklat muda dipadukan celana pensil panjang hitam dan sendal teplek hitam, untuk menghadiri persidangan, di Pengadilan Negeri Bogor. Walau, aah pas buat shopping habis ngantor.. Tentunya, gaya saya kali ini gak saltum lagi di hari pertama saya. Saya datang cukup tepat waktu, karena hanya menunggu sekitar 10 menit untuk masuk ke ruang sidang. Sekedar info bahwa, dulu saya pernah mengikuti praktek Sidang Semu dimana kasus, Jaksa, Hakim, Pengacara, Terdakwa, Korban, Saksi dan para Hadirin hanya rekayasa, walau pun saya bukan dari Fakultas Hukum. Menurut pengalaman saya di Sidang Semu, baris terdepan di siapkan bagi kerabat terdakwa dan korban, pengacara dan saksi. Jadi saya duduk di tengah jejeran kursi, agak mojok ke samping. Di sana, ada 3 wartawan merangkap photographer dari lima yang bertebaran. Sebelum acara dimulai, saya benar-benar bosan. Kalau kebanyakan hadirin bawa rekanannya, saya cuma sendirian. Gak ada sinyal Wi-Fi, gak ada pulsa buat sms-an atau telpon, gak bawa komik, novel atau iPod buat hiburan dan gak ada temen ngobrol. Di sebelah saya duduk ibu-ibu paruh baya dengan pakaian serba cokelat gelap mulai dari: sepatu high-heels, stocking, rok span, kemeja lengan pendek, kalung batu, jilbab, soft-lens, lipstik, blush on, eye-shadow… Saya memperhatikannya agak lama sampai dia nyadar dan noleh ke saya, senyuman saya dibalas nyengir. O-ou! Giginya coklat dengan behel cokelat juga! Ah, masa sieh? Masa sieh?

Dari Belanda Dimulai Komunitas Global

Dikirim esai dengan kaitan (tags) , , pada April 11, 2009 oleh mew da vinci

Masih ingat dengan tulisan saya sebelumnya? Dimana saya menceritakan tentang kriteria orang yang tidak serius menekuni pekerjaannya dan cara menanggulanginya. Saya akui, saya termasuk di dalamnya, tapi anda belum tentu.

Saat itu, saya membuka paragraph dengan mengatakan bahwa saya akan mengambil Studi di Belanda dengan mengikuti kompetisi blog yang diadakan NESO Indonesia. Studi tersebut merupakan program pendidikan musim panas atau Summer Course.

Mengapa Belanda?

Tata Cara Pemilu 2009 : Tandai Sekali Saja!

Dikirim esai dengan kaitan (tags) , , pada April 8, 2009 oleh mew da vinci

Pemilu yang diadakan pada tanggal 9 April 2009, dimulai dari pukul 09.00 – 12.00 WIB. Ternyata mengalami perubahan teknis dalam pemberian suara dari dicoblos menjadi dicentang (√).

KPU keluarin peraturan baru!

Hindari Menghangatkan Ulang Tai Ayam!

Dikirim esai dengan kaitan (tags) , pada April 4, 2009 oleh mew da vinci

Ketika saya mengatakan kepada semua orang bahwa saya akan mengambil Studi di Belanda dengan mengikuti kompetisi blog yang diadakan Neso Indonesia, saya menerima respon berupa kening berkerut-kerut atau ekspresi sangsi lainnya menanyakan: “Oh ya? Berapa lama? Gimana prosedurnya?”

Seperti biasa, saya memberi tanggapan standar dengan meminta melihat hasilnya. Sebenarnya, gak semua orang menanggapinya seperti itu, beberapanya malah menyemangati atau cuek saja, bisa jadi karena tahu kalau saya cuma anget-anget tai ayam, kalau tai-nya sudah dingin ya beres atau malah cari hal-hal yang bikin tai-tai ayam anget lagi.

Ini kelemahan saya yang paling dominan. Saya sadar dan lama-lama butuh sesuatu yang mampu “menggampar” a.k.a bikin syok biar makin nyata perubahannya.

Namun seseorang mengatakan bahwa untuk sebuah perubahan jangan biasakan nunggu tapi lakukan. Tidak butuh instruksi tapi inisiatif. Tidak hanya wacana tapi realisasi.

Hal ini membuat saya ingin berbagi tips denganmu…