Akhir Cerita Pendek (Elegi Laut)


Rumahku sepi. Hanya ada aku di rumah tingkat dua ini. Sudah seminggu lebih, papa dan mama pergi keluar kota untuk menengok keadaan cucu mereka. Kangen rasanya. Tapi setengah rasa kangenku ternyata kutujukan pada Raka, mantan pacarku. Kami baru putus sekitar dua minggu yang lalu. Kulirik jam dinding yang tergantung di sebelahku. Sudah jam satu pagi, gumamku. TV di ruang keluarga sengaja kunyalakan agar rumah tak terlalu sepi, walaupun semua siaran tidak menarik lagi bagiku. Sejak jam sembilan malam, aku belum juga beranjak dari kursi malas papa. Konsentrasi membacaku terganggu akibat melamunkan Raka. Mengingat-ingat pertemuan pertama kami di Banana Cafe. Dulu, aku tak sengaja menumpahkan secangkir kopi panas ke kaosnya :
“Eh, maaf ya. Gak sengaja…” kataku panik.
“Aw! Panas. Panas. Gimana sieh! Lihat-lihat dong, kalau jalan! Kamu pikir minumanmu itu dingin apa?!” cowok itu terus saja mengomeli aku yang berusaha mengeringkan kaosnya. Tadinya tissue-tissue ditempelkan untuk menyerap tumpahan kopi tapi karena kupikir akan memakan waktu maka langsung kutarik bagian baju yang basah lalu kuperas seperti pakaian siap jemur. Baru sekali peras, tanganku sudah ditepisnya, “Ah! Punya otak gak sieh! Kusut dong…! Aku mau nge-date sama pacarku!” keluhnya.
“Maaf, maaf.. Maaf ya?” nada tingginya membuatku makin bingung dan merasa bersalah.
“Ah! Ini date pertama dan kamu malah ngerusak semuanya! Dasar otak udang! Mata ayam!” bentaknya lagi. Dia terus memaki-maki seenak perutnya tanpa mempedulikan perasaanku.
Spontan aku menampar lalu mendorongnya. Cowok itu tercengang melihat perubahan reaksi lawan bicaranya. “Aku bukan kacung yang bisa dibentak-bentak! Emang kamu siapa?!” aku ikut meluapkan kekesalan hatiku.
“Lho, bukannya minta maaf! Cih! Urat malunya udah putus ya, non?” balasnya. Wajahnya mengecut. Kalau saja pegawai di Banana Cafe tidak memisahkan kami, mungkin saja saat itu kami masih saling bersilat lidah dan menjadi tontonan pengunjung. Ah, sial..
Lamunanku terpotong oleh tawaku sendiri. Aku geli kalau ingat dulu. Yah, memang cukup menyebalkan juga kesan pertamanya bahkan dulu aku sempat berharap acara Raka dan mantan pacarnya betul-betul hancur, aku berharap ia melakukan kesalahan hingga pacarnya memakinya seperti ia memaki aku atau mungkin menamparnya, ban mobilnya bocor atau mogok di tengah jalan, dipalak preman, terjebak macet, compact discnya rusak, dan lain-lain. Hufs.. Saat itu, aku benar-benar berharap ia mengalami kesialan sepanjang malam. Hey, apa aku ini jahat sampai make a wish seperti itu? Pikirku sambil terkekeh. Kemudian aku kembali terdiam. Hatiku memandang ke hamparan bintang. Berharap kisah antara aku dan Raka berulang.
“Raka, lagi ngapain kamu ya?” tak terasa aku bergumam. Hatiku kembali perih. Aku menunduk lesu ke arah buku autobiografi Paris Hilton bersampul biru, masih kupangku dan halamannya belum begeser. Sudah dua minggu lebih sejak kami putus Raka belum menghubungiku. Aku mencoba meng-sms dan menelpon tapi belum ada jawaban. Itu membuatku lelah. Ku pejamkan mata, menikmati empuknya bantalan di kursi malas yang bergoyang ke depan dan belakang bagai serasa ditimang, dedaunan yang bergesek akibat tertiup angin membuaiku hingga aku tak menghiraukan nyamuk-nyamuk yang bersliweran lalu menggigiti kakiku.
Kudengar telepon rumah berdering. Aku terbangun. Langit masih hitam kelabu, bintang mulai meredup, mungkin tertutup awan tapi berandaku tak gelap karena lampu masih berpijar terang. Susah payah ku beranjak dari kursi goyang. Ku percepat langkah karena penelpon tampak tak sabar menunggu sahutan ‘Halo’ku.
“Halo?” sapaku.
