Arsip untuk Februari, 2007

Lembayung Singgah Di Mendung

Dikirim cerpen pada Februari 19, 2007 oleh mew da vinci

Aku hilang dalam diam.
Terkungkung dalam kesendirian.
Semua lenyap saat senyap.
Hitam yang tampak jika gelap.

Saban hari aku duduk di kursi roda. Ditemani Si Geni, burung beoku, yang entah bagaimana rupanya. Ibuku bilang, ia burung ‘luar biasa’. Matanya hitam kemerah-merahan. Punya dua bulatan hijau di dekat matanya seperti pakai kacamata. Bulunya merah menyala. Si Geni tidak makan biji-bijian, tak tahu apa, ibu tak bilang. Pandai berbahasa layaknya sarjana. Aku percaya tidak percaya mendengarnya sehingga aku selalu bertanya pada Ibu kalau ada, seperti apa rupa Geni sekarang? Bagaimana kesehatannya? Apa sudah diberi makan? Apa makannya lahap? Geni sudah dimandikan? Sedang apa dia sekarang? Dan ibuku selalu menjawab dengan kata-kata yang sama. Sampai aku hafal di luar kepala.
Aku dan Geni sudah tak bisa dipisahkan lagi. Kami selalu saling mengisi dan berbagi. Kalau ada Geni, aku seperti lupa bahwa aku buta. Ia banyak bercerita tentang senja. Katanya, kelembutan awan akan datang kalau matahari akan terbenam. Warnanya yang hangat, kadang berbaur dengan kelabu. “Kelabu itu seperti saat Tuan sedih.” itu yang selalu dikatakan Geni setiap sore. Atau, ketika hujan sore-sore, Geni akan bilang, “langit menangis, Tuan. Mungkin tak kan ada sinar temaram malam ini.” Kalau ada Geni, aku seperti lupa akan duka lara. Ia tak pernah bosan mendengarkan keluh kesahku. Lelucon-leluconnya tak pernah bosan kudengar walau selalu diulang-ulang.
Ah, Geni. Mengapa kau masih saja melajang? Tidak kah kau tertarik pada betina di luar sana? Pertanyaan semacam itu kadang terlontar begitu saja. Lantaran aku ingin dia merasakan indahnya berkeluarga. Dan ia selalu mengatakan, sulit mencari betina yang senang melihat senja, urusan perut saja yang mereka pikirkan. Dan aku pun selalu tertawa dibuatnya. Sungguh konyol mendengar jawaban macam itu. Hewan macam apa dia, hingga mampu berpikir sejauh itu. Aku dulu sempat menikah dengan janda tanpa anak. Ternyata panggilan Tuhan begitu cepat dan tak bisa kucegah. Tiga bulan kemudian, ia pergi mendahului membawa serta jabang bayi kami. Sedihnya bukan main, tapi aku tak mau terlarut begitu lama karena bisa memberatkannya.
Kali ini, aku benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengan beo kesayanganku. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya. Terlalu cepat waktu berlalu, hingga aku tidak bisa mendengar banyak hal darinya. “Pagi, Geni.” sapaku pada beo. Aku mengira dia ada dalam sangkar. Tapi kali ini tidak ada jawaban “Apa tidurmu nyenyak semalam?” tanyaku. Masih tak ada sahutan. Kurasa pertanyaan ini mulai membosankan untuknya. “Geni,” kataku sambil meraba-raba untuk menggapai sangkarnya “kamu, kok, kayaknya sibuk banget? Sampai nyuekin aku.” aku tertawa kecil. Tapi, Geni tidak ada! Geni hilang! Aku kalang kabut setengah mati. “Mana Geni?” tanyaku pada ibu. Ibuku diam. “Geni mana, bu?” sekali lagi aku bertanya, tapi ibu tetap tidak menyahut. Aku tahu beliau ada dan mendengar pertanyaanku. Suara sapu lidi sengaja dikeraskannya agar tampak sibuk. Ingin marah rasanya tapi tak bisa.”Geni…?” aku memanggil dengan harap-harap cemas. Aku hilang arah. Tak tahu harus kemana. “Geni…?” beo kesayanganku itu terus kupanggili. Kenapa Geni tak menyahut? Kemana kamu?
