Motif (Bukan) Macan


Seorang wanita duduk, bersandar pada kursi merah. Ia termenung. Enggan menatap kemana-mana. Ruangan 5 x 7 meter itu, tidak sepi. Ada beberapa jemari yang terus menari-nari memenceti tuts keyboard. Ia pun tidak sendiri. Ada 3 orang pria berbaju cokelat lengkap dengan atribut-atributnya sedang berbicara dengan beberapa orang lain, seperti dirinya. Ya, ini adalah kantor polisi. Tempat orang-orang macam dia, mengadu dan berkeluh kesah. Tempat ini penuh kebohongan tapi juga ada kejujuran. Pandangannya sama sekali tidak kosong. Di depannya, tidak hanya ada segelas air teh panas untuk dirinya tapi juga tergeletak sekumpulan map-map tebal, berhamburan di meja. Seorang polisi yang bertugas menanyainya juga menemaninya. Tapi, semua itu membuatnya ciut. Ia terus mematung hingga membuat polisi itu menggebrak meja dan memaksanya untuk buka mulut.”Anda pasti akan mentertawai saya,” perempuan itu getir. “Saya bingung. Ini tekanan batin. Saya tak tahu harus bagaimana.”
“Ceritakan!” ujar polisi yang mulai berjalan ke tempat kursi empuknya.
“Ini semua berawal dari usaha menjual kerajinan tangan saya. Awalnya saya sukses besar. Orderan meningkat. Ada yang minta dibuatkan kalung, gelang, cincin, gantungan kunci, dan pernak-pernik lainnya. Tapi, usaha kecil-kecilanku mendadak gulung tikar akibat kebakaran,” ada jeda. “Kemudian, saya berpikir untuk berjualan tas hasil disain sendiri dengan dibekali sisa uang yang tak seberapa. Saat itu saya merasa, sangat briliant karena ada berjuta-juta ide yang mengalir deras hingga keubun-ubun. Setiap mangkat tidur, saya pasti berdoa agar disain-disain saya membuahkan hasil yang terbaik. Dalam mimpi pun saya mampu melihat diri sendiri bersorak-sorai gembira ria. Terlihat di situ, saya memakai mahkota seperti raja. Saya yakin benar, bisa merajai pasar bisnis. Dari berjuta-juta ide yang saya punya. Saya putuskan untuk menjahit satu disain saja,” ia menghela nafas.
“Dimana anda memproduksi tas-tas itu?”
“Di konveksi. Tempatnya saya dapatkan dari koran.”
“Lalu, apa yang terjadi?” Polisi itu mengkernyitkan dahi.
Wanita itu mengusap-usap dahinya. Ragu-ragu melanjutkan ceritanya.
“Awal-awalnya, saya datang ke konveksi itu dan bertanya banyak hal pada mereka seolah saya ragu akan kemampuan mereka. Semua bahan dari mereka, saya hanya bermodalkan uang. Beberapa hari kemudian, saya ditelepon dari pihak konveksi, mereka bilang ada beberapa bahan permintaan saya yang tidak sanggup disediakan, dalam keadaan frustasi, saya langsung memutuskan untuk mengganti warna dan bahan yang tidak tersedia dengan yang seadanya. Tentunya, semua wewenang tidak lagi ada pada tangan saya. Saya hanya bisa pasrah dan berharap hasilnya memuaskan. Dan ternyata, doa saya dikabulkan. Jahitan mereka rapi dan paduan warnanya sempurna. Namun, beberapa hari kemudian, saya merasa bahwa tas saya sama sekali tidak memenuhi kualifikasi saya. Saya kembali menelepon mereka dan berkompromi agar mau menurunkan harga. Setelah ada kata sepakat, saya langsung pergi mencari bahan-bahan yang saya perlukan hingga ketemu,” Ia menghentikan ucapannya.
“Jadi anda sudah mendapatkan keperluan anda?”
Perempuan itu mengangguk pelan. Pandangannya menyapu lantai disekitar kakinya.
“Lalu, bagaimana kelanjutannya?”
Ia tetap diam. Dengan kehati-hatian ia berbicara.
“Saya” ada jeda, “boleh minta segelas air? Saya haus,” tuturnya. Ia tetap menunduk karena malu.
Polisi itu tersenyum mengejek. Tanpa berlama-lama, ia meminta bawahannya untuk mengambilkan segelas teh manis hangat untuk perempuan di depannya. Begitu teh itu datang, wanita paruh baya itu segera meminta izin untuk segera meneguk teh yang baru saja disuguhkan. Lalu ia mengucapkan terima kasih dan segera melanjutkan ceritanya.

