Cerita Lama


Di depan kedai kopi bernama Kedai Subuh Mbok Jah duduk seorang nenek di dipan rotan, ia memakai jarik bermotif batik dan kebaya kain ungu polos. Rambut berubannya digelung. Ia tampak lusuh dan kotor. Raut wajahnya memancarkan kesedihan. Matanya menatap kosong lurus ke depan. Sesekali ia menghela nafas. Bunyi tokek dan ekor cicak menghantami dinding yang terbuat dari kulit bambu mengiringi sepi.
Kemudian seorang siswa SMP melewati kedai. Ia adalah Andhira, salah satu anggota FIDE (Federasi Catur Dunia). Ia kelelahan setelah berjalan sejauh 2 KM karena kalah dalam game yang ia buat bersama teman-teman satu sekolahnya. Rona wajahnya menyerupai tomat, bajunya basah bermandikan peluh. Saat itu ia merasa beruntung telah menemukan tempat untuk melepas lelah. Andhira menghampiri nenek yang sedang termangu itu.
“Maaf, Nek. Boleh minta segelas air?” Kata Andhira seusai memberi salam yang tak dijawab.
Nenek-nenek keriput itu hanya diam. Ia tak bergeming, larut dalam hening.
“Nenek, tolong secangkir kopinya.” Ulang Andhira dengan volume suara yang dikeraskan karena, dikiranya sang Nenek pasti sudah berkurang pendengarannya.
Nenek itu akhirnya menoleh. Tapi raut wajahnya menjadi lebih muram. Ia menatap sedih dan layu seakan berkata ‘tidak-kah-engkau-tahu-lara-di-hatiku-anak-muda’. Kemudian ia memberi isyarat melalui mata tuanya untuk ikut melihat apa yang tengah nenek renta itu pandangi. Andhira menoleh kebelakang, dan terkejut menemukan papan tua bercat putih yang telah usang tertancap di pintu pagar kayu bertuliskan:
“TELAH DIRAMPAS UNTUK NEGARA”
Ditolehnya kembali nenek itu, “maaf nek, saya tidak tahu,” ucap Andhira segan “permisi.”
Ia merasa tidak enak dan berniat pergi. Baru satu langkah ia menjejakkan kakinya, sang Nenek langsung terbatuk-batuk hingga terjatuh dari tempat duduk. Tentu saja hal itu membuat Andhira khawatir dan langsung berbalik membantu sang nenek duduk kembali.
“Terima kasih, Tuan…” ujar nenek itu masih terbatuk-batuk.
Andhira hanya tersenyum.
“Tuan, mampir lah ke kedai kumuh ini sejenak. Saya ingin bercerita tentang riwayat kedai ini.” pintanya.
Dengan kening yang dikerutkan dan senyum sedikit kecut, Andhira menuruti kehendak nenek itu. Ia pun duduk bersebelahan.
“Dulu, ini adalah kedai keluarga Saya, hanya bermodalkan secangkir kopi kami mulai merintisnya.” kata sang nenek seraya menatap kedua bola mata Andhira. Ia terdiam sejenak, kemudian ia melanjutkan nostalgianya.

