Perlu kah Pelajaran Pancasila Dan Agama?
GARA-GARA seorang anak sekolah dasar mengomel ke saya karena nilai pancasila dan agamanya kurang bagus, jadi timbul pertanyaan, pelajaran pancasila dan agama itu perlu masuk kurikulum sekolah gak sieh? Kalau saya tanya orang, mungkin ada yang jawab perlu, bagaimana Indonesia bisa maju kalau pendidikan moral dan pembangunan iman dihapus. Kalau saya tanya kepada Pak Kyai jawabannya juga perlu karena bila tidak ada itu namanya pembodohan, pengkafiran, banyak orang yang akan tersesat karena lemahnya iman yang bisa membentengi diri dari hal-hal yang dilarang agama. Mereka akan terancam masuk penjara dunia dan akhirat. Diadili. Diminta pertanggungjawabannya. Istighfar, nak! Namun, ada juga yang lain, yaitu tidak! Ngapain belajar agama dan pancasila di sekolah. Buang-buang waktu to? Wong belajar-gak belajar pun gak ada faedahnya. Tuh, lihat anak saya! Beda banget sama anak tetangga. Anak saya walau diceceri pelajaran aqidah dan moral, ya tetap saja malas, manja, kasar dan (maaf) goblok. Gimana bisa ngurus negara, jadi pemimpin, punya karier selangit kalau ngimpinya juga selangit. Ngurus dirinya sendiri saja sudah ngos-ngosan apa lagi ngurus tuanya saya?
Saya yang mendapat jawaban semacam itu hanya bisa manggut-manggut. Bisa jadi saya setuju, bisa juga tidak. Malah, tidak menutup kemungkinan saya blas (baca: benar-benar) tidak mengerti. Tolong dimengerti, saya ini cara berpikirnya masih primitif, pendek, sempit, belum sampai (baca: paham) kalau diajak ngobrol soal negara.
Wong cilik seperti saya ini bisanya ikut-ikutan.
Tahun lalu ada yang bilang reformasi, saya juga mbatin reformasi. Sekarang diteriaki demokrasi, ikut juga meneriaki demokrasi. Bisa jadi kalau nanti akan ada yang teriak-teriak sampai batuk darah soal demokrasi-liberal-kapitalisme pun saya juga sama. Artinya apa, ya saya tidak tahu, pokoknya nancep di hati, mak slup (baca: tembus), ya sudah cukup untuk ikut-ikutan teriak sambil ngibar-ngibar panji. Dari situ biasanya saya dapat kepuasan lahir dan batin. Lahir, karena saya bisa tidur nyenyak diatas uang segepok yang ditindih bantal. Batin, karena banyak yang mengelu-elukan, manggil-manggil dengan sebutan jenganten dan lainnya.
Apa kaitannya dengan masalah pelajaran pancasila dan agama di sekolah?
Tentu ada. Zaman sekarang ini, gak cuma para priyayi yang bisa punya sifat licin. Saya wong cilik juga harus punya. Orang lugu dan polos itu nanti cuma bisa dibodoh-bodohi. Ditipu!
Jadi, tidak perlu belajar pancasila. Walau kata orang: Moral yang baik berawal dari pendidikan yang bagus. Oalah, apa masa iya? Moral sama dengan sadar diri atau moral sama dengan hapalan? Moral saya itu ya cuma di buku-buku catatan saja. Seperti, buang sampah harus pada tempatnya. Jaga kebersihan lingkungan. Gotong royong membersihkan selokan dan kali-kali dari sampah. Nyatanya, tiap saya makan dan minum di jalan, buangnya juga di jalanan. Kalau ada yang menegur, tinggal sahuti: Males ah, jauh banget tong sampahnya lagian cuma makan permen saja kok musti capek-capek nyeberang jalan buat buang bungkus permen.
Simple kan jawaban saya?
Atau pelajaran lain: Bantulah lansia atau orang cacat untuk menyeberang jalan.
Walah, kok repot-repot to, mas? Menolong diri sendiri saja susah. Tadi saya nyeberang jalan saja sudah susahnya bukan main, kok mau balik lagi cuma buat nolong kakek-kakek, lagian pas buru-buru, mau arisan.
