Arsip untuk Nopember, 2006

Cerita Lama

Dikirim cerpen pada Nopember 27, 2006 oleh mew da vinci

Di depan kedai kopi bernama Kedai Subuh Mbok Jah duduk seorang nenek di dipan rotan, ia memakai jarik bermotif batik dan kebaya kain ungu polos. Rambut berubannya digelung. Ia tampak lusuh dan kotor. Raut wajahnya memancarkan kesedihan. Matanya menatap kosong lurus ke depan. Sesekali ia menghela nafas. Bunyi tokek dan ekor cicak menghantami dinding yang terbuat dari kulit bambu mengiringi sepi.
Kemudian seorang siswa SMP melewati kedai. Ia adalah Andhira, salah satu anggota FIDE (Federasi Catur Dunia). Ia kelelahan setelah berjalan sejauh 2 KM karena kalah dalam game yang ia buat bersama teman-teman satu sekolahnya. Rona wajahnya menyerupai tomat, bajunya basah bermandikan peluh. Saat itu ia merasa beruntung telah menemukan tempat untuk melepas lelah. Andhira menghampiri nenek yang sedang termangu itu.
“Maaf, Nek. Boleh minta segelas air?” Kata Andhira seusai memberi salam yang tak dijawab.
Nenek-nenek keriput itu hanya diam. Ia tak bergeming, larut dalam hening.
“Nenek, tolong secangkir kopinya.” Ulang Andhira dengan volume suara yang dikeraskan karena, dikiranya sang Nenek pasti sudah berkurang pendengarannya.
Nenek itu akhirnya menoleh. Tapi raut wajahnya menjadi lebih muram. Ia menatap sedih dan layu seakan berkata ‘tidak-kah-engkau-tahu-lara-di-hatiku-anak-muda’. Kemudian ia memberi isyarat melalui mata tuanya untuk ikut melihat apa yang tengah nenek renta itu pandangi. Andhira menoleh kebelakang, dan terkejut menemukan papan tua bercat putih yang telah usang tertancap di pintu pagar kayu bertuliskan:
“TELAH DIRAMPAS UNTUK NEGARA”
Ditolehnya kembali nenek itu, “maaf nek, saya tidak tahu,” ucap Andhira segan “permisi.”
Ia merasa tidak enak dan berniat pergi. Baru satu langkah ia menjejakkan kakinya, sang Nenek langsung terbatuk-batuk hingga terjatuh dari tempat duduk. Tentu saja hal itu membuat Andhira khawatir dan langsung berbalik membantu sang nenek duduk kembali.
“Terima kasih, Tuan…” ujar nenek itu masih terbatuk-batuk.
Andhira hanya tersenyum.
“Tuan, mampir lah ke kedai kumuh ini sejenak. Saya ingin bercerita tentang riwayat kedai ini.” pintanya.
Dengan kening yang dikerutkan dan senyum sedikit kecut, Andhira menuruti kehendak nenek itu. Ia pun duduk bersebelahan.
“Dulu, ini adalah kedai keluarga Saya, hanya bermodalkan secangkir kopi kami mulai merintisnya.” kata sang nenek seraya menatap kedua bola mata Andhira. Ia terdiam sejenak, kemudian ia melanjutkan nostalgianya.

