Arsip untuk puisi kategori

Selamat Berbahagia

Dikirim puisi pada Oktober 31, 2007 oleh mew da vinci

mawar-mawar kuikat dengan pita doa
dan kusemprotkan parfum air mata
harapanku membungkus ditangkai
kupejamkan mata
putih berbaur merah muda terbayang
juga kamu, gagah dengan jas hitam
melempar langkah pelan-pelan
di atas garis merah berlatar putih
dengan tangan menggenggam, bukan tanganku
tidak juga wanita dalam kisahmu
melainkan satu bunga tujuh warna
berikrar dalam balutan melati, mengerudungi
kutatap empat telaga di altar
kau dan dia berbalas senyum
ah, kini mata telah terbuka
tak ada lagi bayang-bayangmu
ini buketmu, aku akan segera menyusul
harapku.

Puisi Terburuk

Dikirim puisi pada Agustus 21, 2007 oleh mew da vinci

foto usang terpajang
pigura tua dengan retaknya
lilin tertiup duka membayang
dalam isak diam ditelan malam

tubuh bermandikan doa
gayung air mata menyiram tanah
papan memberi nama

merebah resah
lelapkan kata yang entah
sematkan bunga malam

catatan:
puisi berjudul “Puisi Terburuk” telah diubah dengan bantuan blue4gie pada tanggal 06 September 2007 , 17:59. Terima Kasih, Untukmu.

Relakan aku, kakakku sayang

Dikirim puisi pada Agustus 12, 2007 oleh mew da vinci

Kak, maafkan aku
mataku sembab lagi
kali ini bukan karena duri di jari
melainkan peti mati.

Kak, bila aku pergi
tolong jangan minta aku kembali
kirimi saja aku doa
rawat juga rumah baruku.

Maafkan aku, Kak
jika lain waktu kita bertemu
jangan kau teriaki aku
atau menangis tersedu.

Jangan lupa sampaikan salamku pada bapak dan ibu
katakan aku baik-baik saja
bila dulu hati bagai batu beku
kini ia dalam gigil rindu.

Terhambat Kegelapan

Dikirim puisi pada Juli 24, 2007 oleh mew da vinci

Sederet lilin-lilin kecil
padam bergiliran
butakan pandangan
meragu pada pegangan.

Sederet lilin-lilin kecil
sempat menyala terang
mengembalikan harapan
bagi Sang Petualang.

: yang telah meyatu pada gundukan bertabur bunga, bertuliskan:
terbaring jiwa yang selalu sendirian.

Lekas Pulang, Tuan

Dikirim puisi pada Mei 25, 2007 oleh mew da vinci

aku wanita dalam lukisan
hitam dan putih
bernaung di gudang tercampakkan
bergumul denganĀ  debu yang menyerpih

aku wanita dalam lukisan
kelabu dan kesepian
rindu tuanku pandangi aku
rindu beliau menghalau debu

aku wanita dalam lukisan
tiap pagi siang malam
berlutut pada-Mu, Tuhan
kembalikan pangeran berkuda hitam

aku wanita dalam lukisan
menunggu dalam diam
bertanya pada rongsokan
kapan Tuanku pulang?