Terima kasih telah membaca. Ini bukan karya ilmiah melainkan layanan curhatasi.
Sebagai pria yang sudah berumah tangga, saya sudah bosan menghadapi wanita paruh baya di rumah saya yang menuntut ini-itu yaitu, istri saya.
Padahal, sewaktu pacaran dia sangat perhatian dan pengertian. Ketika sabtu saya mengatakan bahwa tidak sempat apel malam, ia memaklumi dan tidak pernah marah. Tutur katanya yang lembut dan menyejukkan, (sekali lagi) tidak pernah marah atau menuduh yang bukan-bukan. Senyumannya sering membuat saya terbang, seakan dia bidadari yang nyasar ke bumi lalu bertemu saya.
Padahal, sewaktu masih bujangan ia selalu mengatakan dengan penuh kasih sayang seperti Shinta, dalam tokoh pewayangan yang lemah gemulai, bahwa dia menunggu saya. Dulu, belasan bulan lamanya, ia mampu meyakinkan saya bahwa dialah wanita yang selama ini saya cari dan idam-idamkan.
Tapi apa yang terjadi setelah kami menikah?
Saya harus selalu ada, menemaninya kapan saja dan dimana saja. Saya harus sarapan di rumah. Saya harus makan berdasarkan menu yang sudah ia rancang, tidak peduli saya suka atau tidak. Rokok dan asbak, sahabat saya, disingkirkan keluar rumah tanpa kompromi. Saya harus menomorduakan pekerjaan saya yang notabene menopang ekonomi keluarga, bukankah saya harus profesional karena uang yang saya cari akhirnya untuk dia juga? Saya harus berterus terang dan rela dimarahi-dimusuhi-diomeli-disinisi-kalau perlu diberantaki ketika, yang ucapan saya salah. Saya tidak boleh mengeluh kalau istri saya menelpon atau mengirim sms kapan pun ia mau. Saya dipaksa ikut merapikan rumah walau saya ingin bersantai di hari minggu atau pergi fitnes dengan kolega. Saya dituntut untuk terus bersabar dan mendengarkan segala ceritanya walau hal itu tidak terlalu penting atau membosankan. Kadang, dengan seenaknya ia memelas-meminta-menyuruh-menuntut saya untuk menemani shopping atau mengantar arisan-belanja-salon-spa-yoga-senam-check up-treatment-jogging-rekreasi-cuci mata-berkebun, singkatnya, “apa istri saya kini sudah menjadi 40 persen majikan, 35 persen mandor, 10 persen penyiar radio dan 5 persen istri?”. Banyak hal lain yang tidak bisa saya ceritakan dan membuat saya rasanya ingin terjun ke kawah gunung sambil berlinang air mata.
Namun, dititik jenuh saya. Di saat saya ingin segera pulang kantor, menemuinya, dan bertengkar dengannya, ia langsung berubah.
Ia menjadi wanita penuh senyum. Sapaan pertama yang ia berikan adalah, “Eh, papa sudah pulang. Di meja udah mama siapkan: teh, kopi, susu, jus dan air putih, papa tinggal pilih mau yang mana, kalau gak haus disimpan aja ya buat nanti. Mama juga udah masak buat makan malam. Papa udah makan di luar? Kalau belum, mau mama siapin atau makan di luar aja pah? Air hangat juga udah siap, kalau papa mau mandi”. Gerakan yang ia buat pertama kali adalah tersenyum seolah ia gembira dan tanpa dosa. Pertanyaan yang ia berikan tentang dunia saya adalah, “Gimana kerjaannya pah? Gimana seharian?” Ia membantu saya melepas seragam dan terakhir memberi kecupan mesra di pipi. Kemudian tersenyum.
Saya bahagia. Apakah istri saya sudah bertobat? Apakah doa saya terkabul? Setiap hari selalu begitu. Adem-ayem. Tenang. Sejuk. Damai dan sepi.
Perubahannya sangat terasa. Tidak ada lagi telepon atau sms yang masuk darinya. Tidak ada lagi permintaan untuk menemani kemana pun ia pergi. Setiap minggu, ia membiarkan saya tidur seharian dan ketika bangun rumah sudah rapi dan bersih dengan dekorasi ruangan yang baru serta segar. Ia pergi arisan. Saya pergi fitnes dengan kolega. Ia ke salon dan spa, pulang dengan segar dan cantik. Saya bermain golf. Ia berlatih yoga. Saya minum kopi di kafe. Dan saya seperti kembali bujangan. Ia ingin tahu soal saya dan menjadi pendengar yang baik. Saya tidak sedikitpun diberi celah untuk tahu soal dia. Ia tidak lagi marah. Saya mulai jengkel. Ia selalu tersenyum. Saya mulai cemberut. Saya menyampaikan unek-unek saya. Ia hanya tertawa dan memeluk saya. Ia adalah istri saya tapi membiarkan saya bertindak seolah masih bujangan. Saya menginginkan istri saya yang selalu mengharapkan kepulangan saya!