#### FLASH BACK ####

Sebuah berita tentang kemasyuran Kopi Glegek yang diproduksi oleh Kedai Subuh Mbok Jah, dimuat di Tabloid Sedap Enak, salah satu tabloid kuliner.
Sekitar empat bulan pertama sejak kedai itu di buka, mereka sanggup meraup keuntungan sebesar 30 juta perbulan. Dan kedai itu menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan warung atau kedai-kedai sebelah. Hal itu sempat membuat Kedai Subuh Mbok Jah memiliki isu negatif.
Ada yang mengatakan bahwa Kedai Subuh Mbok Jah memakai pelet laris manis untuk menarik konsumen. Dan ada juga kabar yang beredar di kalangan para petinggi perusahaan bahwa kedai tersebut tak ada bedanya dengan warung remang-remang. Bahkan parahnya ada sekelompok orang yang percaya bahwa pemilik kedai membubuhkan ganja pada Kopi Glegeknya hingga, pihak kepolisian harus turun tangan dan sempat membuat Kedai Subuh Mbok Jah menurun pendapatannya. Tapi, desas-desus itu hanyalah sebuah bualan belaka.
Bulan demi bulan berganti dengan tahun. Kedai Subuh Mbok Jah makin mengembang. Namanya makin gemilang. Selalu terpampang di jalanan. Kadang ia muncul di iklan. Kadang ia diberitakan. Kebahagiaan pun kian melengkapi hidup Mbok Jah dan keluarganya. Kini hidupnya enak. Suaminya tak lagi membajak sawah orang. Kedua putri kembarnya sanggup bersekolah di tempat yang lebih berkualitas. Dan rasa syukurnya ia ungkapkan dengan mencoba berbagi.
Namun, kesenangan memang tak pernah abadi. Ngadiman, suami Mbok Jah, terkena batu ginjal. Mbok Jah dan putri-putri ayunya dengan telaten merawat Ngadiman hingga uangnya habis untuk biaya pengobatan. Tapi, penyakit ngadiman bertambah parah dan akhirnya meninggal. Si Bungsu pun menyusul kepergian ayahnya dalam selang waktu kira-kira 2 bulan akibat rasa rindu yang selalu membuatnya menangis. Bersamaan dengan itu Dian, putri sulung dari pasangan Mbok Jah dan Ngadiman, bersengketa dengan isteri pemilik Warung Pecel Lele.
“Pelacur! Beraninya kamu merusak rumah tangga orang!” labrak sang Isteri pemilik Warung Pecel Lele. Beragam kata-kata menyakitkan keluar dari lidah wanita itu, menggunakan bahasa sunda yang kasar.
Ia berkacak pinggang dan memelototkan matanya, seolah bola mata yang kini sedang bergerak-gerak cepat itu, akan menggelinding menghampiri Dian. Wajahnya menunjukkan kemurkaan. Dian menjadi gemetar. Baru kali ini Dian menerima makian. Hati kecilnya ingin melawannya, tapi tertahan oleh tubuh kakunya.
“Tapi, bu. Itu tidak benar. Saya tidak -” Dian mencoba membantah tapi kalimatnya terpotong oleh terjangan wanita kurus itu.
Jemarinya mencekik leher Dian. Kemudian ia mencakari wajah, tangan, dan dada Dian hingga bajunya robek. Dian mengerang kesakitan. Ia berteriak-teriak minta tolong tapi mulutnya dibekap. Lalu wanita itu berdiri dan menggeret kedua kaki Dian yang terbalut jarik menuju kali. Sengaja ia melewati bebatuan dan kerikil untuk melukai tubuh Dian. Dian meronta dan menangis tapi cengkraman wanita itu lebih kuat. Setibanya di kali, kerahnya ditarik kuat-kuat, dicengkram rahang dagu Dian yang berdarah. Kemudian dihempaskan tubuh mungil itu ke kali. Dan Dian pun tersungkur.
“Ini peringatan buatmu, perempuan jalang! Mendingan kamu pergi dari sini! Ajak juga makmu itu! Muak melihat tampang brengsekmu dan mamak kamu!” bentak wanita itu setelah ia melarungkan semua cucian Dian hingga hanyut terbawa arus. Dian menangis. Ia tak mengerti mengapa wanita itu tega berbuat hal sekasar ini padanya. Ia pun tak tahu tentang apa yang dikatakan isteri pemilik Warung Pecel Lele. Ia tak sanggup melawan karena badannya telah dilemahkan oleh amarah wanita itu. Akhirnya ia pulang tertatih-tatih dan Mbok Jah hanya mengelus dada seusai mendengar cerita Dian. Mereka hanya sanggup berlindung pada Tuhan dan berharap semoga peristiwa yang menimpa Dian tak lagi berulang.
Ternyata keinginan mereka bagai sebuah harapan kosong. Semenjak hari itu beragam serangan terus menerus menghujami kehidupan Mbok Jah dan Dian. Dan puncaknya Dian menjadi gila. Bila malam tiba, ia tertawa. Bila subuh datang, ia menangis. Dan sikap seperti keterbelakangan mental muncul sepanjang siang. Mbok Jah tak pernah letih mengurus anak gadisnya. Namun, perawan itu tak kunjung sembuh bahkan, ia tak lagi mengeluarkan ekspresi apa pun, Dian membisu sepanjang hari. Hal itu menyebabkan asumsi-asumsi masyarakat bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa Dian disantet seseorang agar menjadi gila. Ada juga yang bilang bahwa Dian telah menerima kutukan Tuhan akibat kelakuan tercelanya. Entah yang mana yang benar. Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. Hanya Mbok Jah yang bisa merasakan kepedihan sesungguhnya.