Nah, itu baru pelajaran pancasila yang 65% banyak dikaitkan dengan moral bangsa. Bagaimana dengan pelajaran agama yang dielu-elukan pakar agama sebagai penunjang kesuksesan dunia dan akhirat?
Di sekolah saya belajar pemahaman tentang hari kiamat, beriman kepada Tuhan, dosa dan tidaknya perbuatan. Tapi begitu buku ditutup, plek! Bubar jalan. Bohong lagi sama teman, pacar, guru, kakak, adik, orang tua, pembantu bahkan pengemis, nyontek saat ulangan, ngutil di swalayan. Saya tetap acuh walau yang namanya ulama, pendeta, biksu bahkan pemerintah ikut-ikutan menuding saya sebagai sumber kotoran, saya tenang-tenang saja. Toh, banyak yang bersedia menjilati kaki bau saya.
Walaupun begitu, jangan sekali-sekali engkau sok moralis di depan saya dengan pertanyaan: apa kamu tidak diajari begini-begitu di sekolah?
Bisa saja saya jawab: Tentu diajari, saya pun ngerti 100% apa akibat dari kelakuan saya. Dan bisakah tidak hanya menyalahkan saya? Karena guru-guru di sekolah saya hanya senang melihat muridnya dapat nilai A. Mudahnya, kalau nilai agama dan pancasila engkau di sekolah dapat nilai 100 maka engkau dianggap nasionalis, moralis dan agamis.
Asik kan? Jadi jagoan teori.
Jadi, bagaimana dengan anda sendiri?
Desember 29, 2007 pada 11:56 pm
Assalamu’alaikum wr. wb.
lutfi :”TIdak ada yang mengajari saya tentang iman, taqwa dan moral”
karena apa kamu berfikir belajar agama dan moral hanya :
“Moral saya itu ya cuma di buku-buku catatan saja. Seperti, buang sampah harus pada tempatnya. Jaga kebersihan lingkungan. Gotong royong membersihkan selokan dan kali-kali dari sampah.”
bukan untuk nilai hati yang di-Ridoi.
Sebetulnya kamu bisa mendapat pembimbing or teman yang bisa diajak share untuk saling berbagi bukan untuk mengajari atau bahkan mengatur diri. karena agama bukan ilmu hapalan maupun mengejar nilai tapi terapan untuk menuju kehidupan akhirat.
Seseorang akan berfikir seperti kamu, sebab apa. Karena ia beragama hanya menurut akalnya saja tanpa didasari ilmu agama yang syar’i sesuai tuntunan nabi Muhammad SAW. dan perlu diingat agama 100% untuk mendapat moral yang baik dan nilai tertinggi yaitu IKHLAS. Dari kesemuanya itu tidak lepas dari pengawasan seorang yang benar-benar memiliki pemahamn agama yang syar’i.
Dan kebenaran dan HIDAYAH bukan datangnya dari seorang yang ALIM,USTADZ,KYAI, ataupun para ULAMA, tapi kebenaran datang MUTLAK dari ALLAH SWT dan ke-inginan diri untuk mendekat kepada-Nya dengan diiringi keyakinan yang kuat.
Dan atas izin-Nya kebenaran maupun hidayah bisa saja melalui :
- orang GILA : ” Eh, kamu sudah Shalat belum? Nanti kalau tidak shalat masuk neraka loh ? ”
- Preman : ” salah lu sendiri ga jaga kehormatan !” *
* disini diartikan bahwa seorang wanita muslim wajib menjaga kehoramatannya dengan menjalankan apa yang diperintahkan nabi Muhammad SAW yang di terangkan oleh Allah SWT melalui Q.S. Al Ahzab.
itu salah satu saja. Tapi yang ditekankan disini yaitu nilai apa yang terkandung dari kata-katanya, bukan dilihat siapa yang mengucapkannya.
Kembali ke nilai IKHLAS. Nilai IKHLAS ini dikembalikan lagi hanya tertuju kepada Allah SWT dan sesuai sunnah nabi Muhammad SAW.
——————————————————————-
muangkin itu saja.
aku bukan orang ALIM,USTADZ n apalah yang dikatakan banyak ilmu agamanya. tapi aku hanya pencari kebenaran diatas kebenaran.
Wassalam.
Desember 30, 2007 pada 5:24 pm
Rupanya memang ada yang salah dengan masyarakat kita. Entah sistem pendidikannya yang compang-camping. Entah budaya hukumnya yang carut-marut. Atau juga keteladanan para pemimpinnya yang berantakan.
