Hujan


Bogor sore ini hujan lebat. Angin bertiup kencang dan gelegar petir mampu membuat berdiri bulu kuduk. Beberapa pejalan kaki dan pengendara motor segera berteduh di tempat terdekat. Salah satunya adalah Deswita yang memilih halte bus, diapit dua gedung. Deswita merasa bahwa cuaca saat itu mendadak buruk. Ia menggigil hingga giginya yang putih kekuning-kuningan bergemeletakkan.
‘Sial!’ keluhnya dalam hati, ‘coba gue bawa jaket tadi. Kan gak sedingin ini.’ ia menghela nafas.
Mata Deswita berkeliaran menjelajah ke setiap sudut jalan raya. Samar-samar ia melihat Ford Ranger maroon melaju dengan kecepatan tinggi dari sebelah kanan sedang menuju ke arahnya. Dan…
BYURRRR…
Ford Ranger langsung melewatinya, menyapu genangan air hujan di jalan raya.
“Aargh!!” jeritnya sambil melindungi wajah dengan tangannya dan berusaha mundur tapi, ia tak sempat menghindar.
Deswita melihat kearah orang-orang yang berada disebelahnya. Ia terkejut, ternyata mereka telah berlindung di balik payung terkembang. Pandangannya terhenti pada seorang mahasiswa yang berumur sekitar 21 tahun, postur tubuhnya tegap dan berisi seperti atlet basket, kulitnya putih bersih, dan style kerennya membuat Deswita seperti tersihir hingga tak mampu berkedip. Cowok itu sedang setengah membungkuk melihat kearah sepatu kulitnya dan mengetuk-ngetukkannya ke lantai. Setelah itu, ia menengok ke belakang celananya dan mencoba menendang angin untuk mengeluarkan beberapa tetes air yang mengenai ujung celana.
“Cute banget…” kata Deswita spontan. Cowok itu menoleh ke sumber suara. Tampaknya, dia baru saja menyadari bahwa tingkahnya sedang diamati. Mereka kini bertatapan. Hanya saja, jika yang satu menatap bingung, yang satunya lagi alias Deswita menatap kagum. Bersamaan dengan itu, ia sedang bermain dengan khayalan noraknya. Deswita membayangkan dirinya terjebak dalam kisah cinta beauty and the beast Versi Deswita. Ia berlakon sebagai adalah the beast, di sihir oleh seorang penyihir menjadi putri buruk rupa. Sedangkan cowok di hadapannya adalah pangeran tampan dan gagah yang datang menyelamatkannya. Dan tentu sudah bisa di tebak kelanjutan ceritanya.
Kembali kekehidupan nyata, saat itu si cowok berdehem-dehem, awalnya Deswita tak bergeming tapi, lama kelamaan Deswita sadar dan keluar dari lamunan. Deswita menunduk sambil tersenyum malu-malu kucing dan melirik kearah jalan raya. Tak lama, ia kembali menatap cowok itu.
‘OMG! Dia masih ngeliatin gue…’ batin Deswita girang.
Cowok itu mengulum senyumnya. Kemudian mengarahkan tatapan matanya ke baju Deswita. Si Cewek menganggap itu sebuah isyarat untuk segera melihat keadaan bajunya. Ia sedikit membungkukkan bahunya, ‘Ach! Gila! Basah banget!’ katanya dalam hati sambil memelototkan matanya dan mulutnya menganga cukup lebar. Ia merasakan bagian belakangnya kering. Keningnya berkernyit dan kembali menatap cemas cowok tadi, berharap ia tidak berpikiran aneh tentang keadaan Deswita sekarang. Kemudian dilepasnya kacamata minus-silindris yang berbingkai coklat muda, dan di lap memakai tissue yang ia keluarkan dari saku celana. Deswita pun melirik lagi ke samping kiri, mencoba mencuri-curi pandang sang cowok. Tapi rupanya, dia sudah menghilang. Ia membalikkan badan berusaha mencari, pergi kemana kah gerangan?
