Karl Marx: Agama adalah candu.


“Religious distress is at the same time the expression of real distress and the protest against real distress. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people. The abolition of religion as the illusory happiness of the people is required for their real happiness. The demand to give up the illusion about its condition is the demand to give up a condition which needs illusions.” Ini adalah kutipan kata-kata Karl Marx, seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia, dalam Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1843).

Jelas bahwa kekuasaan sebuah kritikan tidak bisa ditimpa dengan kritikan sebuah kekuasaan. Kekuatan materiil hanya bisa digulingkan oleh kekuatan materiil pula, tapi teori itu sendiri menjadi sebuah kekuatan materiil ketika telah merampas rakyat jelata. Kritikan yang bersumber dari agama berakhir dengan doktrin bahwa manusia adalah yang tertinggi bagi manusia. Akar dari setiap permasalahan di dunia adalah manusia itu sendiri. Dan alasan yang memungkinkan adalah karena agama.

Bisa jadi pemikirian Karl Marx tidak salah mengingat beragam kejadian yang kerap kali berakar dari perbedaan agama seperti:

1.Kontroversi pembaptisan Magdi Allam, jurnalis asal Italia yang pernah menerbitkan buku berjudul Long Live Israel, dianggap sebagai tindakan disengaja dan provokatif oleh Aref. Padahal, pada 1978 hingga 2003, Magdi adalah pemikir yang gigih membela dan mempertahankan budaya Islam. (Kolom Internasional: Vatikan, Gatra No. 21 Tahun XIV, hal. 73).

2.Beredarnya Film Fitna garapan Greet Wilders, pendiri PVV, yang melukiskan tentang kekerasan, poligami, juga pandangan Islam terhadap Yahudi. Wilders mengaitkan pengeboman di New York, Madrid, London, dan pembunuhan produser Theo van Gogh di Amsterdam dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Film ini menimbulkan berbagai kecaman dari negara-negara Uni Eropa, negara-negara Islam dan Belanda sendiri juga membuat Belanda menuai ancaman boikot penduduk. (Kolom Internasional: Fitna Menuai Badai, Gatra No. 21 Tahun XIV, hal. 69).

3.Pengeboman pulau Bali, Indonesia, pada 1 oktober 2005 di Kuta dan Jimbaran yang menewaskan sedikitnya 23 orang dan 196 lainnya luka-luka, pengeboman tahun 2005 lalu seperti merupakan seri dari Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang. (Wikipedia: Pengeboman Bali 2005).

4.Bom Kedubes Australia tanggal 9 September 2004 atau yang dikenal sebagai Bom Kuningan yang selain mengakibatkan beberapa bangunan-bangunan di sekitar tempat kejadian mengalami kerusakan juga adanya korban yang meninggal seperti satpam-satpam Kedubes, pemohon visa, staf Kedubes serta warga yang berada di sekitar tempat kejadian saat bom tersebut meledak. (Wikipedia: Bom Kedubes Australia 2004).

5.Serangan 11 September 2001 yang diduga pelakunya ialah bangsa Israel, menurut sebuah fakta menarik, dari laporan time.com, dari sekitar 6.000 korban runtuhnya gedung WTC, hanya beberapa saja yang orang Yahudi. Padahal ada 4.000 orang Yahudi yang mencari nafkah di gedung itu. Konon, mereka sebelumnya telah dilarang mendekati gedung nahas itu oleh kelompoknya. Dan setelah serangan, belum selesai duduk perkara siapa pelaku penyerangan itu, AS menyalahkan al-Qaida, dan memulai “Perang Melawan Terorisme”. (Wikipedia: Serangan 11 September 2001).

6.Perdebatan dalam berbagai forum dunia maya seperti di Plasa Web Forum, Kaskus dengan salah satu judul thread “Heboh!! Buku Rahasia Kehidupan Seks Para Paus!!”, YahooGroups: Mayapada Prana, Forum Kompas dengan salah satu judul thread “Hal yang berisi SARA kenapa ditabukan?”, Komunitas Lare-Lare Banyuwangi dengan salah satu judul thread “Orang Beragama atau Orang Baik??” dan lain-lain, sehigga topik-topik tersebut harus ditutup demi keamanan.

Itu adalah beberapa hal yang tidak sedikit dari pelakunya mengatasnamakan agama.
Kalau ditelusuri tujuan diadakannya agama adalah sebagai pegangan, aturan hidup dalam bermasyarakat. Dengan adanya agama, diharapkan bisa menciptakan suasana yang rukun, saling menghormati dan menghargai, memperkaya pengetahuan spiritual, membawa kedamaian secara personal maupun public. Tapi melihat realita yang ada, justru agama ternyata menjadi pemicu timbulnya tindakan-tindakan tidak positif.

Contoh langsungnya adalah ketika ada dua orang yang berselisih dan beda kepercayaan, maka ketika mereka adu mulut tidak jarang yang mengomel dibelakang: “dasar kafir!”

Jika saja agama itu tidak ada, maka tidak ada kesalahpahaman, tidak ada kebencian, meminimalisasikan fitnah, tidak ada misi memperluas wilayah, tidak ada yang membanding-bandingkan Tuhan di setiap agama, dan tidak ada aturan spiritual.
Jika saja agama itu tidak ada, maka segala pertikaian yang mungkin akan terjadi akan bisa dilihat secara kepribadian, karakter, watak, sifat, dan sebutan lainnya yang menunjukan personalitas bukan komunitas.

45 responses to “Karl Marx: Agama adalah candu.

  1. ah.. ga sedikit juga kok yang bisa sadar trus membaik, lebih santun etc karena memahami ajaran agamanya.. saya kira ga ada kok ajaran agama yang nyaranin tuk bikin destruct, salah paham n salah penafsiran pemicunya menurut saya.. tapi memang lebih ‘gurih’ kok mengupas sesuatu dari sisi buruknya he..he..

  2. (Jika saja agama itu tidak ada, maka tidak ada kesalahpahaman, tidak ada kebencian, meminimalisasikan fitnah, tidak ada misi memperluas wilayah, tidak ada yang membanding-bandingkan Tuhan di setiap agama, dan tidak ada aturan spiritual.
    Jika saja agama itu tidak ada, maka segala pertikaian yang mungkin akan terjadi akan bisa dilihat secara kepribadian, karakter, watak, sifat, dan sebutan lainnya yang menunjukan personalitas bukan komunitas.)
    kok jadi kayak lagunya chrisye ya, he..he… nih anak kayaknya lagi asik baca bukunya karl marx ya.
    menurutku sih simpel aja non,
    agama tuh ada / diadakan untuk ngatur manusia, karena manusia adalah satu2nya makhluk ciptaaan Tuhan yang paling sulit diatur.
    Nah, kalo ada agama aja masih susah diatur, apalagi kalo gak ada agama?
    tul gak non???