Desember 30, 2007 pada 7:59 pm
@ zeromind
astagfirullah….
begitukah?
@ sayur asem
saya juga mempertanyakan hal itu mas say tapi semoga aja perubahan bisa cepat dirasakan ya.. karena selama saya hidup ini saya melihat begitu banyak yang bermasalah…
Desember 30, 2007 pada 8:31 pm
Duh….topik na abot euyy…Gw dah tahunan gk skul…Mana skrg lagi liburan,bukan masa skul….Hehehe
Okey…dikit aja ngomongna,ntar dikira tkng obat lagee
Gw mah setuju2 aja kok diadain pendidikan Pancasila & Agama wlopun hsl na kurang mengena….aplg dasarna adalah untuk pembelanjaran akhlak yg baek…seenggak na org bisa tau mana yg benar ato salah…Kunci berhsl tidakna akhlak yg baek tergantung dr pribadi org na
Gw lebih suka manaje qalbu diri sendiri lbh dulu spy siap dengan apa2 yg ada di masyarakat qta….qta mw jadi apa nanti itu pilihan idup seseorg…gk perlu berbicara soal politik ato blabla dulu..
Gitu aja de…
Met taun baru yak…Smoga thn 2008 mjd thn berkah lbh & thn yg lbh baek dr thn2 sbl na…Amin
Peace…!!!
Desember 30, 2007 pada 8:59 pm
@ ndon
nah, itu dia bang, manajemen qalbu itu mungkin solusi kedua. atau mungkin pelajaran itu tetap diadakan tapi ujiannya dihilangkan ya?
Desember 30, 2007 pada 9:11 pm
Yee…mw na gk ada ujian de…Emang suka bolos kul yak? Mk na takut ujian….Hehehe…Just kidd
Ujian tertulis hrs ada ahh…pan biar tau sbrp jauh bisa inget ttg materi/teori na…soal praktek dlm kehidupan sehari-hari,dikembaliin ma pribadi org na…
Desember 30, 2007 pada 9:13 pm
yayaya…Perlu kah Pelajaran Pancasila Dan Agama?
Tuh kan km aja udah tau jawabannya.. heheh..sebenernya itu sih pertanyaan RESTORIS (pertanyaan yg walaupun di pertanyakan pasti udah tau jawabannya). waw… klo sampe gk di perlukan pelajaran Pancasila dan Agama, udah tau kan gmn kelanjutannya? klo tidak di perlukan buat apa hidup? Mending hidup sendiri aja deh di kutub selatan sana… yg gk da orang. yg gk da peraturan … buat apa ya hidup juga bener gk? mending sih klo orang gila mah.. tp klo orang yg masih normal…. gmn tuh? so pasti hanya orang2 yg di beri hati yg ingin kehidupannya lebih baik lah yg memerlukannya…
Sejahat dan sebodoh2nya orang.. masih ada hati dan perasaan…
Desember 30, 2007 pada 9:20 pm
@ ndon
yah, kalau masalah ujian mah bisa aja ngapalin semalam sebelumnya trus paginya langsung ujian nilai paling kecil 85 :lol wong, sekarang dosennya juga ngasih kisi-kisi to…
sshhht.. jangan buka aib di depan orang banyak dunk bang
@ renoma77
bisa aja nieh mas renoma.. tapi mas, mau hidup bahagia dunia tapi sengsara akhirat apa sengsara dunia akhirat? hehehe…
ow! yuk! ke kutub barengan, kita mancing ikan di sana.. foto bareng penguin..
salam damai,
Desember 30, 2007 pada 9:21 pm
Betullllllll……setujuuu….
Merdekaaaaaaaaaa…….!!!!
Duh…mdh2an mlm taun baru gk ujan de…
Desember 30, 2007 pada 9:22 pm
@ ndon
kok slisipan yo…? qeqeqe… hidup ujian. hidup bogor yang suka ujan..! (lho hubungannya dimana ya?)
salam damai bang,
Desember 31, 2007 pada 1:48 am
bagi saya tetap perlu, tetapi cara penyampaian ataupun aksi materinya berbeda.
Januari 2, 2008 pada 4:23 pm
@ arul
Wah, kayaknya menarik juga nieh, jadi solusinya bagaimana ya mas arul?
