Burung Camar Di Pucuk Tiang


Alkisah seekor burung camar. Bertengger di pucuk tiang kapal milik seorang kelasi rendahan. Matanya menatap samar ke depan. Biar kuterka, pikirannya sedang mengambang ke awang-awang, pun jika dia memang punya pikiran. Sesekali dia melompat kecil, membetulkan cengkraman.

Kapal tanpa layar mengapung di tepi pelabuhan. Kadang berayun ke kanan, kadang ke depan. Kemana pun laut mengombang-ambingkan, pastilah dia akan kembali ketepian. Berterima kasihlah pada seutas tali yang mengikat erat di pinggiran. Adakah yang penasaran dengan kabar Sang kelasi rendahan?

Dialah si Pemilik kapal. Yang acap kali saya sebut sebagai primata jelata kasta rendahan. Cita-citanya menjadi nelayan, walaupun dia sempat berangan-angan memainkan peran sebagai bangsawan. Namun, kisah klasik yang ia dengar dari benua seberang, juga sempat membuatnya berkhayal mengarungi lautan bagaikan bajak laut. Berselimut ombak yang menggulung, katanya. Sembari mencari intan, permata, dan zamrud.

Alkisah seekor burung camar. Dia masih tertegun di ujung sana.

Iklan

Hara Dan Mana


Dulu, yang tidak diketahui kapan masanya. Bertemulah dua ekor beruang di tengah hutan pinus. Yang satu berperawakan tinggi, tegap, ramping, dan bermata jeli. Bulu hitamnya tampak berkilauan dan sehat. Sedangkan, beruang satunya berbulu kuning pucat. Tingginya hanya setengah dari beruang hitam.

Mari kita beri nama. Beruang hitam adalah Hara. Dan beruang kuning pucat bernama Mana.

Kala itu merupakan pertama kalinya Hara dan Mana berjumpa. Melalui sebuah festival anggur yang diselenggarakan oleh Organisasi Madu Hitam.

Mana yang sehari-hari mengisolasi dirinya sendiri, tidak menduga bahwa dia akan mengulangi sejarah 5 tahun lalu. Bersama Hara. Iya, bersama Hara yang baru saja dikenalnya.

Benarkah? Atau itu hanya imajinasi Mana yang berlebihan akibat sisa traumatis?

Tidak ada satu beruang pun tahu tentang apa yang dipikirkan oleh Mana, kecuali meyaksikan sikap Mana yang mendadak kasar, agresif, dan impulsif kepada Hara. Disebabkan rasa cemas dan gelisah memikirkan takdir mereka yang belum tentu terjadi.

Hara dan Mana. Tidak seekor beruang pun tahu mengenai kelanjutan kisah mereka berdua. Mungkin kah berhenti sampai di sini? Ya, mungkin lebih baik berhenti sampai di sini.

Atau kah Sang Raja Hutan akan menuliskan kisah mereka berdua dengan lika-liku yang lebih apik dan romantis?

Sungguh menyedihkan. Mana yang bodoh. Takdirnya bertemu dengan Hara tidak bisa dia tolak, pun tidak pernah bermaksud untuk menolak. Tapi, memang dasar Mana adalah beruang bodoh dan lemah. Yang bisa dilakukannya hanyalah berlari dan bersembunyi. Lalu, menyerang siapapun yang mendekati sarangnya, sambil berharap pertolongan dan titah Sang Raja Hutan segera diputuskan.

Mana yang bodoh. Dia lebih memilih kehilangan Hara, ketimbang diabaikan Sang Paduka. Kali ini, Mana benar-benar bodoh. Dia tampar Hara menggunakan kata-kata busuknya demi melindungi sisa-sisa kewarasannya.

Mana adalah beruang paling bodoh sehutan raya. Tidak ada lagi yang lebih bodoh dibandingkan Mana Si Pucat. Saban hari dia merapal mantra, “Jangan mendekat. Aku terpaksa begini. Ini yang terbaik untukku.”

