Ketika saya mengatakan kepada semua orang bahwa saya akan mengambil Studi di Belanda dengan mengikuti kompetisi blog yang diadakan Neso Indonesia, saya menerima respon berupa kening berkerut-kerut atau ekspresi sangsi lainnya menanyakan: “Oh ya? Berapa lama? Gimana prosedurnya?”
Seperti biasa, saya memberi tanggapan standar dengan meminta melihat hasilnya. Sebenarnya, gak semua orang menanggapinya seperti itu, beberapanya malah menyemangati atau cuek saja, bisa jadi karena tahu kalau saya cuma anget-anget tai ayam, kalau tai-nya sudah dingin ya beres atau malah cari hal-hal yang bikin tai-tai ayam anget lagi.
Ini kelemahan saya yang paling dominan. Saya sadar dan lama-lama butuh sesuatu yang mampu “menggampar” a.k.a bikin syok biar makin nyata perubahannya.
Namun seseorang mengatakan bahwa untuk sebuah perubahan jangan biasakan nunggu tapi lakukan. Tidak butuh instruksi tapi inisiatif. Tidak hanya wacana tapi realisasi.