Januari 4, 2008 pada 12:11 am
aduh, aku udah sempet ngasih tanggapan panjang banget, eh lupa nulis email malah kehapus… sebel banget
aku ulang lagi deh..
PERLU DAN HARUS
negara bertanggung jawab kepada kualitas moral bangsanya
dalam hal ini adalah peranan sekolah
mo dibawa kemana bangsa ini kalo moralnya pada bejat
pendidikan mempunyai misi mencerdaskan kehidupan bangsa
jadi bukan hanya cerdas otaknya, pikirannya, tapi bagaimana kehidupan yang akan bangsa ini akan menjalaninya
kalo mo pintar atau bisa tau banyak bisa aja ikut kursus atau les privat.
tapi di sekolah kita diajarkan norma2 dan karma
itu peranan pendidikan… akhirnya kita perlu pendidik bukan pengajar
permasalahannya kenapa dirasakan gak jalan…
karena emang harus berjalan berbarengan artinya harus ditunjang sama kondisi lingkungan
saat ini kita lagi krisis, krisis semuanya
kepemimpinan,penegakan hukum,integritas, dll
Para Pemimpin yang diberi amanat harus memberi Tauladan kepada orang yang dipimpinnya, pemimpin juga gak boleh menganiaya bawahannya, jika martabat kepemimpinan mo tetap ada. Reward dan Punishment yang sistemable, dan Budaya Malu yang disosialisasikan dan ditanamkan
tapi bangsa ini kalo aku rasa gak bisa didik dengan jargon2 himbauan, ayo, jangan gitu dong dll
bangsa ini harus didik dengan peraturan yang KERAS dan TEGAS
civilisasi bangsa kita belum matang, mungkin kita prematur untuk merdeka kemarin, pengen mandiri tapi belum cukup umur.. ya lama lama akan matang2 juga sih… tapi akan banyak kesia-sian yang terjadi dalam nyari2 pengalaman, masih perlu waktu
setelah itu
yang pada kelanjutan generasi selanjutnya baru bisa menjadi sadar
ilustrasinya kayak kita dari kecil, dipaksa sekolah sama orang tua kita, akhirnya kita menerima - karena kedewasaan kita, akhirnya kita sadar bahwa sekolah itu perlu, akhirnya kita malah belajar sana sini.
Januari 4, 2008 pada 12:12 am
aduh, aku udah sempet ngasih tanggapan panjang banget, eh lupa nulis email malah kehapus… sebel banget
aku ulang lagi deh..
PERLU DAN HARUS
negara bertanggung jawab kepada kualitas moral bangsanya
dalam hal ini adalah peranan sekolah
mo dibawa kemana bangsa ini kalo moralnya pada bejat
pendidikan mempunyai misi mencerdaskan kehidupan bangsa
jadi bukan hanya cerdas otaknya, pikirannya, tapi bagaimana kehidupan yang akan bangsa ini akan menjalaninya
kalo mo pintar atau bisa tau banyak bisa aja ikut kursus atau les privat.
tapi di sekolah kita diajarkan norma2 dan karma
itu peranan pendidikan… akhirnya kita perlu pendidik bukan pengajar
permasalahannya kenapa dirasakan gak jalan…
karena emang harus berjalan berbarengan artinya harus ditunjang sama kondisi lingkungan
saat ini kita lagi krisis, krisis semuanya
kepemimpinan,penegakan hukum,integritas, dll
Para Pemimpin yang diberi amanat harus memberi Tauladan kepada orang yang dipimpinnya, pemimpin juga gak boleh menganiaya bawahannya, jika martabat kepemimpinan mo tetap ada. Reward dan Punishment yang sistemable, dan Budaya Malu yang disosialisasikan dan ditanamkan
tapi bangsa ini kalo aku rasa gak bisa didik dengan jargon2 himbauan, ayo, jangan gitu dong dll
bangsa ini harus didik dengan peraturan yang KERAS dan TEGAS
civilisasi bangsa kita belum matang, mungkin kita prematur untuk merdeka kemarin, pengen mandiri tapi belum cukup umur.. ya lama lama akan matang2 juga sih… tapi akan banyak kesia-sian yang terjadi dalam nyari2 pengalaman, masih perlu waktu
setelah itu
yang pada kelanjutan generasi selanjutnya baru bisa menjadi sadar
ilustrasinya kayak kita dari kecil, dipaksa sekolah sama orang tua kita, akhirnya kita menerima - karena kedewasaan kita, akhirnya kita sadar bahwa sekolah itu perlu, akhirnya kita malah belajar sana sini.