Tak ada jawaban, yang terdengar hanya isak tangis seorang perempuan di seberang sana. Aku diam sambil mencoba membaca situasi. Sudah hampir dua menit gagang telepon menempel di kuping. Sebenarnya aku malas tapi merasa iba juga. Malas menunggu seseorang yang mungkin hanya memintaku mendengarkan tangisannya. Mengganggu saja! Pikirku. Yah, menangis sendirian itu kurasa memang tidak enak, kadang butuh teman berbagi. Lagi-lagi aku teringat Raka. Kadang aku ingin selalu tertawa bersama, atau sekedar bersandar didadanya untuk melepas kesedihanku. Tapi semua itu hanya keinginanku semata. Aku lebih banyak diam, membawa suka dan dukaku sendirian. Pernah ketika itu, aku menelepon Raka tengah malam :
“Hai..” suara Raka terdengar serak.
“Aku kangen kamu.” kataku tanpa basa-basi. Raka hanya tertawa pendek lalu mendengus.
“Ada apa sieh, sayang?” tanyanya lembut. “Tumben kamu nelpon jam segini. Biasanya kamu selalu marah-marah kalau aku telpon malem-malem atau minta ditelpon,” sambungnya lagi. Aku hanya mengomentari dengan tertawa. “aku masih inget kamu bilang ‘pokoknya, aku gak mau kita telpon-telponan jam segini lagi. Ini kan waktunya tidur, bukan buat ngobrol. Udah, tidur sana!’.” katanya sambil menirukan gaya bicaraku.
“Iya, deh, maaf.. Aku kan kangen kamu. Masa’ orang kangen gak boleh nelpon sieh..?” aku merajuk sambil terkekeh. Malu juga dengan ucapanku. “Ya udah, kamu tidur lagi ya? Aku cuma kangen kok jadi pengen denger suaramu aja. Makasih ya, sayang. Udah mau angkat telponku.” aku berdusta.
“Iyah, gak apa-apa.. Kamu juga tidur. Kan aku gak mau kamu ikutan sakit. Bye.” itulah kata-kata terakhirnya.
Mengingat itu, aku jadi bertanya-tanya, dia tahu gak ya, kalau aku lagi sedih saat itu? Apa dia memang sayang sama aku? Apa dia pernah mikirin aku? Kalau dia bilang kangen, itu serius gak sieh?
Tiba-tiba terdengar sahutan dari orang yang menelponku.
“Refa, ini Tante Mita. Redha kecelakaan.” perempuan itu membuyarkan lamunanku dan melanjutkan kalimatnya, “Dia sekarang di RS Fatmawati. Tante..” ada jeda. “Tante sama sekali gak tahu harus menghubungi siapa. Tante benar-benar akan sendiri kalau terjadi apa-apa sama Redha.” tangisnya kembali meledak. Aku berusaha menenangkan dengan mengatakan bahwa, aku segera menyusul ke sana, kami janji bertemu di pintu utama rumah sakit. Aku bergegas menuju garasi dan tancap gas. Tak sempat ganti baju. Tak sempat gosok gigi.
Mungkin aku tak kan bersikap seperti ini kalau saja tak mengingat Redha adalah saudara kembarku. Kami seharusnya tinggal serumah kalau saja Tante Mita, adik mama, yang broken home dua puluh tahun silam tidak meminta Redha untuk diadopsi. Entah apa yang dipikirkan orang tua kami saat itu. Tentu saja Redha hanya bisa menangis dan menjerit saat berpisah dengan ayah dan bundanya, begitu pula aku, karena saat itu kami masih berusia tujuh bulan. Tapi yang jelas, di bawah asuhan Tante Mita, Redha tampak mempunyai masa depan yang lebih cemerlang dibanding aku. Ia selalu juara kelas, jago olahraga, pintar bermusik, daya ingatnya kuat, dan ia cukup banyak menyumbangkan piagam-piagam emas dan perak hasil Olympiade Fisika, Matematika, dan Sastra. Dan di bawah asuhan Tante Mita juga, Redha tumbuh menjadi anak yang bandel, manja, narsis, dan kritis. Oleh karena itu, aku tidak heran kalau Redha lebih menyayangi tante daripada mama, ibu yang melahirkannya. Aku tidak terkejut kalau Redha memiliki pola hidup yang glamour dan metropolis dibanding teman-temannya, sepupu, termasuk aku. Pernah iri, memang. Tapi, buat apa? Aku sangat menikmati kehidupanku bersama papa, mama, dan kakak laki-lakiku.
Akhirnya aku sampai di gerbang RS Fatmawati. Terlihat dari kejauhan Tante Mita duduk dengan wajah tertunduk di bangku depan. Aku memarkir mobil dan menghampirinya.
“Refa, sayang.” ia berdiri menyambutku, wajahnya pucat. Bibirnya terlihat komat-kamit. Kukira dia sedang mendoakan Redha.
“Redha kenapa?” aku tahu kalimatku salah, karena aku tak tahu bagaimana harus bertanya. Tapi, aku yakin tante mengerti arah pertanyaanku.
“Dia kecelakaaan saat balap motor. Tante sudah menduga bahwa suatu saat ini akan terjadi tapi Redha selalu bilang kalau ia akan baik-baik saja. Tante takut kehilagan Redha. Kata dokter, ia mengalami pendarahan hebat di bagian kepala dan tulang tangan kirinya patah, ada kemungkinan ia mengalami gegar otak yang cukup parah.” kali ini akulah yang menangis. Air mataku menderas begitu saja.