#### THE END OF FLASH BACK ####

Mbok Jah tua tak lagi sanggup melanjutkan cerita pedihnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Andhira berusaha menenangkan Mbok Jah yang sudah renta itu.
“Pergi kau! Saya tidak butuh belas kasihan Tuan!” usir nenek-nenek itu, “semua sudah terlambat! Tak lagi tertolong. Kemana kalian saat itu?!” lanjutnya terisak.
Andhira menegang dan bergidik. Walau pun yang dihadapannya hanyalah seorang wanita tua tapi entah mengapa ia merasa seperti ada aura hitam menyelimuti tempat itu. Aura yang mungkin akan menenggelamkan Andhira dan tak kan membiarkannya hidup. Ia merasa seolah nenek-nenek itu akan berubah menjadi raksasa atau apa lah itu yang bisa meremukkan tulang. Dengan degup jantung yang tak beraturan ia segera berlari meninggalkan tempat itu dan dalam hitungan detik ia telah menghilang dari pandangan sang Nenek.
Keesokan paginya mobil Andhira melewati jalan yang sama. Ia melihat reruntuhan bangunan di tepi jalan.
“Seperti tempat nenek-nenek yang kemarin” gumamnya, “To, to, tolong berhenti sebentar. Aku mau melihat reruntuhan bangunan itu.” titah Andhira pada Narto, supir keluarga Andhira.
Narto segera menepikan Xenia Cokelatnya. Andhira kembali mencermati bangunan yang telah menjadi bangkai. Kerangkanya masih berdiri tegak walau sedikit penyok dan gosong. Dipan tempat duduknya dan nenek itu telah patah. Pintu yang terbuat dari beberapa ikatan sabut kelapa, sudah setengahnya hangus dilahap api, tapi masih menempel pada tiangnya. Beberapa patahan-patahan kayu yang mungkin pernah menjadi kursi, meja, atau lemari kini beberapa telah berubah menjadi arang dan sisanya adalah sarang rayap, berserakan dimana-mana. Papan nama kedai itu hangus dibagian tepi, tergeletak di tanah. Pagar bambunya juga telah rubuh dan terjerat ilalang.
“Den, dulu ini adalah kedai kopi yang cukup populer. Tempatnya nyaman dan teduh” terang Narto sopan, “mantan-mantan bos Saya sering berkunjung kemari. Mereka rela mengantri pagi-pagi buta hanya agar bisa minum kopi spesial yang dijual di sini.” lanjutnya lagi.
“Kopi Glegek? Itu kan namanya?” tanya Andhira memastikan.
“Iya. Kalau boleh tahu Den Andhira pernah dengar dimana?” tanya Narto dengan kedua alis yang sengaja ditautkannya.
“Pernah dengar saja dari obrolan orang di jalan” Andhira berdusta, “ada apa?” tanyanya lagi.
“Tidak. Hanya setahu Saya, sekitar 7 tahun yang lalu kedai ini pernah dibantai habis-habisan oleh penjaja sekitar sini. Mereka menjarah kedai itu. Mengubur pemilik kedai hidup-hidup. Memperkosa anak gadisnya dan membakarnya bersama dengan kedai mereka. Entah apa masalahnya. Tapi yang jelas pemilik mau pun kedainya dimusuhi oleh para penjaja makanan yang dulu berada di sekitar sini.” Narto menjelaskan secara singkat.
“Lalu, aparat setempat masa’ diam saja?” Andhira mulai tertarik.
“Tidak tahu, den.” jawab Narto, “Yah, den Dhira. Tak banyak yang tahu soal ini, termasuk saya. Saya hanya mendengar kabarnya melalui surat kabar.” sambungnya lagi.
Andhira menjatuhkan punggungnya ke kursi. Tiba-tiba ia merasakan degup jantung yang sama seperti kemarin, ditambah lagi bulu kuduknya berdiri dan tengkuk yang mendingin. Ubun-ubunnya pun seperti sedang mengalirkan listrik ke akar-akar rambut. Otak kanannya mulai bermain, mengeluarkan beragam imajinasi yang mampu membuatnya menciut. Ulu hatinya terasa perih seperti sedang diiris-iris menyebabkan ia memiliki perasaan tak nyaman dan ingin berlari keluar.
“Narto, udah yuk! Nanti aku telat, sudah hampir jam 8.” ujar Andhira sedikit gugup.
“Iya.” sahut Narto sambil keheranan melihat majikannya berwajah pucat dan tegang.
Xenia itu pun mulai bergerak maju. Andhira melihat ke spion mobil, awalnya ia iseng saja ingin melihat mata supirnya. Namun, ia malah melihat nenek-nenek yang ia temui kemarin, berjalan mendekatinya, membawa sepotong papan bercat hijau tua dan kuning dengan warna yang sudah luntur dan pudar, didekap oleh kedua tangan keriputnya, dan terlihat sepotong kata bertuliskan: MBOK JAH.
Ia langsung berbalik, tapi tak seorang pun terlihat di jalan raya.

5 responses to “Cerita Lama

  1. isinya keren…. :D… btw ini lutfia insan kan??? errr…😛

  2. wah cerpennya enak bgt dibaca.truz storinyapun seru ‘n gk monoton.dan yang paling penting tata bahasanya.ok!

  3. nice story… cukup detail walaupun kadang terasa berlebihan.

    lebih komplit lagi kalau nilai moral yang disampaikan dengan lebih jelas.

    Keep writing!

  4. mana selebihnya?teruskan

  5. # andy tenario😀 makasih.. iya ini temenmu itu lhoo

    # awal
    ah, bisa aja.. tulisan norak begini lumayan juga..

    # danny😀 iya, emang terlalu berlebihan juga kayaknya..

    # bangzahar
    lho? kayak yang putus ditengah jalan ya?🙂
    segera diperbaiki..

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s