#### FLASH BACK ####

Sebuah berita tentang kemasyuran Kopi Glegek yang diproduksi oleh Kedai Subuh Mbok Jah, dimuat di Tabloid Sedap Enak, salah satu tabloid kuliner.
Sekitar empat bulan pertama sejak kedai itu di buka, mereka sanggup meraup keuntungan sebesar 30 juta perbulan. Dan kedai itu menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan warung atau kedai-kedai sebelah. Hal itu sempat membuat Kedai Subuh Mbok Jah memiliki isu negatif.
Ada yang mengatakan bahwa Kedai Subuh Mbok Jah memakai pelet laris manis untuk menarik konsumen. Dan ada juga kabar yang beredar di kalangan para petinggi perusahaan bahwa kedai tersebut tak ada bedanya dengan warung remang-remang. Bahkan parahnya ada sekelompok orang yang percaya bahwa pemilik kedai membubuhkan ganja pada Kopi Glegeknya hingga, pihak kepolisian harus turun tangan dan sempat membuat Kedai Subuh Mbok Jah menurun pendapatannya. Tapi, desas-desus itu hanyalah sebuah bualan belaka.
Bulan demi bulan berganti dengan tahun. Kedai Subuh Mbok Jah makin mengembang. Namanya makin gemilang. Selalu terpampang di jalanan. Kadang ia muncul di iklan. Kadang ia diberitakan. Kebahagiaan pun kian melengkapi hidup Mbok Jah dan keluarganya. Kini hidupnya enak. Suaminya tak lagi membajak sawah orang. Kedua putri kembarnya sanggup bersekolah di tempat yang lebih berkualitas. Dan rasa syukurnya ia ungkapkan dengan mencoba berbagi.
Namun, kesenangan memang tak pernah abadi. Ngadiman, suami Mbok Jah, terkena batu ginjal. Mbok Jah dan putri-putri ayunya dengan telaten merawat Ngadiman hingga uangnya habis untuk biaya pengobatan. Tapi, penyakit ngadiman bertambah parah dan akhirnya meninggal. Si Bungsu pun menyusul kepergian ayahnya dalam selang waktu kira-kira 2 bulan akibat rasa rindu yang selalu membuatnya menangis. Bersamaan dengan itu Dian, putri sulung dari pasangan Mbok Jah dan Ngadiman, bersengketa dengan isteri pemilik Warung Pecel Lele.
“Pelacur! Beraninya kamu merusak rumah tangga orang!” labrak sang Isteri pemilik Warung Pecel Lele. Beragam kata-kata menyakitkan keluar dari lidah wanita itu, menggunakan bahasa sunda yang kasar.
Ia berkacak pinggang dan memelototkan matanya, seolah bola mata yang kini sedang bergerak-gerak cepat itu, akan menggelinding menghampiri Dian. Wajahnya menunjukkan kemurkaan. Dian menjadi gemetar. Baru kali ini Dian menerima makian. Hati kecilnya ingin melawannya, tapi tertahan oleh tubuh kakunya.
“Tapi, bu. Itu tidak benar. Saya tidak -” Dian mencoba membantah tapi kalimatnya terpotong oleh terjangan wanita kurus itu.
Jemarinya mencekik leher Dian. Kemudian ia mencakari wajah, tangan, dan dada Dian hingga bajunya robek. Dian mengerang kesakitan. Ia berteriak-teriak minta tolong tapi mulutnya dibekap. Lalu wanita itu berdiri dan menggeret kedua kaki Dian yang terbalut jarik menuju kali. Sengaja ia melewati bebatuan dan kerikil untuk melukai tubuh Dian. Dian meronta dan menangis tapi cengkraman wanita itu lebih kuat. Setibanya di kali, kerahnya ditarik kuat-kuat, dicengkram rahang dagu Dian yang berdarah. Kemudian dihempaskan tubuh mungil itu ke kali. Dan Dian pun tersungkur.
“Ini peringatan buatmu, perempuan jalang! Mendingan kamu pergi dari sini! Ajak juga makmu itu! Muak melihat tampang brengsekmu dan mamak kamu!” bentak wanita itu setelah ia melarungkan semua cucian Dian hingga hanyut terbawa arus. Dian menangis. Ia tak mengerti mengapa wanita itu tega berbuat hal sekasar ini padanya. Ia pun tak tahu tentang apa yang dikatakan isteri pemilik Warung Pecel Lele. Ia tak sanggup melawan karena badannya telah dilemahkan oleh amarah wanita itu. Akhirnya ia pulang tertatih-tatih dan Mbok Jah hanya mengelus dada seusai mendengar cerita Dian. Mereka hanya sanggup berlindung pada Tuhan dan berharap semoga peristiwa yang menimpa Dian tak lagi berulang.
Ternyata keinginan mereka bagai sebuah harapan kosong. Semenjak hari itu beragam serangan terus menerus menghujami kehidupan Mbok Jah dan Dian. Dan puncaknya Dian menjadi gila. Bila malam tiba, ia tertawa. Bila subuh datang, ia menangis. Dan sikap seperti keterbelakangan mental muncul sepanjang siang. Mbok Jah tak pernah letih mengurus anak gadisnya. Namun, perawan itu tak kunjung sembuh bahkan, ia tak lagi mengeluarkan ekspresi apa pun, Dian membisu sepanjang hari. Hal itu menyebabkan asumsi-asumsi masyarakat bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa Dian disantet seseorang agar menjadi gila. Ada juga yang bilang bahwa Dian telah menerima kutukan Tuhan akibat kelakuan tercelanya. Entah yang mana yang benar. Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. Hanya Mbok Jah yang bisa merasakan kepedihan sesungguhnya.