  3. # sayur asem
    hihihi.. iya juga sieh ya? dan makin diubek-ubek makin memperkuat kepercayaan ya.. :D

    # noe
    hmm, gak salah.. dan emang gak salah pemikirannya.. :D tapi kalau yang pada punya agama fanatiknya ampun-ampunan sampai berani mencela agama lain, kan gawat.. yang harusnya bisa mengatur hubungan vertikal malah jadi membuat aturan sendiri dan diekstrimkan. ya, kurang lebih ngerti sieh kenapa aturan dalam agama jadi diekstrimkan, bisa jadi agar para umatnya mau dan bisa mematuhi dan menjalankan kaidah-kaidahnya, tapi kalau akibatnya sampai menimbulkan penganut garis keras dan melakukan pembantaian sana-sini, kan bahaya.. :(

  4. Dengan adanya agama, diharapkan bisa menciptakan suasana yang rukun, saling menghormati dan menghargai, memperkaya pengetahuan spiritual, membawa kedamaian secara personal maupun public.

    Inikah harapan manusia dari agama?

    Tapi melihat realita yang ada, justru agama ternyata menjadi pemicu timbulnya tindakan-tindakan tidak positif.

    realita yang tidak sesuai dengan harapan. Ada gap antara realita dengan harapan. Sebabnya? banyak.
    diantaranya:
    *)agama yang dianut tersebut memang mengandung ajaran yang tidak mampu mengakomodir harapan yang ada. Ajaran agamanya tidak membuat orang menjadi rukun dan saling menghargai. Atau agama ybs tidak bisa membawa kedamaian bagi pemeluknya.
    *)Bisa jadi ajaran agamanya sudah benar. hanya saja: orang-orang (para penganut) agama tersebut tidak menjalankan ajaran agamanya dengan baik sehingga kedamaian, saling hormat itu tidak bisa tercapai. akhirnya harapan itu jauh dari realita.
    *)Selalu ada orang/pihak-pihak yang menguji para penganut itu. Yah you know lah. ada orang-orang yang susah lihat orang senang dan senang lihat orang susah. Ada orang2 jahat di dunia ini (kita ga boleh naif soal ini). Orang-orang yang tidak bisa diam dengan ketika melihat suatu agama berkembang dan menebar rahmah.orang-orang yang selalu usil ketika melihat kedamaian.
    *)sebab lainnya…

    ————
    apa yang dapat dilakukan ketika harapan dan relita tentang agama tidak berjalan seirama.
    *)mengganti harapan itu. Jangan berharap bahwa agama akan memberikan kedamaian.
    *)bila kukuh mempertahankan harapan tadi maka pindah agama, agama yang bisa memenuhi harapan tadi.
    *)berpikir apatis: menghilangkan kesakralan agama. Memposisikan agama tidak menjadi bagian dari nilai mendasar dalam kehidupan seseorang. tempat agama hanya sebagai formalitas (KTP). Untuk menghilangkan sakral agama lupakan soal konsep surga, soal neraka, dosa dan pahala. bila semua itu dapat dilakukan maka kita akan sampai pada kesimpulan itu:

    Jika saja agama itu tidak ada, maka tidak ada kesalahpahaman, tidak ada kebencian, meminimalisasikan fitnah, tidak ada misi memperluas wilayah, tidak ada yang membanding-bandingkan Tuhan di setiap agama, dan tidak ada aturan spiritual.
    Jika saja agama itu tidak ada, maka segala pertikaian yang mungkin akan terjadi akan bisa dilihat secara kepribadian, karakter, watak, sifat, dan sebutan lainnya yang menunjukan personalitas bukan komunitas.

    *)mendalami agama lebih dalam. bisa jadi gap antara harapan dan realita agama terjadi karena pemeluknya tidak sunngguh2 menjalankan ajaran agamanya.
    *)habisi2 orang2 iseng (yang tadi), orang-orang yang tidak pernah tenang melihat kedamaian dan orang-orang saling hormat dan menghargai.
    *)silahkan laksanakan cara alternatif terbaik menurut anda.

  5. sori ya komen di atas terlalu panjang. apa yang saya mau sampaikan ialah, agar kita melihat lebih banyak altenatif pilihan.
    tidak seperti karl marx atau nietzsche yang tidak terlalu sedikit mempunyai pilihan. Sehingga orang-0rang tersebut memberikan sistem pemikiran yang demikian keras pada agama. Seandainya marx waktu itu sempat berkenal dengan orang yahudi baik atau orang Kristen yang baik, atau ia jalan-jalan keluar negeri, hasil pemikirannya mungkin tak akan seperti yang kita baca sekarang.
    yah intinya kita butuh lebih banyak pilihan. lebih banyak paradigma.

    NB: sistem (ajaran) filsafat hanya Map (peta), ia bukanlah realita sesungguhnya. Karena itu peta maka filsafat bukanlah realita atau gambaran bagaimana realita itu sesungguhnya. Karena itu Map maka kita bisa juga mengganti dengan Map yang lain.
    Seperti Halnya Marx kita dalam taraf amatir juga berfilsafat. kita membuat peta atas realita (dunia) dimana kita ada. kita menyusun nilai-nilai hidup kita (sadar atau pun tidak sadar). kita mengggambarkan dunia sesuai dengan peta yang kita buat. pada akhirnya saya hanya bisa berujar, map isn’t territory. :D
    *peace*

  6. @ norie

    Imagine there’s no heaven. It’s say easy if you try. No hell bellow us. Above us only sky. Imagine all the people. Living for today.
    Imagine there’s no country. It isn’t hard to do. Nothing to kill or die. For and no religion too. Imagine all the people. Living life in peace. You may say I’m a dreamer. But I’m not the only one. I hope someday you’ll join us. And the world will be as one.