Januari 6, 2008 pada 10:54 pm
Buat bapak ibu guruku
Pancasila, jangan salahkan kami jika kami melupakan isinya, kalian paksa kami mendengarkan Pancasila saat kami dijemur kayak pindang pada upacara bendera, kalian giring kami ke lapangan layaknya kambing, dengan segala macam sanksi pelanggaran membuat kami hadir untuk menghindari hukuman. Apalagi dengan pelajaran Pancasila, hanyalah sebuah nota hitam di atas putih untuk menunjukkan kami punya moral di mata kalian. Demikian pula pelajaran agama. Kalian paksa kami mengikuti itu semua hanya karena ketakutan kalian. Kalian jadikan agama dan moral sebagai tameng atas kebandelan kami.
*no offense ya, hanya ungkapan hati kok, he3x*
Januari 29, 2008 pada 10:41 pm
ikutan ah…
pelajaran agama dan pancasila perlu atau nggak?
menurutku perlu, BUT… diubah cara pengajarannya.
selama ini, kalo kita ikut pelajaran agama dan pancasila (pmp/ppkn), kebanyakan n seringnya kita cuma dicekoki teori, dokmah, aturan, hukum, n khususnya agama, kita selalu diajari berulang2 mengenai seremnya neraka, gimana panasnya api abadi, gimana kita disiksa di neraka, n sebaliknya juga begitu indahnya surga, tempat orang2 yang terpilih untuk tinggal disana.
nah, buat kebanyakan orang (termasuk si mew yang kritis ini), cara pengajaran semacam ini udah kelewat usang, boring, kebanyakan teori, dll…
trus mestinya gimana?
mungkin saya hanya salah satu dari sedikit orang yang beruntung mendapat pengajaran agama dan pancasila dari guru yang handal.
saya inget guru pmp(sebelum diubah jadi ppkn/pancasila) kalo ngajar, beliau gak pernah nyuruh anak didiknya cuma nyatet n bengong dengan tampang bego ndengerin penjelasannya. tapi beliau lebih senang membuka pelajaran dengan pertanyaan seputar pelajaran tapi dari sisi berbeda, seperti misalnya, hari ini kita belajar tentang supersemar. ada pendapat bahwa supersemar yang sekarang kita pelajari itu adalah palsu, sedangkan dokumen aslinya entah ada dimana. ada yang mau menanggapi?
it’s cool isn’t it?
jadi kesimpulannya, saya berada di sisi orang yang mengatakan bahwa pelajaran agama dan pancasila itu perlu, bahkan kalo boleh dikatakan, sangat perlu. tapi dengan catatan, cara pengajaran yang selama ini dipakai diubah, dari cara mengajar dengan sistem ngejar setoran menjadi mendidik untuk mendapatkan pahala, bonusnya gaji.
susah khan?
makanya untuk para calon guru, kalo mau kaya, jangan jadi guru. kasian murid2nya. bukannya tambah pinter akhlak, yang ada malah pinter ngelak…
peace…, keep moving forward…
Januari 30, 2008 pada 12:08 am
oh ya… sedikit tambahan non,
ibarat mobil dikasih rem, kalo supir nabrak and ugal-ugalan jangan salahin remnya. Ada rem aja nabrak apalagi gak ada, mo jadi apa?