Ketika tengah mencari pangerannya, tatapan mata Deswita berpapasan dengan tatapan seorang karyawati. Bagi gadis SMA kelas 3 itu, tatapan yang ia terima kini adalah sebuah tatapan yang tengah berkata: LOE-CULUN-AND-ANEH-BANGET-SIEH. Karena merasa terganggu maka, segera dipasangnya tatapan mata menantang. Perempuan itu segera melepaskan pandangannya dari wajah Deswita dan melihat ke arah selain bagian teritori Deswita berdiri.
‘Hih! Takut dia… Makanya, jaga tuh mata!’ pikirnya bangga.
Deswita segera membenarkan posisi berdirinya dan kembali menghadap ke jalan raya, ia telah lupa misi pertamanya untuk mencari sang pangeran halte bus.
Saat Deswita sedang memilin-milin rambut ikalnya. Seorang bapak-bapak menaiki motor yang membonceng seorang ibu-ibu berbadan besar dan padat lemak berhenti tepat di depannya. Jaket kulit coklat yang ia kenakan basah. Begitu pula dengan ibu-ibu itu, baju terusan putih bercorak bunga sakura telah basah diguyur hujan. Ibu-ibu itu turun dari motor yang ukurannya sama besar dengan ukuran tubuhnya. Tiba-tiba, sendal hak tinggi cokelat mudanya tergelincir dan tubuhnya menimpa tubuh Deswita. Tentu saja, Deswita tak mampu menahan gravitasi dari dua beban yang tak sama. Bayangkan saja, apa jadinya jika seekor belalang kejatuhan sapi?
“Aduh!” seru keduanya.
Orang-orang di sekitar situ kaget dan spontan memberi jarak dan beberapa diantaranya juga ikut berseru seperti “Eh!” atau “Eits!” atau “Ya ampun!” bahkan ada juga yang istighfar tapi tak satu pun dari mereka mengulurkan tangan.
Deswita saat itu seperti tertindih “bison” jutaan kali karena ibu-ibu itu kesulitan berdiri, bukan hanya karena berat badannya tapi juga tiap kali ia ingin berdiri sendal berhak 5 sentimeternya selalu tergelincir. Dan dengan bantuan sang suami, ibu-ibu paruh baya itu berhasil berdiri tegap. Hanya Deswita yang masih tergeletak. Deswita memandang geram kerumunan orang di kanan, kiri, depan dan belakangnya.
‘Dasar! Cuma diplototin!’ gerutunya dalam hati.
“Bantuin dong!” akhirnya terucap juga kekesalan hati Deswita.
Suami dari Ibu-ibu yang terjatuh tadi datang menolong. Setelah Deswita berdiri ia melihat kaus dan celana jeansnya untuk yang kedua kalinya.
“Yaah, tambah basah deh..” ucap Deswita kesal.
“Eee.. Maaf ya, Neng!” kata sepasang suami-isteri itu sambil cengar-cengir.
“Iya!” jawabnya dengan nada tinggi sehingga, suara cemprengnya menjadi lebih cempreng lagi.
Kira-kira setelah 20 menit berlalu, hujan pun mulai mereda. Deswita segera meninggalkan halte bus itu, begitu pula dengan beberapa peneduh yang lainnya. Kemudian bis jurusan Bogor-Depok yang di tunggu Deswita datang. Ia segera naik dan mencari tempat duduk yang kosong. Karena terlalu lelah ia pun ketiduran. Tapi sesampainya di kawasan Depok. Ia sama sekali tak menduga bahwa jalanan begitu kering! Kering kelontang, tanpa adanya bekas satu tetes air hujan pun!

3 responses to “Hujan

  1. kasian ya mengapa tak ada pangeran lain yang menolong

  2. huwaaa..mew da vinci, ckckck..
    semangat2 miw..keren ah blog nya ini..mgkn ada perbaikan dikit masalah tampilan situs sajah..overall keren ah!
    viva mew

    salam,

  3. # efri
    iya hehehe… seandainya aja saya lebih kreatif😀

    # miw
    iya, makasih ya..
    udah diperbaikin tampilannya.. dikit..

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s