    Itu sepenggal lirik lagunya John Lenon, Imagine. Dari sini, kita sama-sama tahu bahwa John Lenon hendak mengatakan: Jika tidak ada agama, negara dan harta benda, maka hanya ada kedamaian karena tidak ada yang diperebutkan. Saya rasa filsafat tidak bisa dikatakan sebagai peta yang bisa diganti. Yang ada adalah peta itu diperbaharui. Apa bisa mengganti peta Jakarta dengan peta Surabaya ketika engkau ada di kota Jakarta dan tersasar! Gini mas, menurut saya filsafat memiliki peranan riil dalam meningkatkan cara berpikir serta memperluas cakrawala. Secara umum, filsafat bertujuan mencari pandangan yang benar terhadap alam, menjelaskan arti hidup secara global di segala cakupan dimensinya.
    Jika Mas Norie bilang: Kita juga berflsafat, rasanya kurang pas, karena saya hanya mengeluarkan hasil pemikiran dan tidak mempunyai metode ilmiah, dan saya juga tidak mempunyai ide dasar yang bisa diperdebatkan. Kata “kita” dan “kami” ini bisa dipastikan orang-orangnya karena menunjukkan sebuah kelolmpok. Seperti “Kami lapar (dalam arti yang sebenarnya bukan kiasan)”, kalau ditanya “siapa itu kami?” bisa saya jelaskan bahwa “kami” adalah orang-orang yang belum makan dan ingin makan. “Kita lelah” menunjukkan keterkaitan antara pembicara dan pendengar. Kalau Mas Norie merasa seorang filsuf bisakah menjawab pertanyaan saya: Apakah pengalaman religius itu?.
    Nah, sekarang kembali ke pokok permasalahan. Saya lihat Mas Norie mempunyai solulsi yang benar tapi sayangnya belum tepat. Coba saya ulas,

    Solusi pertama: Untuk mengganti harapan. Jangan berharap bahwa agama akan memberikan kedamaian.
    Pertanyaan saya: Harapan saya sebagai seseorang yang masih punya agama, harus diganti dengan apa? Berharap bahwa agama tidak akan memberi kedamaian? Arti dari kedamaian itu memiliki cakupan yang tidak sempit. Kedamaian membuahkan ketenangan, kepuasan, keselarasan, keindahan, dan berkaitan dengan kebahagiaan. Jika harus diganti, maka harus diganti dengan apa?

    Solusi kedua: Pindah agama agar bisa memnuhi harapan saya.
    Pertanyaan saya: Saya harus pindah ke agama mana? Sedangkan kata agama di sini merupakan bentuk kepercayaan atau keyakinan seseorang. Sehingga apa pun itu bentuknya, apa pun itu namanya, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan yang lainnya, adalah agama karena memiliki keyakinan dan mempunyai ajaran. Jadi yang saya bicarakan sudah mencakup semua nama-nama agama yang ada.

    Solusi ketiga: berpikir apatis dengan menghilangkan kesakralan agama.
    Pertanyaan saya: Apakah itu bukan suatu bentuk dari kesia-siaan? Untuk apa menghilangkan kesakralannya jika agama bisa dihilangkan?

    Solusi keempat: Mendalami agama lebih dalam.
    Pertanyaan saya: Berapa banyak orang yang merasa: “Membuang waktu untuk mendalam agama” di dunia ini? Berapa banyak orang yang bisa mengamalkan ajarannya? Berapa banyak orang yang bisa berterus-terang dan berkata sopan sedangkan tujuh dari sepuluh orang lebih memilih berkata jujur walaupun menyakiti perasaan dibanding berkata sopan? Padahal dengan berkata sopan kita bisa menyampaikan gagasan dengan lebih baik. Tidak usah ambil contoh ya?

    Solusi kelima: Habisi orang-orang iseng yang tidak pernah tenang melihat kedamaian dan perilaku positif.
    Pertanyaan saya: Apa Mas Norie tidak pernah berbuat iseng? Jika kerabat dekat mas termasuk dalam kategori orang-orang iseng tersebut, apa yang akan kau lakukan? Berani kah menghabisinya? Menghabisi di sini kok kedengaran seperti membantai ya? :D

    Solusi keenam: Silakan laksanakan cara alternatif terbaik menurut anda.
    Pertanyaan saya: Saya tidak punya pertanyaan.
    Pendapat saya: Solusi ini kurang tepat. Karena jika saya salah langkah, engkau bisa terlibat karena kebebasan yang kau berikan. Saya bisa mengambil pandangan dari sini bahwa engkau termasuk orang yang mudah lepas tangan.
    Hahaha… Bukan pandangan mutlak lho…

    Salam damai,

  7. yang harusnya ga ada adalah orang yang jadi candu pada agama… mau candunya agama, tetap saja rasanya segala bentuk kecanduan cuma akan membawa pada kehancuran…

  8. Asslammu’alaikum.
    mf,sebelumnya ni bkn saran atau kritikan apalagi klitikan wah itumah bikin geli orang :D
    em…
    “Agama adalah candu” wah pemikiran atheis sekali ye, ocelah cuapan dari sy:
    memang sudah sunatullah bahwa manusia diberi akal untuk berpikir dan hati untuk “merasakan”. “hati” ini kadang itu baik jika melakukan kebaikan dan kadang itu buruk jika melakukan kemaksiatan. itu tergantung daripada individu dan “konsumsi” hati itu sendiri. Loh ko nyambung ke hati :D
    em begini “Hati” merupakan sumber dari permasalahan karena dengan hati kita dapat merasakan kedamaian, ketenangan, kenyamanan dan emosional negatif…..
    kaka say :”weh waktu kuliah nich,sorry yach nanti nyambungnya…”

  9. # natazya
    nah, itulah mbak natazya.. masalahnya terlalu banyak nieh yang kecanduan agama.. Kalau menurut saya, mereka orang-orang yang menyebarkan agama, terlalu terobsesi untuk meyebarkan agama sehingga menimbulkan damapak negatif. Coba saja bayangkan, ada hindu, budha, kristen, katolik, islam, konghuchu, pagan, shinto, yudais, tenrikyo, dll. Mereka semua butuh pengikut dan pada akhirnya tercipta garis teritori. Mereka telah lupa dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam penyebaran agama itu sendiri. Lupa tujuan dari menyebarkan agama. Yang ada dalam pikiran mereka didominasi oleh “berapa banyak orang yang seagama dengan saya.”