#### THE END OF FLASH BACK ####

Mbok Jah tua tak lagi sanggup melanjutkan cerita pedihnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Andhira berusaha menenangkan Mbok Jah yang sudah renta itu.
“Pergi kau! Saya tidak butuh belas kasihan Tuan!” usir nenek-nenek itu, “semua sudah terlambat! Tak lagi tertolong. Kemana kalian saat itu?!” lanjutnya terisak.
Andhira menegang dan bergidik. Walau pun yang dihadapannya hanyalah seorang wanita tua tapi entah mengapa ia merasa seperti ada aura hitam menyelimuti tempat itu. Aura yang mungkin akan menenggelamkan Andhira dan tak kan membiarkannya hidup. Ia merasa seolah nenek-nenek itu akan berubah menjadi raksasa atau apa lah itu yang bisa meremukkan tulang. Dengan degup jantung yang tak beraturan ia segera berlari meninggalkan tempat itu dan dalam hitungan detik ia telah menghilang dari pandangan sang Nenek.
Keesokan paginya mobil Andhira melewati jalan yang sama. Ia melihat reruntuhan bangunan di tepi jalan.
“Seperti tempat nenek-nenek yang kemarin” gumamnya, “To, to, tolong berhenti sebentar. Aku mau melihat reruntuhan bangunan itu.” titah Andhira pada Narto, supir keluarga Andhira.
Narto segera menepikan Xenia Cokelatnya. Andhira kembali mencermati bangunan yang telah menjadi bangkai. Kerangkanya masih berdiri tegak walau sedikit penyok dan gosong. Dipan tempat duduknya dan nenek itu telah patah. Pintu yang terbuat dari beberapa ikatan sabut kelapa, sudah setengahnya hangus dilahap api, tapi masih menempel pada tiangnya. Beberapa patahan-patahan kayu yang mungkin pernah menjadi kursi, meja, atau lemari kini beberapa telah berubah menjadi arang dan sisanya adalah sarang rayap, berserakan dimana-mana. Papan nama kedai itu hangus dibagian tepi, tergeletak di tanah. Pagar bambunya juga telah rubuh dan terjerat ilalang.
“Den, dulu ini adalah kedai kopi yang cukup populer. Tempatnya nyaman dan teduh” terang Narto sopan, “mantan-mantan bos Saya sering berkunjung kemari. Mereka rela mengantri pagi-pagi buta hanya agar bisa minum kopi spesial yang dijual di sini.” lanjutnya lagi.
“Kopi Glegek? Itu kan namanya?” tanya Andhira memastikan.
“Iya. Kalau boleh tahu Den Andhira pernah dengar dimana?” tanya Narto dengan kedua alis yang sengaja ditautkannya.
“Pernah dengar saja dari obrolan orang di jalan” Andhira berdusta, “ada apa?” tanyanya lagi.
“Tidak. Hanya setahu Saya, sekitar 7 tahun yang lalu kedai ini pernah dibantai habis-habisan oleh penjaja sekitar sini. Mereka menjarah kedai itu. Mengubur pemilik kedai hidup-hidup. Memperkosa anak gadisnya dan membakarnya bersama dengan kedai mereka. Entah apa masalahnya. Tapi yang jelas pemilik mau pun kedainya dimusuhi oleh para penjaja makanan yang dulu berada di sekitar sini.” Narto menjelaskan secara singkat.
“Lalu, aparat setempat masa’ diam saja?” Andhira mulai tertarik.
“Tidak tahu, den.” jawab Narto, “Yah, den Dhira. Tak banyak yang tahu soal ini, termasuk saya. Saya hanya mendengar kabarnya melalui surat kabar.” sambungnya lagi.
Andhira menjatuhkan punggungnya ke kursi. Tiba-tiba ia merasakan degup jantung yang sama seperti kemarin, ditambah lagi bulu kuduknya berdiri dan tengkuk yang mendingin. Ubun-ubunnya pun seperti sedang mengalirkan listrik ke akar-akar rambut. Otak kanannya mulai bermain, mengeluarkan beragam imajinasi yang mampu membuatnya menciut. Ulu hatinya terasa perih seperti sedang diiris-iris menyebabkan ia memiliki perasaan tak nyaman dan ingin berlari keluar.
“Narto, udah yuk! Nanti aku telat, sudah hampir jam 8.” ujar Andhira sedikit gugup.
“Iya.” sahut Narto sambil keheranan melihat majikannya berwajah pucat dan tegang.
Xenia itu pun mulai bergerak maju. Andhira melihat ke spion mobil, awalnya ia iseng saja ingin melihat mata supirnya. Namun, ia malah melihat nenek-nenek yang ia temui kemarin, berjalan mendekatinya, membawa sepotong papan bercat hijau tua dan kuning dengan warna yang sudah luntur dan pudar, didekap oleh kedua tangan keriputnya, dan terlihat sepotong kata bertuliskan: MBOK JAH.
Ia langsung berbalik, tapi tak seorang pun terlihat di jalan raya.