Februari 9, 2008 pada 12:30 pm
@ deddy d
lho, aku jadi gak ngerasa letak peran agama dan pancasila di sekolah? banyak deh keluhannya.. lagi pula kalau ngebicarain soal peraturan, pembuat aturan sekarang banyak yang masih gak konsisten, gak cuma sekarang tapi dulu pun begitu. jadi budaya turun menurun, oom. gak usah jauh-jauh ke pemerintah lah. di rumah aja kalau buat salah peraturan (termasuk perjanjian) mudah sekali tidak berlaku. misalnya kalau saya buat salah: ngilangin handphone, ngomongnya gak bakal dibelikan lagi kalau hilang, tapi nyatanya masih aja dibeliin kalau hilang. tidak konsekuen kan? atau kalau saya gak nurut, lagi sakit dan gak bisa sekolah tapi siangnya lari-larian diluar, aturannya aku gak boleh ikut jalan-jalan kalau sekeluarga mau keluar tapi nyatanya aku merengek sebentar sudah dibolehin lagi tuh? jadi harus bermula dari mana? sekolah? rumah? atau pemerintah? itu namanya baru disiplin. kalau masalah pemerintah: punglinya polisi juga itu tidak disiplin. lagian bikin aturan pun kebanyakan tidak melihat ke depan, cuma asal keluar! ibarat ludah tinggal “cuih!” jadi deh, tapi gak mikir nanti ludah itu efeknya apa
hmmm…. aku gak ngerti politik oom.. tapi sering politik wakakakak….
@ giri
jadi mas giri setuju dengan pernyataan saya? hehehe…. kalau hitam di atas putih gawat dunk, bisa dituntut nanti kalau macam-macam
@ noe
wow! remnya berarti kurang cespleng mas, ngepot aja.. hehehe.. peace.. peace..
Februari 17, 2008 pada 12:26 am
Mau coba ikutan yach … hihihih

————————————————————–
PERLUKAH PELAJARAN PANCASILA DAN AGAMA
i think pelajaran pancasila dan agama itu cuma klise tok !!
yang dikurikulumkan dalam sekolah dll …pelajaran, pelajaran, pelajaran dan pelajaran lagi.
serasa kurang lengkap, (bagi gw)
PENDIDIKAN AGAMA & PENDIDIKAN PANCASILA
couse ???
Didalam Pendidikan ada Pelajaran,
Didalam Pelajaran belum tentu ada Pendidikan
Membaca buku about pancasila only Gw dah bisa paham isinya. Membaca buku about agama only Gw lom tentu paham isinya.
————————————————————–
Februari 17, 2008 pada 2:21 pm
@ daky
Setuju pak! Tapi, hmmm…. gitu ya? kalau gitu saya berdoa semoga dibuat kurikulum baru lagi yang isinya ada pelajaran pendidikan agama..
Februari 17, 2008 pada 5:26 pm
dalam kacamata yuridis pancasila itu penting. ia (pancasila) merupakan dasar negara (staatgrundgezet) serta bila ia disambungkan dengan beberapa bagian dari Preambule kita maka ia menjadi Grundnorm (norma paling dasar).
jadi Pancasila itu penting sebagai sebab musabab adanya negara RI. toh tak mungkin sebuah negara ada dengan sekonyong-konyong.
namun demikian dasar negara bukanlah suatu yang mutlak. ia masih bisa diubah bahkan digantikan. namun itu akan membawa imblikasi dalam sistem hukum di negara ini khususnya sistem ketatanegaan, dalam hal ini HTN dan HAN.
sehingga kalau pun dirubah itu pasti akan menumpahkan darah dimana-mana. namun demikian saya yakin sepanjang tidak ada pengaruh asing maka pancasila bisa diubah dengan lebih cepat.
demikian.
kapan-kapan main ke tempat saya di:
http://dijenorie.wordpress.com
Februari 19, 2008 pada 11:13 pm
tapi kalo mau pelajaran pendidikan agama coba mee da vinci masuk pesantren
Mei 11, 2008 pada 7:56 pm
Jika dilihat dari kenyataannya,, semuanya cuma sebuah pretensi angkuh.
Mei 14, 2008 pada 1:56 pm
@ norie
Jabaran yang bagus mas! Lalu apa manfaat yang dirasakan oleh mas norie dengan adanya pelajaran pancasila itu sendiri?
@ daky
Hahaha.. kalau gitu di Indonesia ini, orang-orang yang bisa berubah hanya yang masuk pesantren?
@ petak
Tidak menutup kemungkinan…
Juni 3, 2008 pada 4:06 pm
Asw…
Misi2….
Wuelaaaahhhhhh…… Dah buanyak yg comments yo.
Sy mw ikut nulis ahkhhhhh…
Ehm, Ehm, Ehm. Langsung Ke Intinya aja yaa…
“Mata pelajaran tentang moral Harus dan Wajib ada di dunia pendidikan, yang di waktu tempo doeloe… pernah ada. Ya.. Meskipun sy blom ada(baca: lahir). Sy dpt wawasan dr orang yg pernah mengalaminya.