    #kaka09
    sorry ya, komentarnya dihapus. Saya belum berkenan untuk menjadikan blog saya sebagai sarana menyebarkan atau nyerocos ayat, hadist, atau yang sejenisnya. Jadi komentar kamu yang kedua terpaksa saya hapus, tapi dihargai kok.. ;) Lagi pula, cukup out of topic ya komentarnya hahaha..
    Untuk komentar pertamanya, cukup menarik ya? :) sampai cuma bisa senyum aja nieh..

  10. Beragama ajah masih suka salah arah… apa lagi ga beragama… apa kata dunia…

  11. Ngapain sih belajar filsafat, sudah jelas itu adalah candu. Anda pikir milsafat bisa mengubah dunia ? Omong besar itu itu dulu. Yang jelas begitu kita menyentuh pola pemikiran orang lain itu menjadi menghamba. Kita “memeticing the pattern”. Mengapa ? Karena tidak bisa dibuktikan dan diuji oleh parameter-parameter yang jelas dan hasilnya selalu mengambang. Dengan mudahnya ngeles “Ah, jamannya kan sudah lain” OK !

    Salam Biner !!!

  12. # JoEy D’JuVe
    kata dunia: apa buktinya kalau sekarang ini lebih sedikit orang yang menyembarangkan agamanya? :D

    # T Jayadimeja
    Pertanyaan bagus (karena selama ini belum ada yang nanya) :D, tujuan filsafat adalah sebuah upaya untuk mencari dan mencapai pegetahuan itu sendiri. Yang saya maksudkan di sini jelas bukan usaha untuk mendapatka sahabat, mempengauhi orang lain, megentaskan kemisikinan, atau pun untuk pengembangan teknologi tapi semata-mata menggambarkan suatu hasrat untuk menyelidiki suatu permasalahan demi permasalahan.

    Nah, kita jangan sampai salah kaprah di sini, filsafat itu TIDAK bertujuan untuk bersaing dalam sains, tidak dengan teknologi, dan bukan pula tujuan filsafat untuk secara aktif meganjurkan perubahan-perubahan. Tujuan filasafat tidak boleh dikacaukan dengan tujuan seroarng pejabat politik, psikoanalis, ibu-ibu rumah tangga, konselor pribadi dll.

    Tahu kah kamu bahwa semua ilmuan yang menciptakan rumus matematika, fisika, kimia, astronomi dan lain-lain sampai ke agama juga semua adalah seorang filsuf?
    Ada Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Thufail, Augustus, Phytagoras, Al, Ghazali, Socrates, Montesquieu, Hegel, Plato, Aristoteles, Leonardo da Vinci, Pascal, dan yang lainnya.

    Awalnya ilmu pengetahuan yang sekarang kita pelajari adalah juga hasil buah pikiran mereka, rsa ingin tahu untuk mencari kebenaran. Masih ingat pelajaran IPA SD dimana kita diceritakan bahwa awalnya orang-orang beranggapan bumi itu datar, tapi kemudian anggapan itu dibantah.

    Yang candu di sini, bukan filsufnya. Para filsuf cuma mengemukakan pemikiran saja kok. Benar atau enggaknya kan ditelaah lagi. Jangan ditelan mentah-mentah.

    Zaman itu gak pengaruh, mau zaman purba sampai zaman emas pun gak bawa perbedaan yang signifikan (dalam konteks agama). Siapa yang bilang bahwa sesuatu hal tidak bisa dibuktikan dengan parameter yang jelas? yang saya tahu adalah seseorang tidak bisa membuktikan karena beberapa hambatan. Bisa karena selama pembuktian orang itu terus memprediksi sehingga menemukan prediksi bahwa jika perkataannya salah ia akan malu sehingga tidak dilanjutkan, bisa juga karena malas, bisa karena asumsi yang banyak sehingga banyak kengototan pada akhirnya bubar jalan.

    Nah, bisa dibuktikan bahwa ada suatu kasus yang melakukan percobaan dengan parameter yang tidak jelas?
    Apa mungkin ucapan mas jayadimeja ini salah satu buktinya ya?
    hihihi..

    Salam,

  13. mew da vinci : “Saya belum berkenan untuk menjadikan blog saya sebagai sarana menyebarkan atau nyerocos ayat, hadist, atau yang sejenisnya”.

    wealah Maaf, saya ga akan memberi komentar klu saja pembahasan ini ga “rancu” dan saya ga bicara dengan menggunakan “urat” :D dan komentar harus dengan dasar yang jelas.soal terusan “hati” belum tersampaikan cz, lagi buanyak tugas. ! :D

    T Jayadimeja : “Ngapain sih belajar filsafat, sudah jelas itu adalah candu. Anda pikir milsafat bisa mengubah dunia ?”

    Yupz,kenapa? karena dengan belajar filsafat pada akhirnya akan merusak aqidah dan kemungkinan atheis ( wah atheis lg, atheis lagi, cape dech ) :D . tapi disini kita jangan bandingkan dengan :

    mew da vinci : “…semua ilmuan yang menciptakan rumus matematika, fisika, kimia, astronomi dan lain-lain sampai ke agama juga semua adalah seorang filsuf…”
    “…Ada Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Thufail, ..,Phytagoras, Al, Ghazali,…”

    Wah…. klu dibandingkan dengan mereka kita tuh ga da apa2, cz mereka didasarkan pada keilmuan agama dan yang mereka telusuri sebatas kemampuan nalar manusia. Dan pada akhirnya pun mereka berkesimpulan: “Bahwa setiap kejadian pasti ada hikmah dibalik semua itu dan ada yang mengatur, kejadian diluar nalar manusia mereka hentikan karena akan menyebabkan kerancuan dan akibat fatal mereka tidak percaya adanya Tuhan…”

    wah, dah malam nich…next>>>>

  14. # kaka09
    oh ya?
    apa buktinya filsafat merusak aqidah dan memunculkan kemungkinan atheis? karena thread saya kah? karena filsuf seperti karl marx kah? betulkah nila setetes rusak susu sebelangga? :)
    bukankah kau ucapkan sendiri bahwa filsuf yang disebutkan itu berfilsafat berdasarkan pada keilmuan agama? Engkau punya buktinya ada penelitian atau pemikiran mereka yang dihentikan karena diluar nalar manusia? dan apa definisi nalar menurut pengertian kamu sendiri tanpa terkontaminasi dengan pengertian di buku atau pendapat orang lain? bagaimana pula cara kerja nalar manusia menurut pemikiran murni kamu sendiri?