“Diam! Tak perlu lagi kau panggil beo burukmu itu. Bosan melihatmu tiap hari bersamanya,” suaranya parau “maka ibu buang dia ke luar. Berhenti mencarinya, nak! Geni sudah pergi. Dia tak kan kembali lagi.” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut ibu. Aku terhenyak. Hanya bisa diam membisu. Tak kusangka jalinan pertemananku dengan Geni membuat ibu cemburu. Sebenarnya, aku tidak bermaksud menomor duakannya walau aku selalu bersama Geni.
Tak kuhiraukan kata-kata ibu. Kuputar kursi rodaku ke tempat Geni biasa ditaruh kala malam. Tanganku melambai-lambai ke atas berusaha menggapai sangkarnya sambil memanggili namanya. Mungkin sangkarnya masih digantung ibu dan Geni masih ada di situ. Harapanku ternyata sia-sia, hanya tempat kosong yang kudapat. Aku tersungkur akibat terlalu memaksa untuk mencoba berdiri dari kursi rodaku. Kepalaku terantuk sesuatu yang keras hingga menimbulkan bunyi. Rasanya ada sesuatu yang hangat mengalir didahiku. Baunya anyir. Aku pusing. Kudengar langkah kaki ibu yang bergegas ke arahku. Ia menjerit lalu berteriak minta tolong. Aku berusaha duduk tapi tak ada daya.
Sayup-sayup aku seperti mendengar Geni memanggil-manggil namaku dari kejauhan. “Geni!” sahutku. Sepertinya, ia terbang ke arahku, kepakannya yang keras makin terdengar jelas. Aku merasa kini ia telah bertengger dibahuku.
“Geni, akhirnya kamu pulang.” aku tersenyum. Bangga mempunyai hewan
peliharaan sesetia dia. “Ibu. Geni pulang, bu! Lihat! Geni tidak seperti yang ibu kira.” kataku girang.
“Mana Geni, nak? Dimana dia?” tanyanya. Aku tak paham maksudnya. Kemudian kudengar ibu terisak pelan. Ia memelukku lembut. Kali ini sesuatu yang hangat menetes di pipiku. Kalau kita menangis, maka air mata akan bercerita lebih banyak dari kata-kata. Itu yang dulu Geni katakan. Ah, baru kali ini aku mengalaminya. Tapi bukan keluar dari mataku. Ini milik ibu. Entah kenapa, hatiku ikut perih, seperti diiris. Tenggorokanku tersumbat. Kantung mataku sesesak dadaku. Mungkin mau menangis dan meneteskan air mata, seperti ibu. Aku berusaha menahannya, agar ibu tidak melihatku menangis.
“Ibu, ada apa? Geni ada di sampingku sekarang. Aku senang karena ia sudah pulang, bu.” kataku lirih. Ia tak menjawab. Sejak dulu, ibu jarang menjawab pertanyaanku, kami jarang mengobrol. Karena itu pula, ia membelikan aku Si Geni sebagai teman bicaraku. Paling tidak, aku mengerti bahwa ibu ingin mendengarku bercerita walau hanya tentang Geni. Ibu selalu mengatakan bahwa Geni sudah beres diurusnya hingga aku tak perlu cemas lagi. Aku tahu ibu selalu berusaha menyenangkan hatiku. Aku tidak banyak mengerti tentang ibu. Aku berharap ibu tahu bahwa aku lebih menyayangi dan membutuhkannya melebihi Si Geni.