Aku teringat, pertengahan tahun lalu, Raka juga pernah mengalami hal serupa. Kecelakaan lalu lintas yang nyaris merenggut nyawanya. Waktu itu adalah malam ulang tahunku dan hari jadi kami selama setahun. Ia dan keluarganya baru pulang dari Malaysia :
“Ayank,” ocehku di telpon “kamu kok malah ngebatalin janji sieh? Semudah itu kamu bilang gak jadi. Padahal, aku udah nyiapin semua ini buat kamu! Gak nyangka kamu bisa kayak gini. Kalau emang gak bisa harusnya kamu bilang sebelum pergi ke Malaysia. Ugh! Capek.”
“Maaf, sayang. Aku juga gak tahu kalau jadwal kepulanganku bakal terlambat. Aku beneran capek banget nieh.. Ngertiin aku ya?” ia memohon. Aku diam, coba meredam emosi.
“Trus..” emosiku membuat jeda. “Ah! Mau dateng atau enggak, terserah!” telepon kuputus. Aku membanting gelas yang kutenteng-tenteng sedari tadi. Ponselku berdering. Raka menelpon tapi tak kuangkat. Ia menelpon lagi, lagi, dan lagi.
“Apa?” bentakku. Akhirnya telpon dari Raka kuangkat juga tapi enggan menyambut dengan beramah-tamah.
“Ya udah, aku ke sana sekarang. Gak bisa ngertiin perasaan orang. Udah puas, selfish?”
Tak lama setelah itu dia mengalami kecelakaan saat menuju rumahku. Itu semua gara-gara aku. Apa aku memang seegois itu?
***
Malam ini aku sedang dalam perjalanan pulang naik bus. Untunglah, operasi Redha berjalan lancar. Sudah tiga hari ia terbaring di kamar pasien, masih belum sadarkan diri. Aku dan tante bergantian menjaganya. Kalau lelah, bisa tidur di sofa. Untuk makan dan minum, kami biasa beli di kantin atau pada penjaja di warung-warung tenda. Kalau saja bukan karena Tante Mita yang minta, aku tak tega meninggalkan mereka. Semoga mereka diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Mobil, sengaja kutinggal di rumah sakit. Aku tak mau berkendara dalam kegalauan. Biar kusuruh supirku mengambilnya. Di sini suasana cukup renggang. Yang terdengar hanya teriakan-teriakan kenek bus memanggili penumpang. Kadang ada juga pengamen yang melantunkan lagu berirama merdu atau sekedar menggenjrang-genjreng gitar falsnya. Lalu lalang kendaraan di luar sana, tak kupedulikan. Berkali-kali kulihat kepulan asap hitam mendempeti jendela, mencari lubang angin untuk masuk. Seperti itukah mendung dihatiku?
Terus terang, aku masih ingin mengingat-ingat Raka. Parasnya, lesung pipit disenyumnya, suaranya, dan semua tentang aku dan dia.
Dulu, aku bagai mengukir pada pualam, kulilitkan serangkai edelweis dan diberi wewangian laut. Berharap namaku dan Raka sesegar mekaran bunga, usai semua pencarian, cukup padanya kutambatkan cinta ini.
Tak henti-hentinya jemariku merajut kata walau semua kertas yang kupunya tak mampu lagi menyediakan ruang kosong.
Ketika malam menjemput, kantuk merasuk, aku selalu menyempatkan diri untuk berharap agar Rakaku kan jelang pagi dengan membagi senyum segar padaku. Kupanjatkan doa pada Sang Kuasa agar hatiku terus berlabuh padanya.
Namun, akhirnya aku mengerti, semua sia-sia. Gumpalan awan hitam berarak menyusulku, membawa badai dan kabut yang kan padamkan api cinta kami. Maka, ini lah saatnya untuk kembali memberi titik pada kisah kasih syahdu.
Kini, layar kembali terkembang. Kususuri lagi lautan. Menikmati deburan ombak yang menghantam karang dan desiran angin, dalam kesendirian. Membawa sejuta kenangan. Jalinan cinta tak bernama.
Biarlah kisah kami jadi dua puisi, bersanding bersama ringainya. Terbang bebas diawan. Biar semua berlalu. Oh, angin, laut, hantarkan aku ke pulau seribu. Oh, mentari, hangatkan aku yang mulai beku.

4 responses to “Akhir Cerita Pendek (Elegi Laut)

  1. cerita nya bagus
    penenmpatan kata2nya juga bagus
    berkarya terus………,,

  2. # daniel
    makasih ya.. jadi seneng saya dengernya..😀

  3. Wew,keren banget cerpenY.Sedih n romance jadi 1.Nyentuh banget.

  4. Nyentuh banget.Hampir netes air mata gw.Ckckck…

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s