Hujan

Dikirim cerpen pada Nopember 23, 2006 oleh mew da vinci

Bogor sore ini hujan lebat. Angin bertiup kencang dan gelegar petir mampu membuat berdiri bulu kuduk. Beberapa pejalan kaki dan pengendara motor segera berteduh di tempat terdekat. Salah satunya adalah Deswita yang memilih halte bus, diapit dua gedung. Deswita merasa bahwa cuaca saat itu mendadak buruk. Ia menggigil hingga giginya yang putih kekuning-kuningan bergemeletakkan.
‘Sial!’ keluhnya dalam hati, ‘coba gue bawa jaket tadi. Kan gak sedingin ini.’ ia menghela nafas.
Mata Deswita berkeliaran menjelajah ke setiap sudut jalan raya. Samar-samar ia melihat Ford Ranger maroon melaju dengan kecepatan tinggi dari sebelah kanan sedang menuju ke arahnya. Dan…
BYURRRR…
Ford Ranger langsung melewatinya, menyapu genangan air hujan di jalan raya.
“Aargh!!” jeritnya sambil melindungi wajah dengan tangannya dan berusaha mundur tapi, ia tak sempat menghindar.
Deswita melihat kearah orang-orang yang berada disebelahnya. Ia terkejut, ternyata mereka telah berlindung di balik payung terkembang. Pandangannya terhenti pada seorang mahasiswa yang berumur sekitar 21 tahun, postur tubuhnya tegap dan berisi seperti atlet basket, kulitnya putih bersih, dan style kerennya membuat Deswita seperti tersihir hingga tak mampu berkedip. Cowok itu sedang setengah membungkuk melihat kearah sepatu kulitnya dan mengetuk-ngetukkannya ke lantai. Setelah itu, ia menengok ke belakang celananya dan mencoba menendang angin untuk mengeluarkan beberapa tetes air yang mengenai ujung celana.
“Cute banget…” kata Deswita spontan. Cowok itu menoleh ke sumber suara. Tampaknya, dia baru saja menyadari bahwa tingkahnya sedang diamati. Mereka kini bertatapan. Hanya saja, jika yang satu menatap bingung, yang satunya lagi alias Deswita menatap kagum. Bersamaan dengan itu, ia sedang bermain dengan khayalan noraknya. Deswita membayangkan dirinya terjebak dalam kisah cinta beauty and the beast Versi Deswita. Ia berlakon sebagai adalah the beast, di sihir oleh seorang penyihir menjadi putri buruk rupa. Sedangkan cowok di hadapannya adalah pangeran tampan dan gagah yang datang menyelamatkannya. Dan tentu sudah bisa di tebak kelanjutan ceritanya.
Kembali kekehidupan nyata, saat itu si cowok berdehem-dehem, awalnya Deswita tak bergeming tapi, lama kelamaan Deswita sadar dan keluar dari lamunan. Deswita menunduk sambil tersenyum malu-malu kucing dan melirik kearah jalan raya. Tak lama, ia kembali menatap cowok itu.
‘OMG! Dia masih ngeliatin gue…’ batin Deswita girang.
Cowok itu mengulum senyumnya. Kemudian mengarahkan tatapan matanya ke baju Deswita. Si Cewek menganggap itu sebuah isyarat untuk segera melihat keadaan bajunya. Ia sedikit membungkukkan bahunya, ‘Ach! Gila! Basah banget!’ katanya dalam hati sambil memelototkan matanya dan mulutnya menganga cukup lebar. Ia merasakan bagian belakangnya kering. Keningnya berkernyit dan kembali menatap cemas cowok tadi, berharap ia tidak berpikiran aneh tentang keadaan Deswita sekarang. Kemudian dilepasnya kacamata minus-silindris yang berbingkai coklat muda, dan di lap memakai tissue yang ia keluarkan dari saku celana. Deswita pun melirik lagi ke samping kiri, mencoba mencuri-curi pandang sang cowok. Tapi rupanya, dia sudah menghilang. Ia membalikkan badan berusaha mencari, pergi kemana kah gerangan?