Cakar Si Geni mencengkeram pergelangan tanganku. Mungkin ia ingin aku ikut untuk menikmati keindahan lembayung di ufuk sana, seperti yang pernah dia janjikan. “Ibu, aku dan Geni akan pergi sebentar untuk melihat senja. Tolong papah aku menuju kursiku, bu.” aku tersenyum padanya. Tapi ibu justru makin erat memelukku dan tangisannya kian menyayat. “Jangan pergi, nak! Jangan tinggalkan ibu sendiri, nak! Jangan!” Entah apa maksudnya. Aku tak ingin bertanya lagi, karena aku tahu, tak akan ada jawaban. “Cuma sebentar, bu. Aku dan Geni pasti kembali. Aku pun, ingin melepas lelah sejenak. Seharian aku mencari dan menunggu Geni.” pintaku. Beliau tak mengijinkan. Ibu berjanji akan selalu menemaniku menikmati senja dan bersedia menggantikan, asalkan aku mau mengurungkan niat untuk pergi bersama Geni. Aku terdiam sejenak, hatiku bergejolak.
Akhirnya kupilih ibu. Kukibas-kibaskan tanganku dan Geni pun mengendurkan cengkramannya, kurasa ia mengerti maksudku, lalu terbang pergi menjauh. “Aku sayang ibu.” bisikku. Kubalas rangkulannya. Ibu masih saja terisak. Kurasa ia terharu.
Setiap sore, ibu membawaku ke teras. Beliau banyak bercerita layaknya Geni. Perlahan aku mulai memahaminya, membaca hidupnya. Sesekali kulontarkan lelucon-lelucon yang pernah kudengar dari Geni sehingga kami tertawa bersama. Ada hangat di sudut hatiku kala ibu tertawa.

Aku yang dulu hilang
Kembali sudah membawa tentengan
Tapi bukan kelam sekeranjang
Oleh-olehku adalah harapan.

Akhir Cerita Pendek (Elegi Laut)

Dikirim cerpen pada Februari 19, 2007 oleh mew da vinci

Rumahku sepi. Hanya ada aku di rumah tingkat dua ini. Sudah seminggu lebih, papa dan mama pergi keluar kota untuk menengok keadaan cucu mereka. Kangen rasanya. Tapi setengah rasa kangenku ternyata kutujukan pada Raka, mantan pacarku. Kami baru putus sekitar dua minggu yang lalu. Kulirik jam dinding yang tergantung di sebelahku. Sudah jam satu pagi, gumamku. TV di ruang keluarga sengaja kunyalakan agar rumah tak terlalu sepi, walaupun semua siaran tidak menarik lagi bagiku. Sejak jam sembilan malam, aku belum juga beranjak dari kursi malas papa. Konsentrasi membacaku terganggu akibat melamunkan Raka. Mengingat-ingat pertemuan pertama kami di Banana Cafe. Dulu, aku tak sengaja menumpahkan secangkir kopi panas ke kaosnya :
“Eh, maaf ya. Gak sengaja…” kataku panik.
“Aw! Panas. Panas. Gimana sieh! Lihat-lihat dong, kalau jalan! Kamu pikir minumanmu itu dingin apa?!” cowok itu terus saja mengomeli aku yang berusaha mengeringkan kaosnya. Tadinya tissue-tissue ditempelkan untuk menyerap tumpahan kopi tapi karena kupikir akan memakan waktu maka langsung kutarik bagian baju yang basah lalu kuperas seperti pakaian siap jemur. Baru sekali peras, tanganku sudah ditepisnya, “Ah! Punya otak gak sieh! Kusut dong…! Aku mau nge-date sama pacarku!” keluhnya.
“Maaf, maaf.. Maaf ya?” nada tingginya membuatku makin bingung dan merasa bersalah.
“Ah! Ini date pertama dan kamu malah ngerusak semuanya! Dasar otak udang! Mata ayam!” bentaknya lagi. Dia terus memaki-maki seenak perutnya tanpa mempedulikan perasaanku.
Spontan aku menampar lalu mendorongnya. Cowok itu tercengang melihat perubahan reaksi lawan bicaranya. “Aku bukan kacung yang bisa dibentak-bentak! Emang kamu siapa?!” aku ikut meluapkan kekesalan hatiku.