    Dan kenapa saya manusia yang hidup di era >tahun 1980 tidak boleh dibandingkan dengan mereka? apa buktinya?
    Kalau kau bilang kau berkomentar dengan dasar yang jelas, mengapa kau tidak memberikan dasar yang jelas dan kuat?:) saya juga tidak mempermasalahkan atheis. Apa bedanya atheis dengan orang-orang yang berbeda agamanya dengan saya? Apa hanya karena mereka tidak percaya dengan Tuhan?

    soal komentar, apa pernah saya melarang engkau untuk berkomentar? kan saya cuma bilang, saya belum berkenan untuk menjadikan blog saya sebagai sarana menyebarkan atau nyerocos ayat, hadist, atau yang sejenisnya. Apa saya salah? Dan dimana letak kesalahannya?

  15. Mf, ya penjelasannya terlalu panjang :D
    tp itukn penejelasan yang kamu mau dri sy. klu da kesalahan maaf ya, cz nobody is perfect. eits… so iye yah :D

    Just for sharing n keep :D >>

  16. :) sulit.

    mau setuju tapi saya masih beragama. mau menentang tapi memang kenyataannya.

    yang harus diperbaiki sebenarnya cuma sifat ngotot. ngotot untuk tetap tutup mata. ngotot merasa dirinya paling bersih. ngotot untuk muter-muter dalam ngobrol. ngotot menanggapi orang yang juga ngotot.
    oleh karena itu, saya kadang dibikin terbengong-bengong sama ulah mereka. Mungkin mental sudah kendur.

  17. # kaka09
    lho kok jadi ngomongin filsafat? pertanyaan kamu sekurang-kurangnya sudah terjawab dengan komentar diatas, apa kamu ndak baca? jangan-jangan ndak pernah dibaca ya?
    kalau mau lebih, ya ndak bisa. konteksnya perilaku orang beragama kok. Lebih tepatnya hubungan vertikal, hubungan antara manusia yang beragama. Jadi ndak perlu muter-muter tanya jawab seputar agama. bukan filsafat atau keagamaan. kalau mau ngobrolin filsafat lebih jauh silakan buka postingan sendiri.
    Dan maaf lagi nieh.. komentarnya harus dihapus. alasannya masih sama, saya masih belum berkenan untuk menjadikan blog saya sebagai sarana menyebarkan atau nyerocos ayat, hadist, atau yang sejenisnya.

    Jadi tolong dimaklumi. ;)

    # hendra
    wah, bikin gelagapan aja nieh.. :D saya mungkin termasuk orang ngotot juga ya? hihihi…
    Jadi gimana ya biar mental kuat lagi?

  18. Hmm… ini susah nanggapinnya
    maksudnya memberi suatu tanggapan yang netral
    tanggapan yang referensinya, literaturnya bukan dari my religion
    dalam maksud supaya lebih fair lah
    mungkin aku coba dari doktrinasi Psykologi Dr. Sigmound Freud
    yaitu Id, Ego dan Super Ego
    doktrinasi ini dipakai oleh para psiater diseluruh dunia

    kemudian prinsip Yin dan Yang
    dimana konsep dialetika terpaparkan
    misalnya kebaikan dan keburukan, terang dan gelap
    kita tidak bisa merasakan adanya cahaya, merasa terang, jika tidak ada kegelapan itu sendiri
    sehingga kegelapan itu memang harus ada sebagai akibat terang yang dirasakan

    Id adalah insting biologi yag hidup dalam diri manusia. Id bersifat self serving, impulsive, dan irrisional. Id berjalan berdasarkan kesenangan. Id dapat menghasilkan sifat agresif dan destruktif

    Superego, biasanya sensor dari pemikiran dan tindakan yang berasal dari moral, ajaran yang baik, rules masyarakat.

    Ego, kekuatan yang berasal dari pengaturan keinginan Id dalam kondisi yang sebenarnya. Ego membuat keputusan berdasarkan antara Id dan Superego

    berfikir, memecahkan masalah, memutuskan semuanya terjadi di Ego

    Jika Id dan Superego kemudian konflik, kita akan stress, bingung, mumet, Bete…
    gimana caranya mengatasinya ?, maka redakan perang antara Id dengan Super ego kita.

    Nah…… ajaran agama biasanya memupuk superego kita, dan kemudian menurunkan kadar Id kita, sehingga konflik diantaranya sekurangnya bisa diatasi, sehingga kita bisa lebih tenang, gak terlalu stress (stress sih tetap ada, namanya juga hidup normal)
    Jadi kalo jadi ribut antar agama dilihat dulu tuh bisa jadi Idnya yang membuat itu.

    kalo Karl Marx bilang agama itu Candu, artinya kita sudah kecanduan ilusi yang kita ciptakan sendiri demi asupan Superego kita.
    Tidak beragama bisa dibilang itu juga suatu agama tersendiri, suatu sikap yang diyakininya tersendiri dalam berkehidupan. mungkin Karl sudah bisa mengatasi permasalahan Id dan superegonya.

    kemudian adanya perbedaan agama lain dengan yang satu, ya kita bisa menjadi yakin dan merasa benar jika ada suatu pembanding yang kita anggap salah, dan sesuatu yang salah itu memang harus ada sehingga yang benar itu bisa dirasakan. – dialektika Yin dan Yang

    Ok, ini buat aku pribadi, aku merasakan Allah itu ada, aku memerlukan Dia dalam hidupku.
    banyak tanda tanda kekuasaanNya yang terlihat bagi para hambanya yang berfikir.

  19. # Deddy D
    Iya, nieh pak. Rasa itu bisa jadi salah satu solusi juga penjabaran yang tepat. Karena sejak kecil kita selalu diajarkan untuk berbagi sekaligus ditunjukkan tentang kepemilikan. Itu gak buruk, bagi saya. Tapi, kadang orang-orang lebih cenderung hobi mengumpulkan sesuatu tanpa berpikir bagaimana merawat dan menjaga.