D jaman presiden Alm.Soeharto berkuasa, ilmu tentang moral ini membuat masyarakat Indonesia maju dan berkembang. Tidak seperti sekarang, berkembang terusssss.. Blm pernah maju.
Maaf, bwt merasa tersinggung. Bukti nyata, d jaman doeloe, nak2 mahasiswa mendapat beasiswa dr supersemar, anak sekolah moralnya terjaga karena mata pelajaran tentang moral, masyarakat mendapat pengabdian dari para pelajar yg katanya seh mahasiswa…
Meskipun moral dikembalikan kepada perorangan, tetapi Satu yang tak dapat dipungkiri… Mampukah Anda memupuk moral Anda ditengah lingkungan yang (dapat dikatakan tidak mendukung) setiap detik dapat menjerumuskan Anda kedalam kerusakan moral diri dan bangsa.
Btw, waktu jg yg dpt menunjukkan, mengapa negara Indonesia ini masih belum bisa mengelola wilayahnya sendiri. Indonesiaku… Bangkitlah!…
Syukron…. Intinya buanyak jg rek
Semangat!
Juni 4, 2008 pada 2:10 pm
# BlackBone
hasilnya? tergantung pribadi sieh.. bagusnya memang melatih diri di rumah. Ambil contoh TK, ternyata TK tidak beda dengan Play Group, kerjanya main saja di sekolah. Visi-misinya sieh: bisa mengenal huruf dan angka, kreatifitas berkembang dll, tapi tidak semua sekolah konsisten.
jadi? kesimpulannya apa mas? hahaha… peace..
bukannya dari dulu sampai sekarang yang dipelajari itu-itu saja? Dari zaman saya SD sampai saya kuliah pun materinya tidak berubah. Cuma ngembang saja kalimatnya.
Nah, apa hubungannya dengan pelajaran agama dan pancasila? hubungannya adalah, bisa kau tunjukkan berapa persen siswa yang mematuhi ajaran di sekolah?
Bagi yang islam, para siswa itu diajari ngaji di sekolah, halaah ngaji, solat aja belum tentu benar. Bagi yang kristen ada kebaktian, apa iya mereka para siswa itu serius di dalam gereja? Saya sangsi.
Mas ini diajari buang sampah di tong sampah, apa iya kalau kau dan teman-teman sekolah mas dulu setelah makan permen sampahnya selalu dibuang di tong sampah? Yang saya tahu banyak yang buang di kolong meja tuh, ya saya tidak tahu kalau mas BlackBone ini gimana.
Apa iya mereka para siswa yang diarahkan untuk hormat pada orang tua ternyata memang santun sama orang tuanya? Yang ada bentak-bentak tuh. Klise deh kalau jawabannya sulit mengontrol emosi.
Memang yang gini-gini didikan dari rumah sieh, disiplin yang di bawa dari rumah.
Sekarang bagaimana pemecahannya? Dan apa yang membuat ajaran yang ada dalam rumah bisa berbeda dengan di sekolah?
Mungkin konteks pembicaraan saya dengan mas blackbone ini lebih mengacu kepada disiplin dan tata krama hidup.
Salam,
Juni 4, 2008 pada 8:40 pm
‘Alaihissalam,
Kesimpulannya adalah “Manusia yang diciptakan, diberikan akal dan pikiran untuk menjadi khalifah (baca: pemimpin) di bumi. Maka dari itu, manusia harus kudu wajib tidak boleh tidak memiliki akhlak yang baik dalam menjalani kehidupan di dunia ini”.
Koq, akhlaq???
[just kidding]) :”Manusia itu harus memiliki akhlaq, karena kalau manusia tidak memiliki akhlaq. Manusia tersebut sama saja dengan seekor anjing. Eiits, apakah Anda (Pembaca) mau status Anda disamakan dengan seekor anjing??? Jawab dengan hati nurani…
Yups, yummy. Akhlaq = moral = adab = sopan santun pada intinya sama saja, mengajarkan manusia untuk hidup dapat saling menghormati, menghargai yang berujung pada ketentraman hidup di dunia dan dapat menyelamatkannya di akhirat.