“Lho, bukannya minta maaf! Cih! Urat malunya udah putus ya, non?” balasnya. Wajahnya mengecut. Kalau saja pegawai di Banana Cafe tidak memisahkan kami, mungkin saja saat itu kami masih saling bersilat lidah dan menjadi tontonan pengunjung. Ah, sial..
Lamunanku terpotong oleh tawaku sendiri. Aku geli kalau ingat dulu. Yah, memang cukup menyebalkan juga kesan pertamanya bahkan dulu aku sempat berharap acara Raka dan mantan pacarnya betul-betul hancur, aku berharap ia melakukan kesalahan hingga pacarnya memakinya seperti ia memaki aku atau mungkin menamparnya, ban mobilnya bocor atau mogok di tengah jalan, dipalak preman, terjebak macet, compact discnya rusak, dan lain-lain. Hufs.. Saat itu, aku benar-benar berharap ia mengalami kesialan sepanjang malam. Hey, apa aku ini jahat sampai make a wish seperti itu? Pikirku sambil terkekeh. Kemudian aku kembali terdiam. Hatiku memandang ke hamparan bintang. Berharap kisah antara aku dan Raka berulang.
“Raka, lagi ngapain kamu ya?” tak terasa aku bergumam. Hatiku kembali perih. Aku menunduk lesu ke arah buku autobiografi Paris Hilton bersampul biru, masih kupangku dan halamannya belum begeser. Sudah dua minggu lebih sejak kami putus Raka belum menghubungiku. Aku mencoba meng-sms dan menelpon tapi belum ada jawaban. Itu membuatku lelah. Ku pejamkan mata, menikmati empuknya bantalan di kursi malas yang bergoyang ke depan dan belakang bagai serasa ditimang, dedaunan yang bergesek akibat tertiup angin membuaiku hingga aku tak menghiraukan nyamuk-nyamuk yang bersliweran lalu menggigiti kakiku.
Kudengar telepon rumah berdering. Aku terbangun. Langit masih hitam kelabu, bintang mulai meredup, mungkin tertutup awan tapi berandaku tak gelap karena lampu masih berpijar terang. Susah payah ku beranjak dari kursi goyang. Ku percepat langkah karena penelpon tampak tak sabar menunggu sahutan ‘Halo’ku.
“Halo?” sapaku.
Tak ada jawaban, yang terdengar hanya isak tangis seorang perempuan di seberang sana. Aku diam sambil mencoba membaca situasi. Sudah hampir dua menit gagang telepon menempel di kuping. Sebenarnya aku malas tapi merasa iba juga. Malas menunggu seseorang yang mungkin hanya memintaku mendengarkan tangisannya. Mengganggu saja! Pikirku. Yah, menangis sendirian itu kurasa memang tidak enak, kadang butuh teman berbagi. Lagi-lagi aku teringat Raka. Kadang aku ingin selalu tertawa bersama, atau sekedar bersandar didadanya untuk melepas kesedihanku. Tapi semua itu hanya keinginanku semata. Aku lebih banyak diam, membawa suka dan dukaku sendirian. Pernah ketika itu, aku menelepon Raka tengah malam :
“Hai..” suara Raka terdengar serak.
“Aku kangen kamu.” kataku tanpa basa-basi. Raka hanya tertawa pendek lalu mendengus.
“Ada apa sieh, sayang?” tanyanya lembut. “Tumben kamu nelpon jam segini. Biasanya kamu selalu marah-marah kalau aku telpon malem-malem atau minta ditelpon,” sambungnya lagi. Aku hanya mengomentari dengan tertawa. “aku masih inget kamu bilang ‘pokoknya, aku gak mau kita telpon-telponan jam segini lagi. Ini kan waktunya tidur, bukan buat ngobrol. Udah, tidur sana!’.” katanya sambil menirukan gaya bicaraku.
“Iya, deh, maaf.. Aku kan kangen kamu. Masa’ orang kangen gak boleh nelpon sieh..?” aku merajuk sambil terkekeh. Malu juga dengan ucapanku. “Ya udah, kamu tidur lagi ya? Aku cuma kangen kok jadi pengen denger suaramu aja. Makasih ya, sayang. Udah mau angkat telponku.” aku berdusta.