  20. SEBENARNYA, KITIKA KITA BERBICARA MASALAH MANUSIA AKAN TIDAK ADA HABISNYA.tapi sebenarnya Qita sadar bahwa sebenarnya bukan agama yang salah. tapi jika di sana ada suatu hal yang keliru khususnya dalam pengimplementasian agamanya itu. yang sala adalah manusianya, yang salah adalah yang melakukannya. bukan agamanya. akan titapi sebagai manusia Qt jg harus mencari agama mana sich yanng bener dan menurut sy itu hanya bisa di peroleh dari beradu argumen, tapi ingat dalam beradu argumen Qt jg harus objektif.jangan selalu berkata dia salah dan aku yang bener.bisa difikirkan dulu.dan lihatlah dari sudut pandangmu.jgn suka menyalahkan orlin. tapi jika dilihat skrg ini ya.. yang seperti itu sekarang dah wajar.
    jika dari ku “tetaplah mencari 1.sebenarnya kita berasal dari mana sich?
    2. untuk apa Qt ada di dunia ini?
    3. akan kemana setelah Qt mati?
    jawab itu dulu yach, jika kamu dah nemuin jawabannya, Qt ketemu lagi disini key?
    thank”s

  21. komunitashitamputih

    Untuk mew da vinci, boleh kan saya bertanya

    Apa c agama menurut anda?
    Penting ga beragama menurut anda?
    Apa anda seorang yang beragama?
    Bagi anda beragama merupakan keharusan atau tidak?
    Bila anda beragama, mengapa anda beragama?

    ————————————————————————————–

    # Deddy D

    Tanggapan yang membuat saya tersenyum. penilaian saya, bijak!!!
    Btw, dalam mempertahankan argumen (tentunya yang prinsipil) terlepas dari salah atau benarnya, itu kadar yang lebih besar Id atau superego?

    ————————————————————————————-

    # Naf’s

    Hmmm….. konsep uqdatul kubro ya?? jawaban mungkin bisa ditemukan. lantas bagaimana setelah itu?

    bagi saya filsafat itu unik, entah bagaimana mempelajarinya, bagaimana kita mengetahui sudah atau belumkah kita memasuki ranah berfilsasat, yang jelas bagi saya filsafat sesuatu hal yang nyata namun abstrak.

    forestcomp.wordpress.com

  22. # Naf’s
    Maksudnya wajar mas? Berarti kalau sampai mengganggu psikologi karena hal seperti ini sampeyan bakal tenang-tenang aja dunk, kalau dengar beritanya juga cuma bilang: cck cck cck… keterlaluan setelah itu tutup mata dan telinga lagi.. :D Tapi, saya akui sampeyan itu ada benarnya juga, hal-hal seperti ini memang sudah terlihat wajar karena kita sudah dibiasakan.
    soal pertanyaannya, udah cukup dijawab sama komunitashitamputih yaa.. ;)

    # komunitashitamputih
    Hmm… pertanyaanmu mengandung kalimat-kalimat tertentu nieh.. Dengan kata lain sampeyan mau nanya apa saya ini atheis atau bukan.. :) saya hingga saat ini masih beragama. Alasannya bisa saya paparkan dan bisa tidak, dan jawaban saya itu bisa jadi sesuai dengan terkaan sampeyan, bisa juga tidak :D Mas, alasan beragama itu bisa saya buat, masalah selaras dengan kenyataan atau tidak itu kembali lagi pada diri sendiri. Ini bukan tetang saya berjiwa atheis atau religus, tapi tentang seberapa efektifkah pengaruh agama saat ini? seberapa besar? Atau hanya namanya saja yang besar? Apa dan siapa yang perlu dibenahi? Kayaknya saya bakalan jadi urutan pertama buat dibenahi nieh :D

    Makasih ya udah mau mampir.. ;)

  23. Ditunggu lanjutannya

  24. entah apa alasasan Tuhan mengapa menciptakan agama bermacam-macam, bukankah satu agama itu cukup?….

    • Sekalipun cuma ada satu agama yang ada sekarang ini, tetap saja manusia akan menciptakan sampai bermacam-macam lagi. Mengenang agama yang dikenal di Indonesia awalnya hanya ada 5, kini semakin bertambah ragamnya. Manusia memang makhluk yang kreatif.

  25. socrates_modern

    Karl Marx berkata : “Semua agama adalah Candu” padahal tesis Karl Marx hanya pada satu agama dari kegagalan agama gerejani dikala itu. Masih ingat tirani intelektual, Firdano Copernicus dan Galileo adalah tumbal dari tirani intelektual itu. Kaum gereni dikala itu beranggapan, bumi centris padahal hasil penelitian ternyata matahari sentris. Amy Valencia, antara paham gerejani dengan para ilmuwan ini, tetapi karena gerejani dikala itu berkuasa merekapun dihukum bahkan dieksekusi dengan cara dibakar hidup-hidup. Kemudian tirani ekonomi, dimana jemaat diharuskan membayar sebagian hartanya untuk kepentingan Tuhan Bapa diatas sana, tetapi malah digunakan untuk kepetingan pribadi kaum gerejani.
    Kemudian yang paling menyakitkan adalah tirani kepercayaan, dengan dogma lisensi pengampunan dosa oleh Paus. Kayak apapun dosa manusia akan dapat diampuni asal, mampu membayar. Dosanya akan diampuni, masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Dan berdampingan dengan Tuhan Bapa disana. Justru doktrin yang terakhir inilah menjadi pangkal haloganisme, kebrutalan. Semakin berani orang melakukan pelanggaran-pelanggaran agama, toh nanti diampuni olehTuhan. Semakin berani orang merampok, toh tinggal dibayar. Semakin berani orang korupsi, toh akan beres dengan duit. Yang baik menjadi jahat, yang jahat makin menjadi-jadi jahatna. Karl Marc kecewa lalu menarik kesimpulan dengan emosional, agama tak ubahnya seperti tirani, penjara kehidupan. Lalu termopoh-mopoh mengatakan ” Semua agama adalah candu”.
    Kalau Karl Marc menyatakan semua agama adalah candu, berarti Karl Marc berkata, semua berkaki empat adalah kerbau. Padahal tidak hanya kerbau yang berkaki empat, kucing, anjingpun berkaki empat……..

    • Terima kasih sudah mampir, socrates modern. Sejarahnya bagus sekali.
      Saya akan coba ulas, mengenai pernyataan sampeyan yang terakhir.
      Penurut penafsiran sampeyan mengenai “semua agama adalah candu” yaitu “semua berkaki empat adalah kerbau” ini objeknya binatang kan ya? Kerbau di sini saya tidak yakin dimaksudkan ke bentuk fisiknya, melainkan sifatnya. Kerbau itu tidak berilmu, keras kepala, dipelihara, bisa dimakan, dan memiliki sifat kebinatangan. Bukankah semua binatang berkaki empat juga begitu? Namun, tafsiran saya adalah Karl Marx ingin menyampaikan bahwa agama tidak lagi membawa kedamaian karena ilmu dan akal manusia yang kurang. Bayangkan, segala macam kerusuhan dan pembunuhan yang terjadi sekarang ini atas nama agama, atas nama tuhan.
      Begitukan kenyataannya?