Ketika tengah mencari pangerannya, tatapan mata Deswita berpapasan dengan tatapan seorang karyawati. Bagi gadis SMA kelas 3 itu, tatapan yang ia terima kini adalah sebuah tatapan yang tengah berkata: LOE-CULUN-AND-ANEH-BANGET-SIEH. Karena merasa terganggu maka, segera dipasangnya tatapan mata menantang. Perempuan itu segera melepaskan pandangannya dari wajah Deswita dan melihat ke arah selain bagian teritori Deswita berdiri.
‘Hih! Takut dia… Makanya, jaga tuh mata!’ pikirnya bangga.
Deswita segera membenarkan posisi berdirinya dan kembali menghadap ke jalan raya, ia telah lupa misi pertamanya untuk mencari sang pangeran halte bus.
Saat Deswita sedang memilin-milin rambut ikalnya. Seorang bapak-bapak menaiki motor yang membonceng seorang ibu-ibu berbadan besar dan padat lemak berhenti tepat di depannya. Jaket kulit coklat yang ia kenakan basah. Begitu pula dengan ibu-ibu itu, baju terusan putih bercorak bunga sakura telah basah diguyur hujan. Ibu-ibu itu turun dari motor yang ukurannya sama besar dengan ukuran tubuhnya. Tiba-tiba, sendal hak tinggi cokelat mudanya tergelincir dan tubuhnya menimpa tubuh Deswita. Tentu saja, Deswita tak mampu menahan gravitasi dari dua beban yang tak sama. Bayangkan saja, apa jadinya jika seekor belalang kejatuhan sapi?
“Aduh!” seru keduanya.
Orang-orang di sekitar situ kaget dan spontan memberi jarak dan beberapa diantaranya juga ikut berseru seperti “Eh!” atau “Eits!” atau “Ya ampun!” bahkan ada juga yang istighfar tapi tak satu pun dari mereka mengulurkan tangan.
Deswita saat itu seperti tertindih “bison” jutaan kali karena ibu-ibu itu kesulitan berdiri, bukan hanya karena berat badannya tapi juga tiap kali ia ingin berdiri sendal berhak 5 sentimeternya selalu tergelincir. Dan dengan bantuan sang suami, ibu-ibu paruh baya itu berhasil berdiri tegap. Hanya Deswita yang masih tergeletak. Deswita memandang geram kerumunan orang di kanan, kiri, depan dan belakangnya.
‘Dasar! Cuma diplototin!’ gerutunya dalam hati.
“Bantuin dong!” akhirnya terucap juga kekesalan hati Deswita.
Suami dari Ibu-ibu yang terjatuh tadi datang menolong. Setelah Deswita berdiri ia melihat kaus dan celana jeansnya untuk yang kedua kalinya.
“Yaah, tambah basah deh..” ucap Deswita kesal.
“Eee.. Maaf ya, Neng!” kata sepasang suami-isteri itu sambil cengar-cengir.
“Iya!” jawabnya dengan nada tinggi sehingga, suara cemprengnya menjadi lebih cempreng lagi.
Kira-kira setelah 20 menit berlalu, hujan pun mulai mereda. Deswita segera meninggalkan halte bus itu, begitu pula dengan beberapa peneduh yang lainnya. Kemudian bis jurusan Bogor-Depok yang di tunggu Deswita datang. Ia segera naik dan mencari tempat duduk yang kosong. Karena terlalu lelah ia pun ketiduran. Tapi sesampainya di kawasan Depok. Ia sama sekali tak menduga bahwa jalanan begitu kering! Kering kelontang, tanpa adanya bekas satu tetes air hujan pun!

cermin

Dikirim puisi pada Nopember 19, 2006 oleh mew da vinci

aku tak melihat bayanganku di cermin