Kenangan Dalam Sekarat #2
Kupandang gerimis sore-sore. Kakiku terhenti di depan sebuah toko. Tempat yang setiap hari aku kunjungi. Tempat dimana kaki, setiap pagi berlari kesana. Kini aku kembali tapi untuk pergi. Kuketuk pintu: permisi, sapaku. Tiga pria dan satu wanita duduk berdampingan. Hey! Ayo duduk, sambut mereka. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Sanggupkah atau haruskah?, batinku meragu. Ruangan hening. Bunyi tak-tik-tuk keyboard dan klik-kluknya mouse, mengisi jeda. Aku buka topik. Kutanya kabar. Seolah ku tak tahu apa pun. Mereka banyak bercerita tapi telinga mungkin tersumpal. Entah kemana hatiku, melanglangbuana. Hanya suara-suara menggebu dan bertanya: kapan giliranku? inikah saatnya? Haruskah kukatakan? Sanggupkah?. Aku menunggu dalam ragu.
Waktu terus bergulir. Lidahku sepi. Mataku penuh arti. Banyak yang ingin kuutarakan. Banyak yang ingin kudengar. Banyak yang ingin kubagi. Banyak yang ingin kusimpan di memori. Ini terakhir, tersenyumlah!, seruku berulang-ulang pada diri sendiri.
Kuperhatikan satu persatu kawan-kawanku. Pria hitam bertubuh gemuk dan kecil yang menempati meja kerjaku, kali ini tampak rapi dengan kemeja biru dan celana panjang satin. Sweater hitam kesayangannya hanya disampirkan di dada. Tak ubahnya aku ketika duduk disitu dulu. Pria tinggi besar berkulit sawo-matang yang dulu adalah rekan kerja yang selalu satu ruangan denganku tampak tegang dan kuyu. Mata beloknya terus menerus memelototi monitor dengan dahi berkerut. Kusimpul senyum: Masihkah ia kelelahan seperti dulu? Bisa-bisa ia tertidur setidaknya lima menit, batinku. Pria cokelat berperawakan tinggi dan kurus dengan rambut dibelah tengah, bekerja sendirian diruangannya yang letaknya tepat didepan ruanganku, ia juga tampak tidak bersemangat. Ia bekerja dengan tenaga dan semangat seadanya. Pandanganku terus menyapu tiap sudut ruangan, mencari pria yang postur tubuhnya tak jauh beda denganku dan seorang pria botak yang juga berperawakkan tinggi dan kurus. Ah, aku lupa hari ini mereka libur, kedatanganku pun begitu mendadak, batinku. Wanita dengan khas cina di sebelahku terus memandangiku dengan sinar di mata sipitnya. Ia terus memberi kabar. Aku hanya manggut-manggut, cengar-cengir, dan menatap matanya lekat-lekat ketika ia bercerita. Baru kali ini ruangan begitu adem. Baru kali ini pula, kulihat mereka semua memandangku teduh. Tak ada ceria. Tak ada semangat. Dan ada yang tertahan. Mungkinkah karena aku? Atau memang sudah begini?, tanyaku dalam hati.
Lutfi?, sapa salah seorang rekanku. Ia pun juga mulai menanya kabar. Aku menjawab seadanya. Tak sanggup ikut bertanya. Walau hatiku terus mendesak untuk bertanya: pada kangen aku gak?. Ah, aku memang tak pandai bersuara. Hanya bisa mengulum senyum dan berisyarat. Dengan terbata aku meminta: Tolong putarkan J-Rock, dunk, ceria ya. Salah satu dari mereka mengacungkan jempol: Pasti!. Tapi ucapan hanya ucapan, hanya kulihat punggung dan nada dipaksa bersemangat. Lagu pun mengalun. Bukan judulnya, maksudku bukan judulnya, kataku lirih dan pelan. Seisi ruangan menoleh padaku. Menatap kedua bola mataku dalam-dalam menggapai-gapai dasar hatiku, seakan memintaku mengulang perkataanku sekali lagi.
Aku menunduk. Menghela nafas. Kuajak pandanganku menyorot kebelakang. Kutahan dan kusimpan bekas senyum tadi. Lara tak terbaca, harapku.
Inilah penghujung acara. Akhir cerita. Kan kututup dengan doa. Mata kubinarkan dengan paksa. Senyum kukembangkan menyembunyikan duka. Tak ingin ada air mata. Aku mulai berpamitan. Perempuan yang sejak tadi berbincang denganku, tak kusangka ternyata air matanya tumpah juga: Jaga dirimu, ia berpesan. Ya, kataku mantap. Tolong jangan menangis, hatiku ikut terisak. Mereka semua menyalami dan menepuki pundakku. Aku terus berseru dalam hati: Ini yang terakhir, ucapkan selamat tinggal, lekas! Kapan lagi?. Namun tenggorokkan tercekat. Benakku: Mungkin tak lagi sempat. Dalam haru biru, akhirnya kuluncurkan kata: Terima kasih.


Agustus 18, 2007 pada 6:22 pm
Ceritanya makin biru. semoga kalbu tidak mengelabu. entah apa yang terjadi saat ini. entah apa yang kamu pikirkan saat membuat tulisan-tulisan itu.
aku harap akan muncul satu cahaya dihatimu.
tidak lagi gulita. bukan lagi remang. dan tak kan padam hingga akhir usia.
aku harap bukan senyum-senyum bekas untuk dibekaskan.
aku rasa dengan melihat fotomu dan membaca tulisanmu aku sudah cukup mengenalmu. orang yang selalu mempunyai ruang bagi siapa pun. selalu menambal lubang-lubang rindu. sorot mata penuh ketulusan dan memberi rasa percaya.
September 6, 2007 pada 1:17 pm
apa kisah ini masih patut dibaca?
Nopember 17, 2007 pada 7:55 pm
jadi intinya?