  26. socrates_modern

    Orang-orang seperti Karl Marx menganggap bahwa agama sudah tidak sanggup menjawab kebutuhan umat manusia dan tidak lagi sesuai dengan zaman. Akibatnya mereka mencari solusi, alternatif lain yang dapat menjawab problemanya. Sehingga sengaja tidak sengaja, sadar tidak sadar lahirlah agama baru atau memang mereka melahirkan agama baru itu. Sisi lain mereka menjadikan agama hanyalah mitos-mitos lama, cerita-cerita sakral. Kalaupun yang dihidupkan dari agama adalah ritual rutinitas bukan ritual yang berkualitas.
    Ada jg yg menyatakan “otakku adalah Tuhanku” dengan kemampuan otak, olah otak melahirkan ilmu pengetahuan, science. Dari science melahirkan teknologi. Dengan teknologi, segala urusan manusia akan dapat dicapai dengan segala kemudahan. Maka saat itu manusia tidak lagi membutuhkan agama. Bahkan titik klimaknya mereka menganggap, bukanlah Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang mengada-adakan Tuhan, alias manusialah yang menciptakan Tuhan.
    Dengan alibi yang sangat nakal mereka bertanya;
    Kalau memang Tuhan itu ada, lalu dimana adaNya?
    Kalau memang Tuhan itu ada, kapan adaNya?
    Kalau memang Tuhan itu ada, bagaimana wujudNya?
    Maka tidak mustahil ada agama yang mewujudkan Tuhan dalam bentuk benda-benda, hewan, manusia,, sangat unik kan! Tuhan dipersonifikasikan dalam bentuk manusia.
    Dari Pernyataan itu maka lahirlah suatu Pertanyaan
    Kalau memang alam raya ini ciptaan Tuhan, dan itu menjadi alasan semua agama, lalu siapa yang menciptakan Tuhan?
    Apakah semua agama tidak sanggup menjawab kebutuhan umat manusia dan tidak lagi sesuai dengan zaman?
    Manusia yang bagaimana yang pantas beragama? Apakah manusia kalau sudah cerdas tidak lagi membutuhkan agama? Dalam artian lain agama hanyalah milik orang-orang bodoh, orang-orang terbelakang, lalu kesan agama adalah kesan keterbelakangan, kesan kampungan.
    Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, diperlukan pengkajian obyektif bukan subyektif, rasional bukan emosional, bahasan otak bukan hati. Mengapa? Jika pengkajiannya berdasarkan subyektif, emosional atau hati maka hasilnya adalah nisbi, relative dan semu alias kebenaran yang semu atau terbatas.
    Semua agama benar, menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing, adalah benar tidak salah, karena menurut kepercayaanya masing-masing hasilnya relative.
    Tetapi kalau dikaji secara rasional , obyektif tidak mungkin semua agama benar, pasti ada kebenaran mutlak diantara kebenaran nisbi, pasti ada kebenaran obyektif yang umum diantara kebenaran subyektif yang terbatas. Pasti ada Agama diantara Agama-agama………………….

    • Kalau semua agama benar, kenapa ada pertikaian atas nama agama? Kalau semua agama cenderung tidak benar, kenapa diciptakan? Menurut pandangan saya adalah agama tidak seperti ada pilihan diantara pilihan, dan sejatinya menjalankan nilai moral agama dengan yang tidak, tidak ada kesan kampungan… Nah, kalau menurut sampeyan ini bisa jadi berbeda… dan perbedaan adalah seni….
      Terima kasih masih mau mengomentari mas socrates…

  27. makasih yah, tugas aku terjawab tentang apa kelebihan dari teori marx, yaitu kita jadikan pengandaian jika gaada agama. haha
    tapi cuman pengandaian yaaaa :)

  28. Ada ya agama yang mengajarkan untuk menjelek-jelekkan agama lain?

    • Wah seru banget ya diskusinya..:) dalam kitab suci agama yang saya anut (islam) jelas tertulis “sampaikanlah (firman Ku) walau cuma satu ayat“.. di satu sisi jelas tertulis “tidak ada paksaan dalam agama“ .. ada surat al maun dimana Tuhan mengecam orang yang tidak peduli atau berbuat dzalim pada anak yatim dan kaum miskin .. Artinya apa ? Setiap agama/isme/ideologi/ajaran selalu bisa dimaknai dari banyak sisi .. Ada sisi ritual dan sosial .. sisi klaim kebenaran internal dan toleransi keluar (buat mereka yang tidak sepakat) .. sisi lahiriyah/material dan sisi batiniah/esoteris.. dan semua sisi itu bisa dipahami mulai dari yang paling ekstrim hingga yang paling moderat..jadi dunia tidak hitam putih tapi penuh warna karena memang sunatullah diciptakan seperti itu..tidak mungkin ada masyarakat tanpa kelas, tanpa agama, tanpa aturan tanpa budaya karena memang manusia diciptakan berbeda2..ada kaya miskin, warna kulit pun dan bahasa pun beda2 kaya pelangi..hehe..so kedamaian tercipta bila tiap2 pribadi bersikap arif dan bijak dalam menghadapi pernbedaan2 itu..

    • Tidak ada.
      Hanya saja penganutnya entah dapat ilham dari mana sampai bisa bertingkah seperti itu.
      Makasih mas fathan kunjungannya. Mampir lagi setelah ada postingan baru ya..

  29. Sama sama bung mew da vinci .. salam kenal juga :)

    Kita memahami bahwa sosok manusia terdiri dari jasad or materi serta rohani. Manusia juga mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Manusia punya akal or logika sekaligus keyakinan spiritual. Itu adalah sunatullah..fitrah yang tidak bisa dihindari oleh seorang manusia, apapun agama atau ajaran yang mereka anut. Bila semua sisi tadi seimbang, maka manusia akan bisa tampil membawa misi kedamaian di muka bumi ini ..

