perempuan dan keseharian


Pagi. Sepertinya ajal ingin mendekapku lagi. Habis, dalam sekaratku ditendangi. Diberi caci maki. Darah ini menggelegak jua, tapi hanya ada kebisuan. Yang terpecah oleh teriakan, dari mulut bau neraka jahanam. Diam-diam kucari secercah harapan, untuk keluar dari lingkaran setan. Aku, ya Tuhanku, kini begitu letih, tertatih. Sedangkan dia, perkasa, energinya luar biasa. Bisa mati aku disentilnya. Dalam gamang, tetap kucucikan piring kotor bekas dia sarapan dan gelas kopinya semalam.

Perempuan seperti aku, sudah terlatih untuk diam dan pasrah. walau gelisah, meski gundah atau berair mata darah. Tuan, ini tas kerja kuambilkan, sepatu kupasangkan, katamu hendak berjuang mencari nafkah. Di sinikah, persoalannya kenapa aku selalu kalah? Karena tanganku hanya bisa menengadah, mengharap rupiah. Oh, kini aku merasa semakin rendah dan pantas untuk kau jajah. Deru mesin mobilmu menghempas gelisah. Sebait doa, kuhaturkan pada yang Maha Esa, semoga lancar rejekinya. Dan sejuta wanita yang kelak dia jumpa. Izinkan aku, tetaplah menjadi ratu dihatinya.

Perang belum usai. Rumah kusut masai. Keringat berderai-derai. Badan bau bangkai. Dalam kondisi lemah lunglai, kusapu abu rokok Tuan yang memenuhi lantai. Di depan TV juga seperti habis terjadi badai. Kulit kacang dimana-mana. Monyet kah yang melakukannya, karena manusia tak mungkin sedemikian lalai. Diperaduannya, laba-laba tertawa mengejek, sambil bersantai. Sapu ditanganku berusaha memusnahkannya, menggapai-gapai. Kutengok kakus, ada kecoa, lalu kubantai. Dalam kehidupan nyata, akulah kecoa itu, tinggal dihajar sandal lalu selesai. Ya, aku si kecoa kesepian di rimba pembasmi serangga yang begitu ramai. Ah, aku memang pandai berandai-andai. Di rumah ini, hanya genderuwo, pocong, dan kuntilanak yang mengerti bahwa aku teramat capai. Kini mereka mendekat. Rambutku dibelai-belai. Mungkin mereka tahu. Malaikat mautku sudah siap melambai. Dengung ditelingaku. Gelap disekitarku. Tanganku meraih tumpuan. Tapi tak sampai.

Didepanku, kulihat engkau, Tuan. Menepuk pipiku pelan. Itu mungkin dirimu. Mungkin juga bukan. Karena tumben, dia tidak berwajah seram. Tidak pula naik pitam. Dia malah mengusap dahiku dengan sayang. Dan meminta maaf atas segala perlakuan, dan amarah yang selalu meradang. Dia katakan, bahwa tak sepantasnya seorang isteri yang selama ini setia mendampingi, dirajam dengan kata-kata kejam. Dihujam dari mulai terbuka matanya sampai kembali terpejam. Hanya isteri lah yang punya naluri tajam, saat suami tersesat ke kiri, isteri menuntunnya lagi ke kanan. Isteri adalah segudang mimpi dan harapan. Karena darinyalah keturunan dilahirkan. Dia pula yang akan susah payah membesarkan. Oh, Tuan, inilah saat-saat yang kudambakan. Dalam dekapan, kubisikkan ditelingamu bahwa dalam rahim ini telah tumbuh manusia kecil, yang selama ini dinantikan. Kau pun menangis kegirangan. Aku pun menangis, bersyukur yang teramat dalam kepadaMu, ya Tuhan.

2 responses to “perempuan dan keseharian

  1. sangar sekali,,,,,,,,,,,xixixixi,ganazzzzzzzzzzz,ga tau ding,wong ndeso ga tau seni,xixixixixi

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s