“Iyah, gak apa-apa.. Kamu juga tidur. Kan aku gak mau kamu ikutan sakit. Bye.” itulah kata-kata terakhirnya.
Mengingat itu, aku jadi bertanya-tanya, dia tahu gak ya, kalau aku lagi sedih saat itu? Apa dia memang sayang sama aku? Apa dia pernah mikirin aku? Kalau dia bilang kangen, itu serius gak sieh?
Tiba-tiba terdengar sahutan dari orang yang menelponku.
“Refa, ini Tante Mita. Redha kecelakaan.” perempuan itu membuyarkan lamunanku dan melanjutkan kalimatnya, “Dia sekarang di RS Fatmawati. Tante..” ada jeda. “Tante sama sekali gak tahu harus menghubungi siapa. Tante benar-benar akan sendiri kalau terjadi apa-apa sama Redha.” tangisnya kembali meledak. Aku berusaha menenangkan dengan mengatakan bahwa, aku segera menyusul ke sana, kami janji bertemu di pintu utama rumah sakit. Aku bergegas menuju garasi dan tancap gas. Tak sempat ganti baju. Tak sempat gosok gigi.
Mungkin aku tak kan bersikap seperti ini kalau saja tak mengingat Redha adalah saudara kembarku. Kami seharusnya tinggal serumah kalau saja Tante Mita, adik mama, yang broken home dua puluh tahun silam tidak meminta Redha untuk diadopsi. Entah apa yang dipikirkan orang tua kami saat itu. Tentu saja Redha hanya bisa menangis dan menjerit saat berpisah dengan ayah dan bundanya, begitu pula aku, karena saat itu kami masih berusia tujuh bulan. Tapi yang jelas, di bawah asuhan Tante Mita, Redha tampak mempunyai masa depan yang lebih cemerlang dibanding aku. Ia selalu juara kelas, jago olahraga, pintar bermusik, daya ingatnya kuat, dan ia cukup banyak menyumbangkan piagam-piagam emas dan perak hasil Olympiade Fisika, Matematika, dan Sastra. Dan di bawah asuhan Tante Mita juga, Redha tumbuh menjadi anak yang bandel, manja, narsis, dan kritis. Oleh karena itu, aku tidak heran kalau Redha lebih menyayangi tante daripada mama, ibu yang melahirkannya. Aku tidak terkejut kalau Redha memiliki pola hidup yang glamour dan metropolis dibanding teman-temannya, sepupu, termasuk aku. Pernah iri, memang. Tapi, buat apa? Aku sangat menikmati kehidupanku bersama papa, mama, dan kakak laki-lakiku.
Akhirnya aku sampai di gerbang RS Fatmawati. Terlihat dari kejauhan Tante Mita duduk dengan wajah tertunduk di bangku depan. Aku memarkir mobil dan menghampirinya.
“Refa, sayang.” ia berdiri menyambutku, wajahnya pucat. Bibirnya terlihat komat-kamit. Kukira dia sedang mendoakan Redha.
“Redha kenapa?” aku tahu kalimatku salah, karena aku tak tahu bagaimana harus bertanya. Tapi, aku yakin tante mengerti arah pertanyaanku.
“Dia kecelakaaan saat balap motor. Tante sudah menduga bahwa suatu saat ini akan terjadi tapi Redha selalu bilang kalau ia akan baik-baik saja. Tante takut kehilagan Redha. Kata dokter, ia mengalami pendarahan hebat di bagian kepala dan tulang tangan kirinya patah, ada kemungkinan ia mengalami gegar otak yang cukup parah.” kali ini akulah yang menangis. Air mataku menderas begitu saja.