    Bahkan seorang penganut ajaran komunis paling ekstrem sekalipun, yang fanatik terhadap teori perjuangan kelas dan meyakini filosofi materialisme historis, tidak bisa lepas dari kenyataan ini. Kaum komunis punya istilah bagi tokoh komunis yang telah wafat yaitu “meninggalkan kita untuk menghadap Karl Marx“ ..

    Coba resapi dalam dalam kalimat di atas .. ada nuansa spiritual, ada nuansa kepercayaan pada yang gaib, disertai semacam keyakinan bahwa ada alam lain di sana bagi seseorang yang sudah meninggal..dan Karl Marx sedang menanti di sana .. :) semacam keyakinan spiritual bagi penganut ajaran komunis..sebagaimana penganut agama percaya pada sorga :)

    Alangkah indahnya bila tiap manusia hidup damai dii dunia ini .. Salam

  30. hmmm….menarik….karl max punya doktrin ini agama punya doktrin itu…

  31. Agama adalah candu masyarakat? teori usang itu. Soalnya pada masa Karl Max belum ada facebook, twitter, bbm, playstation, dll

  32. All thinking men are an atheists – Ernest Hemingway

  33. Well,menurutku proses spiritualitas seseorang baik untuk kesehariannya sendiri. Dan berarti agama bagiku hanya merupakan satu dari begitu banyak pilihan untuk menjalani proses spiritualitas. Ada yang memilih dengan mabuk, dengan meditasi stoik, atau meditasi kebisingan, meditasi keheningan, dan ada yang memilih meditasi dengan yoga atau shalat. Itu tinggal perkara selera.

    Lagipula apakah bedanya nabi dan filsuf? Nietzsche dan Muhammad? Bila kamu menjawab bahwa perbedaannya terletak pada mukjizat dan wahyu; maka jawabanku adalah perbedaan dari Nabi dan Filsuf terletak pada sejauh apa orang-orang di sekeliling mereka mempercayai omongannya. Apalah bedanya Muhammad yang pergi menyendiri untuk mendapatkan wahyu, dengan Nietzsche yang menyendiri untuk mendapatkan ide. Nabi dan Filsuf adalah para pemikir yang memiliki pemikiran mengenai “bagaimana sebenarnya kita harus memandang hidup”; dan itulah isi dari kitab mereka. Cara untuk memandang dan menjalani hidup menurut mereka; dalam Qur’an, dalam Thus Spoke Zarathustra, dalam Injil. Untukku, agama adalah filsafat yang dibumbui dengan kisah mukjizat dan keajaiban.

    Yang aku benci adalah cara praktek agama yang mengamini kekuasaan kapital, serta memaksakan kebenaran yang mereka percayai kepada orang lain, dengan cara apapun. Pada titik itu, itu bukanlah lagi spiritualitas personal yang berada diluar pemikiran keseharian. Ia sangatlah banal, memuakkan, dan hanya mengamini pembentukan neraka bagi orang lain; demi membangun kondisi yang menyenangkan bagi mereka. Agama yang se-egois itu untukku adalah hal yang munafik, basa basi dan pengecut. Tidak ada sama sekali hal yang menarik dari melakukan sesuatu hanya karena kamu disuruh melakukannya, karena kamu menghindari hukuman bila tidak melakukannya, dan mengharapkan imbalan karenanya.

    Agama seperti itu, hanya berpura-pura mencintai cinta dan kebebasan. Karena yang mereka lakukan hanyalah menghidupi kebohongan dan pembenaran, agar mereka tetap dapat melakukan hal-hal memuakkan yang mereka lakukan dengan wajah tanpa rasa bersalah. Padahal tidak ada kesadaran di dalamnya.

    Dan itulah mengapa aku membenci agama semacam itu, dan mengapa aku muak kepada bisnis perdagangan nyawa dalam sistem ekonomi kapitalisme yang dielu-elukan para kapitalis.

    Agama seperti itulah yang kukira disebut Marx sebagai candu yang hanya berfungsi sebagai pengontrol agar mereka yang tertindas tidak mengamuk, dan agar mereka yang serakah dan mengambil keuntungan dari penindasan dapat merasa lebih baik dan ‘suci’.

  34. Suka atau tidak suka agama itu kebutuhan manusia sebagai sarana untuk melihat Tuhan lebih dekat. Hanya saja banyak orang yang terlalu pintar sehingga memanfaatkan perbedaan dalam agama untuk keuntungan pribadinya. Agama sebagai sesuatu yang seharusnya personal menjadi kepentingan suatu kalangan untuk menyerang kalangan lain. Tapi kalau memang mau membasmi agama biar dunia damai apa bisa?

  35. Mungkin… jika memandang alam sekitar kita sekarang, pangdangan marx ada benarnya. Kita lihat sekarang bagaimana agama hanyalah suatu alat untuk mencapai tujuan dunia saja, para kyai ataupun ulama bergelimang harta, sedang umatnya tidak mampu beli beras, banyak ustadz yang semula hanya penjual es di terminal menjadi kaya raya karena mendapat kontrak di TV, banyak orang gagal jadi artis tapi sukses mendapat uang banyak karena menjual ayat-ayat kitab suci di televisi, bahkan kalo kita lihat di TV , ” ayat-ayat suci pun dikorupsi ” . Mungkin karl marx ( termasuk saya ) frustasi melihat kenyataan ini . Tapi saya pernah bertemu seseorang yang bosan dengan kekayaannya dan lebih suka menyendiri menjadi pertapa di daerah turgo ( merapi – jogja ). Jadi………..apakah agam itu baik atau buruk , saya nggak perdul;i , yang penting jadilah orang yang baik , sabar, nrimo , eling dan waspodo.

  36. wow, mendebat agama? :D :D

  37. END nya disini adalah kaum materialisme yang notabenenya adalah ateis, mereka mencoba untuk mendoktrin agar supaya kaum yang beragamawan mengikut arah pemikiran kaum materialisme dengan cara mengatakan bahwa agama adalah candu, agama membawa kerusakan, agama adalah sumber dari semua konflik…padahal tidak sama sekali,
    itu hanyalah skenario karl marx dan pengikut pengikutnya yang ideologi atau pandangan hidupnya materialis. yang dimana semasa hidupnya hanya digunakan untuk mengumpulkan kekayaan, dari sinilah kenapa karl marx mengeluarkan teori, agama adalah candu, agar gerakan gerakan mereka tidak terikat oleh agama..bagi mereka agama membatisi meraka untuk bergerak secara universal..

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s