Mana, kamu benar-benar beruang pandir. Hanya demi Paduka Raja Yang Mulia kamu dorong Hara dengan cara yang kasar, lalu kamu abaikan dia.

Mana, kamu bodoh. Tapi semoga saja dengan kebodohanmu sekarang, Sang paduka akan terkesan kepadamu, lalu dia hadiahkan sesuatu yang akan melegakan hati dan jiwamu hingga akhir hayat.

Mana adalah beruang bodoh.

Everything Is Under CTRL


Enak ya, kalau bisa jadi blogger curhat. Apa aja diceritain. Semuanya dibagiin. Segalanya tinggal shar-sher-shar-sher (slank dari kata “share”). Tapi, khusus saya di masa kini, sudah gak bisa begitu lagi. Semakin banyak yang ngejagain. Semakin banyak yang ngontrol. Ada, tapi gak kelihatan. Nyata, tapi gak terpindai.

Pokoknya, tahu-tahu kabarnya nyebar. Tahu-tahu nasehatnya mengetuk layar handphone. Tahu-tahu sudah diajak ngobrol dari hati ke hati. Tahu-tahu sudah disentuh lagi hatinya dengan siraman rohani.

Enak ya, kalau bisa jadi blogger gaul. Bisa menyorot banyak hal. Bisa mengabadikan ini dan itu. Bisa berceloteh macem-macem. Unlimited lah. Break the limits lah. Go forward. Intinya, we are the champions! Tapi, khusus saya di masa kini, sudah gak boleh begitu lagi. Semakin banyak rambu-rambunya. Semakin banyak pengalih perhatiannya. Semakin banyak black mail-nya. Bebas, tapi diarahkan. Boleh memilih, tapi sesuai koridor.

Pekan lalu, saya habis ngomongin orang. Saya kira cuma sebentar aja ngegossipin orang. Tapi, beberapa menit kemudian sudah ada yang berdehem. Karena saya belum ngerti juga, akhirnya beberapa hari kemudian, kartu kuningnya mengetuk layar handphone. Dan akan terus begitu sampai saya tobat.

Ah! Dasar mulut. Dasar jari. Ada-ada saja yang didiskusiin.

Tapi, ada satu yang mereka gak tahu. Yaitu, mereka gak tahu saya punya blog ini! Dan etis gak sih kalau saya mengucap hamdallah? Bersyukur? Menganggap ini bagian dari nikmat?

Sudahlah, saya pikir ini pun akan percuma saja. Karena, lambat laun mereka akan tahu juga. Karena Tuhan adalah Dzat yang Maha Cerdik menyimpan rahasia, sekaligus Maha Jenius mengilhamkan berita kepada orang-orang mukmin yang diinginkan-Nya.

Wahai keluargaku, wahai guru, wahai sahabat-sahabatku, mungkin kalian gak tahu berapa banyak blog yang saya miliki. Mungkin gak bakalan juga kalian nge-stalking-in saya sampai segitunya. Tapi, saya harap, kalian tidak lelah menasehati dan mengingatkan saya sepanjang hidup kita berdua.

Maafin saya ya? Jangan tinggalin saya di dalam/membiarkan saya kembali pada kegelapan ya. Teguran dari kalian lebih ringan dan menyejukkan dibandingkan teguran Dzat yang Maha Lembut dan Melembutkan.

I love you all, because of Allah.

Menghitung Semboyan


Satu, dua, tiga. Tembang itu akan selalu ada. Empat, lima, enam. Tampak matahari bermuka masam. Tujuh, delapan, sembilan. Istana ricuh, abdinya hilang kesabaran.

Satu, dua, tiga. Empat, lima, enam. Tujuh, delapan, dan sembilan. Inilah pagelaran Sang Dalang. Wayangnya lupa dia dalam arahan. Saat di atas, dia berkuasa. Ketika jatuh, merasa nelangsa.