Jadi, tolooong! Kembalikan istri saya…

Hahahahha…..inspriratif Fie. Kadang manusia ketika menginginkan yg terbaik untuknya dan menurutnya itu yg terbaik, ternyata [ada kenyataannya sama sekali tidak. So, hadapi dan diterima hidup ini dengan apa adanya. Dinamika adalah perubahan yg menjadi kehendak, bahwa kita masih berpijak di bumi yg fana ini.
Tumben nulis lagi Fie?
babeh, bisa aja hahaha… makasih beh.
iya udah lama pasang surut
setuju! ikhlas atau pasrah
hmmm, curhatan sapa nyuuut??? ato barang kali pengalaman pribadi?
Yach lika-liku hidup, kadang pingin A, kadang B. Yang jelas, seandainya kita mau lebih banyak bersyukur…insa allah hal tersebut tidak akan terjadi.
Nau’dzubillahimindaliq.
wihihihi…
masa pengalaman pribadi? nikah aja belum je
hayoooooo ngerasa gak tuuh?
coba periksa lagi kamar mandi anda, mungkin masih bisa ditemui sedikit noda darah ditemboknya. Disinyalir, istri anda pernah terjatuh di situ dan kepalanya terbentur keras sehingga sedikit amnesia. Solusinya silakan benturkan kepala istri anda ke tembok sekali lagi, maka otaknya akan nge-reset lalu sikapnya akan kembali seperti dulu.
DC: alternatif solusi yang cerdas
ini benar-benar tanpa riset, pengujian dan uji coba sama sekali. Juga belum pernah diseminarkan dimanapun. Jadi, segala ‘manfaat’ dan akibat yang timbul silakan ditanggung sendiri. Terima kasih, salam.
jangan tiru di rumah! adegan berbahaya.
anak di bawah 18 tahun, jangan uji coba atau tes kelayakan ya…?
astaga naga…….inilah hidup penuh dengan perubahan….jadi harus banyak bersabar dan bersyukur…..
mana naganya? :p
jadi gimana calon istrimu?
And at the end, the missing link is just only a word….. [Understanding]
and the faithful ending at the end and the end and the last from the last….
keep searching the missing link… hihihi
Pengalaman pribadi atau cikal bakal pengalaman pribadi nih..
semoga bukan cikal bakal pengalaman pribadi sampeyan ya haha…
gut.. gut… gut… pengalaman setelah ngobrol sana sini sama temen2 aku (temen laki2) yg sudah beristri… kesimpulan yg aku tarik dan aku juga ngerasa sependapat,
istri semakin mandiri… suami makin cinta dan sayang… tapi istri semakin mandiri, rasanya sang istri jadi semakin “jauh” – kejar-kejaran jadinya
hehe… iya bang, tepat!
solusinya sieh, istrinya juga harus tahu kapan mandiri, dan kapan membuat suami ngerasa kayak super hero.
dan timbal baliknya pun, sang suami harus selalu membimbing sang istri agar selalu terarah dan gak ngerasa sendirian..
nyelipin komentarnya bang wuller: “understanding”
waduh aku bangt th,, jadi harus manja ya ma suami,, harus jd majikan,, penyiar radio ,, gi mana sh,, ntar di bilang bawel,, kalo mandiri salah juga … kayak’a harus seimbang dh ..
setuju! memang begitu..
ini nih ceritane lagi iming-imingi saya yang masih belum nikah yo…
lho? mas, sampeyan belum nikah? jarane sinten ngono, “sampun mas”
Kunjungi http://www.wisnuvegetarianorganic.wordpress.com/
baik. segera saya kunjungi. terima kasih.
Semua pengalaman dan perjalanan hidup pasti ada kebaikan sesudahnya hehehe.. maka nikmati saja….
setuju mas han!
ada apa nh? og gak da pergerakan ?
sabar… ada inspirasi yang harus dituang lebih cepat daripada jari..
waduh, jadi takut nikah nie…
semoga gak gugup pas ijab kabul ya mas…
jalin komunikasi lebih baik lagi..
semoga jadi pelajaran.
salam persahabatan mas. dan salam kenal
salam kenal juga buat mas Aan.