Lembayung Singgah Di Mendung


Aku hilang dalam diam.
Terkungkung dalam kesendirian.
Semua lenyap saat senyap.
Hitam yang tampak jika gelap.

Saban hari aku duduk di kursi roda. Ditemani Si Geni, burung beoku, yang entah bagaimana rupanya. Ibuku bilang, ia burung ‘luar biasa’. Matanya hitam kemerah-merahan. Punya dua bulatan hijau di dekat matanya seperti pakai kacamata. Bulunya merah menyala. Si Geni tidak makan biji-bijian, tak tahu apa, ibu tak bilang. Pandai berbahasa layaknya sarjana. Aku percaya tidak percaya mendengarnya sehingga aku selalu bertanya pada Ibu kalau ada, seperti apa rupa Geni sekarang? Bagaimana kesehatannya? Apa sudah diberi makan? Apa makannya lahap? Geni sudah dimandikan? Sedang apa dia sekarang? Dan ibuku selalu menjawab dengan kata-kata yang sama. Sampai aku hafal di luar kepala.
Aku dan Geni sudah tak bisa dipisahkan lagi. Kami selalu saling mengisi dan berbagi. Kalau ada Geni, aku seperti lupa bahwa aku buta. Ia banyak bercerita tentang senja. Katanya, kelembutan awan akan datang kalau matahari akan terbenam. Warnanya yang hangat, kadang berbaur dengan kelabu. “Kelabu itu seperti saat Tuan sedih.” itu yang selalu dikatakan Geni setiap sore. Atau, ketika hujan sore-sore, Geni akan bilang, “langit menangis, Tuan. Mungkin tak kan ada sinar temaram malam ini.” Kalau ada Geni, aku seperti lupa akan duka lara. Ia tak pernah bosan mendengarkan keluh kesahku. Lelucon-leluconnya tak pernah bosan kudengar walau selalu diulang-ulang.
Ah, Geni. Mengapa kau masih saja melajang? Tidak kah kau tertarik pada betina di luar sana? Pertanyaan semacam itu kadang terlontar begitu saja. Lantaran aku ingin dia merasakan indahnya berkeluarga. Dan ia selalu mengatakan, sulit mencari betina yang senang melihat senja, urusan perut saja yang mereka pikirkan. Dan aku pun selalu tertawa dibuatnya. Sungguh konyol mendengar jawaban macam itu. Hewan macam apa dia, hingga mampu berpikir sejauh itu. Aku dulu sempat menikah dengan janda tanpa anak. Ternyata panggilan Tuhan begitu cepat dan tak bisa kucegah. Tiga bulan kemudian, ia pergi mendahului membawa serta jabang bayi kami. Sedihnya bukan main, tapi aku tak mau terlarut begitu lama karena bisa memberatkannya.
Kali ini, aku benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengan beo kesayanganku. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya. Terlalu cepat waktu berlalu, hingga aku tidak bisa mendengar banyak hal darinya. “Pagi, Geni.” sapaku pada beo. Aku mengira dia ada dalam sangkar. Tapi kali ini tidak ada jawaban “Apa tidurmu nyenyak semalam?” tanyaku. Masih tak ada sahutan. Kurasa pertanyaan ini mulai membosankan untuknya. “Geni,” kataku sambil meraba-raba untuk menggapai sangkarnya “kamu, kok, kayaknya sibuk banget? Sampai nyuekin aku.” aku tertawa kecil. Tapi, Geni tidak ada! Geni hilang! Aku kalang kabut setengah mati. “Mana Geni?” tanyaku pada ibu. Ibuku diam. “Geni mana, bu?” sekali lagi aku bertanya, tapi ibu tetap tidak menyahut. Aku tahu beliau ada dan mendengar pertanyaanku. Suara sapu lidi sengaja dikeraskannya agar tampak sibuk. Ingin marah rasanya tapi tak bisa.”Geni…?” aku memanggil dengan harap-harap cemas. Aku hilang arah. Tak tahu harus kemana. “Geni…?” beo kesayanganku itu terus kupanggili. Kenapa Geni tak menyahut? Kemana kamu?
“Diam! Tak perlu lagi kau panggil beo burukmu itu. Bosan melihatmu tiap hari bersamanya,” suaranya parau “maka ibu buang dia ke luar. Berhenti mencarinya, nak! Geni sudah pergi. Dia tak kan kembali lagi.” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut ibu. Aku terhenyak. Hanya bisa diam membisu. Tak kusangka jalinan pertemananku dengan Geni membuat ibu cemburu. Sebenarnya, aku tidak bermaksud menomor duakannya walau aku selalu bersama Geni.