Aku teringat, pertengahan tahun lalu, Raka juga pernah mengalami hal serupa. Kecelakaan lalu lintas yang nyaris merenggut nyawanya. Waktu itu adalah malam ulang tahunku dan hari jadi kami selama setahun. Ia dan keluarganya baru pulang dari Malaysia :
“Ayank,” ocehku di telpon “kamu kok malah ngebatalin janji sieh? Semudah itu kamu bilang gak jadi. Padahal, aku udah nyiapin semua ini buat kamu! Gak nyangka kamu bisa kayak gini. Kalau emang gak bisa harusnya kamu bilang sebelum pergi ke Malaysia. Ugh! Capek.”
“Maaf, sayang. Aku juga gak tahu kalau jadwal kepulanganku bakal terlambat. Aku beneran capek banget nieh.. Ngertiin aku ya?” ia memohon. Aku diam, coba meredam emosi.
“Trus..” emosiku membuat jeda. “Ah! Mau dateng atau enggak, terserah!” telepon kuputus. Aku membanting gelas yang kutenteng-tenteng sedari tadi. Ponselku berdering. Raka menelpon tapi tak kuangkat. Ia menelpon lagi, lagi, dan lagi.
“Apa?” bentakku. Akhirnya telpon dari Raka kuangkat juga tapi enggan menyambut dengan beramah-tamah.
“Ya udah, aku ke sana sekarang. Gak bisa ngertiin perasaan orang. Udah puas, selfish?”
Tak lama setelah itu dia mengalami kecelakaan saat menuju rumahku. Itu semua gara-gara aku. Apa aku memang seegois itu?
***
Malam ini aku sedang dalam perjalanan pulang naik bus. Untunglah, operasi Redha berjalan lancar. Sudah tiga hari ia terbaring di kamar pasien, masih belum sadarkan diri. Aku dan tante bergantian menjaganya. Kalau lelah, bisa tidur di sofa. Untuk makan dan minum, kami biasa beli di kantin atau pada penjaja di warung-warung tenda. Kalau saja bukan karena Tante Mita yang minta, aku tak tega meninggalkan mereka. Semoga mereka diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Mobil, sengaja kutinggal di rumah sakit. Aku tak mau berkendara dalam kegalauan. Biar kusuruh supirku mengambilnya. Di sini suasana cukup renggang. Yang terdengar hanya teriakan-teriakan kenek bus memanggili penumpang. Kadang ada juga pengamen yang melantunkan lagu berirama merdu atau sekedar menggenjrang-genjreng gitar falsnya. Lalu lalang kendaraan di luar sana, tak kupedulikan. Berkali-kali kulihat kepulan asap hitam mendempeti jendela, mencari lubang angin untuk masuk. Seperti itukah mendung dihatiku?
Terus terang, aku masih ingin mengingat-ingat Raka. Parasnya, lesung pipit disenyumnya, suaranya, dan semua tentang aku dan dia.
Dulu, aku bagai mengukir pada pualam, kulilitkan serangkai edelweis dan diberi wewangian laut. Berharap namaku dan Raka sesegar mekaran bunga, usai semua pencarian, cukup padanya kutambatkan cinta ini.
Tak henti-hentinya jemariku merajut kata walau semua kertas yang kupunya tak mampu lagi menyediakan ruang kosong.
Ketika malam menjemput, kantuk merasuk, aku selalu menyempatkan diri untuk berharap agar Rakaku kan jelang pagi dengan membagi senyum segar padaku. Kupanjatkan doa pada Sang Kuasa agar hatiku terus berlabuh padanya.
Namun, akhirnya aku mengerti, semua sia-sia. Gumpalan awan hitam berarak menyusulku, membawa badai dan kabut yang kan padamkan api cinta kami. Maka, ini lah saatnya untuk kembali memberi titik pada kisah kasih syahdu.
Kini, layar kembali terkembang. Kususuri lagi lautan. Menikmati deburan ombak yang menghantam karang dan desiran angin, dalam kesendirian. Membawa sejuta kenangan. Jalinan cinta tak bernama.
Biarlah kisah kami jadi dua puisi, bersanding bersama ringainya. Terbang bebas diawan. Biar semua berlalu. Oh, angin, laut, hantarkan aku ke pulau seribu. Oh, mentari, hangatkan aku yang mulai beku.