Pada suatu saat, ada seorang ustadz mengatakan didalam ceramahnya: (Kurang lebih seperti berikut ini, klo lebih masukkan saja ke dalam kotak amal
Bagi Anda yang menggunakan pikiran dan mau berpikir, tentunya TIDAK MAU disamakan dengan anjing.
Because Whattt, seekor anjing dapat menjadi pintar apabila anjing tersebut sering dilatih, begitupun dengan Anda tentunya. Trus, seh yang membedakkannya??? Apa ya…..
Secara fakta, anjing melaksanakan hajatnya (pup) di manapun ia mau, kapanpun ia mau (Ooops, saat waktunya dong) tanpa menggunakan adab, endusss, endusss, lahan kosong, langsung aja pake gaya meskipun di tempat terbuka. Manusia gak seperti itu khan… (jawab aja sendiri).
So, Berakhlaqlah…”
Play group beda dunk dg TK, jeng.
Scr konsep, play group mengarah kpd anak untuk lebih banyak bermain yang berujung pada sosialisaai dengan teman. Klo TK, mengarah pada ilmu2 sangat dasar untuk menumbuhkan semangat belajar.
Ehm, Klo Anda pernah belajar mata pelajaran sosiologi, Anda akan mengetahui bahwa sosialisasi primer ialah dari keluarga dan sosialisasi sekunder ialah lembaga pendidikan sisanya pengaruh lingkungan.
Tinggal lihat, Anda lebih dekat dengan lingkungan yang mana…. itulah yang menetukan karakter Anda. Anda sering di lingkungan keluarga, maka Anda dapat dikatakan orang rumahan yang pastinya patuh thdp peraturan Ortu dong.
Pemecahannya: Berlakukan mata pelajaran tentang moral seperti dulu kala, dan seperti dulu kala dunia pertelevisian di atur oleh pemerintah dengan keras. Televisi mengajarkan cara bertani seperti dulu kala….
Dah ah capekkkk… Muph ya…. rada ngelantur ke tahun 80..an
Regards,
AP
Juni 4, 2008 pada 11:09 pm
# BlackBone
Oh ya? apa akhlak yang baik dalam kriteria mas Blackbone? Jangan dari pendapat umum lhoo.. Tapi dari sudut pandangmu sendiri.
Hahaha.. Bukannya orang terbiasa mengatai pakai nama anjing? Padahal tidak sedikit orang berpendidikan yang suka bilang anjing. Yaaah, nominalnya tidak pasti lah, setidaknya ada 6 diantara 10 orang. Mana bisa saya sebut 58.648.253 orang, berarti saya punya datanya, saya punya bukti pernah survei atau bukti pernah men-comot data orang lain. Ya kan?
Secara fakta juga, tindakkan sex baik free maupun tidak, penggunaan pengaman hanya mencapai 0,9 persen bagi pasangan dengan usia subur yang memilih kondom laki-laki, cuma orang-orang berduit atau ingat resiko yang memakai pengaman, sisanya lebih memilih tidak pakai dengan alasan kenyamanan, lupa, malas, ribet, susah dicari dan mahal bagi koceknya. Kondom perempuan pada tahun 2007 Rp 7.500 dan kondom laki-laki Rp 500. Dan pilihan favorite adalah kebun atau taman (lokasi bawah pohon besar), gang sempit dan remang-remang, bangunan tua, ruko-ruko, penginapan murah.
soal BAB, yakin manusia tidak pernah BAK atau BAB sembarangan? Kalau kepepet juga pasti sembarangan, cuma ngumpet. Clingak-clinguk tempat kosong. Kalau pas banyak orang tetap clingak-clinguk, “aaah gak ada yang merhatiin”. Tapi bagi yang pede sieh dimana saja bisa.. Kentut pun juga punya perlakuan yang sama.
Oh ya? lalu tekniknya berhasil gak tuh? Sekolah High Scope saja anak SD kelas satu baru belajar mengenal huruf.
Oh ya?
Teman SMA saya termasuk orang rumahan, dekat dengan lingkungan keluarga, tapi sering membentak orang yang lebih tua. Padahal kau bilang orang yang sering di lingkungan keluarga pasti patuh terhadap peraturan ortu, nyatanya teman SMA saya suka membentak orang yang lebih tua, tidak suka membantu orang rumah, kerjanya malas-malasan dan marah-marah. Jadi logikamu runtuh.
peace, mas BlackBone..