Tak kuhiraukan kata-kata ibu. Kuputar kursi rodaku ke tempat Geni biasa ditaruh kala malam. Tanganku melambai-lambai ke atas berusaha menggapai sangkarnya sambil memanggili namanya. Mungkin sangkarnya masih digantung ibu dan Geni masih ada di situ. Harapanku ternyata sia-sia, hanya tempat kosong yang kudapat. Aku tersungkur akibat terlalu memaksa untuk mencoba berdiri dari kursi rodaku. Kepalaku terantuk sesuatu yang keras hingga menimbulkan bunyi. Rasanya ada sesuatu yang hangat mengalir didahiku. Baunya anyir. Aku pusing. Kudengar langkah kaki ibu yang bergegas ke arahku. Ia menjerit lalu berteriak minta tolong. Aku berusaha duduk tapi tak ada daya.
Sayup-sayup aku seperti mendengar Geni memanggil-manggil namaku dari kejauhan. “Geni!” sahutku. Sepertinya, ia terbang ke arahku, kepakannya yang keras makin terdengar jelas. Aku merasa kini ia telah bertengger dibahuku.
“Geni, akhirnya kamu pulang.” aku tersenyum. Bangga mempunyai hewan
peliharaan sesetia dia. “Ibu. Geni pulang, bu! Lihat! Geni tidak seperti yang ibu kira.” kataku girang.
“Mana Geni, nak? Dimana dia?” tanyanya. Aku tak paham maksudnya. Kemudian kudengar ibu terisak pelan. Ia memelukku lembut. Kali ini sesuatu yang hangat menetes di pipiku. Kalau kita menangis, maka air mata akan bercerita lebih banyak dari kata-kata. Itu yang dulu Geni katakan. Ah, baru kali ini aku mengalaminya. Tapi bukan keluar dari mataku. Ini milik ibu. Entah kenapa, hatiku ikut perih, seperti diiris. Tenggorokanku tersumbat. Kantung mataku sesesak dadaku. Mungkin mau menangis dan meneteskan air mata, seperti ibu. Aku berusaha menahannya, agar ibu tidak melihatku menangis.
“Ibu, ada apa? Geni ada di sampingku sekarang. Aku senang karena ia sudah pulang, bu.” kataku lirih. Ia tak menjawab. Sejak dulu, ibu jarang menjawab pertanyaanku, kami jarang mengobrol. Karena itu pula, ia membelikan aku Si Geni sebagai teman bicaraku. Paling tidak, aku mengerti bahwa ibu ingin mendengarku bercerita walau hanya tentang Geni. Ibu selalu mengatakan bahwa Geni sudah beres diurusnya hingga aku tak perlu cemas lagi. Aku tahu ibu selalu berusaha menyenangkan hatiku. Aku tidak banyak mengerti tentang ibu. Aku berharap ibu tahu bahwa aku lebih menyayangi dan membutuhkannya melebihi Si Geni.
Cakar Si Geni mencengkeram pergelangan tanganku. Mungkin ia ingin aku ikut untuk menikmati keindahan lembayung di ufuk sana, seperti yang pernah dia janjikan. “Ibu, aku dan Geni akan pergi sebentar untuk melihat senja. Tolong papah aku menuju kursiku, bu.” aku tersenyum padanya. Tapi ibu justru makin erat memelukku dan tangisannya kian menyayat. “Jangan pergi, nak! Jangan tinggalkan ibu sendiri, nak! Jangan!” Entah apa maksudnya. Aku tak ingin bertanya lagi, karena aku tahu, tak akan ada jawaban. “Cuma sebentar, bu. Aku dan Geni pasti kembali. Aku pun, ingin melepas lelah sejenak. Seharian aku mencari dan menunggu Geni.” pintaku. Beliau tak mengijinkan. Ibu berjanji akan selalu menemaniku menikmati senja dan bersedia menggantikan, asalkan aku mau mengurungkan niat untuk pergi bersama Geni. Aku terdiam sejenak, hatiku bergejolak.
Akhirnya kupilih ibu. Kukibas-kibaskan tanganku dan Geni pun mengendurkan cengkramannya, kurasa ia mengerti maksudku, lalu terbang pergi menjauh. “Aku sayang ibu.” bisikku. Kubalas rangkulannya. Ibu masih saja terisak. Kurasa ia terharu.
Setiap sore, ibu membawaku ke teras. Beliau banyak bercerita layaknya Geni. Perlahan aku mulai memahaminya, membaca hidupnya. Sesekali kulontarkan lelucon-lelucon yang pernah kudengar dari Geni sehingga kami tertawa bersama. Ada hangat di sudut hatiku kala ibu tertawa.

Aku yang dulu hilang
Kembali sudah membawa tentengan
Tapi bukan kelam sekeranjang
Oleh-olehku adalah harapan.

4 responses to “Lembayung Singgah Di Mendung

  1. rasanya inti dari cerita ini masih
    belum jelas,,,
    tapi semuanya ok kok…
    keep created

  2. well sama kaya org diatas… kali ini gantian g yg ga ngerti… lol

  3. ko lu bisA banget si ngarngnya. keren banget. tapi meaning nya ga bisa gw cerna

  4. # daniel, andy tenario, sanditampan😀 emang butuh perbaikan nieh😀

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s