“Setelah itu, saya langsung membawanya ke konveksi dan menunjukkannya pada para penjahit itu: ‘Gimana bahan pilihan saya? Mas bisa buat tas dari bahan seperti ini?’. Penjahit itu menautkan alis, mencermati bahan tas saya yang bermotif macan. Tak lama ia mengembangkan senyum, ‘Oh, jelas bisa!’. Saya mengangguk puas. Segera saya keluarkan hasil disain lama saya dan yang terbaru. Saya sodorkan kertas-kertas itu padanya. Ia kembali mencermati gambar-gambar saya dan kembali tersenyum. Lalu ia bertanya, ‘Anda yakin dengan pilihan ini?’. Keraguan saya tertangkap olehnya, ‘Yah, ini kan motif langka. Kalau dijual harganya bisa mahal,’ hiburnya. Hidung saya kembang kempis, tak menyangka bahwa selera saya begitu tinggi. ‘Yakin!’ kata saya. Penjahit itu serasa tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. ‘Teman-teman, ini dia disainer yang sesungguhnya. Beri tepuk tangan ada master piece briliant kita yang baru…’ Ujarnya pada teman-teman konveksi dan mengacungkan dua jempol saat suasana riuh. ‘Disain tasnya ini, bu? Ikan, kucing, anjing, kupu-kupu?’ Tanyanya dengan suara lantang sambil menunjuk-nujuk gambar-gambar pada kertas yang saya bawa. Saya berpikir sejenak dan mengatakan ya. Penjahit itu kembali meminta tepuk tangan untuk saya, suasana makin riuh. Hidung saya langsung kembang kempis dibuatnya. ‘Rantai emas, bu? Mata emas? Retsleting emas? Semua emas, bu?’ tanyanya lagi sambil menahan tawa. ‘Ya!’ kata saya dengan bangganya. Dan kali ini semua bertepuk tangan tanpa diminta, bahkan salah satu dari mereka menyiuli keputusan saya. ‘Wah, anda memang hebat!’ ujarnya seraya berjabatan tangan. Saat itu senang sekali. Sudah terbayang bagaimana kesuksesan saya nantinya. Setiap dua minggu, saya terus memantau perkembangan tas saya. Benar-benar tidak sabar untuk menjual tas hasil disain sendiri,” perempuan itu kembali diam. Ia meneguk kembali sisa minumannya. Lalu ia lanjutkan tanpa ragu-ragu.

“Setelah tiga bulan menunggu, akhirnya jadi juga. Segera saya adakan transaksi dengan penjahit-penjahit itu. Penjualan pun saya mulai dari tetangga. Ternyata mereka tidak hanya menolah barang dagangan tapi juga mencibir. Dikatakannya ini tas tante-tante lah, norak, tidak punya selera, dan beragam kata-kata tajam yang menusuk hati juga semangat disainer saya. Tapi entah darimana datangnya rasa percaya diri yang begitu tinggi itu, saya memberanikan diri untuk menjual digrosiran dan semua juga menolak tas saya. Untunglah, ada satu toko yang berbaik hati mau menampung semua daganganku. Tapi, kabar buruk. Tidak satupun dari tas-tas itu laku terjual. Hingga aku terpaksa banting harga, dan tetap saja tidak laku. Ironis,” perempuan itu lalu terisak. Beberapa polisi yang melihatnya hanya diam. Ada juga yang menghibur, termasuk lawan bicaranya.

“Jadi, apa yang akan anda laporkan? Sejak tadi saya tidak melihat ada masalah pidana,” terka polisi itu.
“Lho?! Siapa yang mau melaporkan kejahatan?” tangis perempuan itu terhenti sejenak. “Saya hanya ingin berkeluh kesah. Saya gak kuat kalau harus menyimpannya sendirian.”
“Anda mempermainkan kami! Anda tahu kalau perbuatan anda ini telah membuang banyak waktu kami,” polisi itu geram. Kalau saja yang dihadapinya kini bukanlah wanita, pasti sudah ditinjunya. Perempuan itu berkelit. Sejak awal saya sudah bilang kalau saya ingin berbagi cerita dengan anda, katanya beralasan.
“Di sini bukan tempat bagi lelucon. Pergi lah!” ucapnya tegas. Tangannya diayunkan ke depan, mengisyaratkan mengusir keluar. Ia menyarankan untuk meneruskan ceritanya ke psikolog. Namun, perempuan itu menggeleng. Ia merasa beban di hatinya sudah cukup ringan, lagi pula, uangnya tak kan cukup untuk tagihan apa pun. Kata maaf dan ucapan terima kasih terlontar dari bibirnya. Senyum pun tersungging

Ia berjalan tertatih-tatih menuju pintu keluar. Meringis menahan sakit di kakinya akibat dihantam mesin jahit oleh penjahit-penjahit di konveksi. Satu ceritanya belum lah terkuak. Terkubur bersama harapan dan uang-uangnya.

7 responses to “Motif (Bukan) Macan

  1. Wow..mantap tulisan tangan anda..btw saya tman andy alias axl_kiske alias v4st..mao ngajak buat project bersama..sinopsis dasarnya bisa diliat disini http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=140755
    tertarik?? thz a lot ^_^

  2. wew! perlu diperbaiki lagi, sobat. baca dulu sebelum di post! ok?

  3. sorry .. its no good ..
    1. alurnya tidak konsistent terlalu memutar-putar terutama masalah kilas balik dengan penjahit( penjahit apa penjahat) … beberapa cerita seperti dipaksakan ( rantai emas, motif binatang,
    2. ini komedikah, misterikah, detektifekah … hmmm ..
    3. Pesan moral … sorry ga ketangkap ..

    But kalo disuruh bikin kaya gini gw jg belum tentu bisa hehe2x…

  4. to rian>>
    hahaha.. thx ya rian. habis waktu itu bikinnya buru-buru jadi ancur-ancuran.. hahaha… ntar di update deeh…

    to rory>>
    and rory, dueeeeeh… aku malu banget… tapi makasih ya, ry. itu sebenarnya cerita tentang seorang disainer muda yang mau mencoba mendobrak tren tapi gagal. soal alur… (ehm..) aku juga belum bisa mastiin arahnya mau kemana. yang jelas.. itu drama komedi. Mungkin lebih tepatnya mau bilang kalau sebelum membuka sebuah bisnis maka harus dipikirkan matang-matang n sebisa mungkin melihat selera masyarakat. gitu..
    makasih banget ya, udah ngingetin aku tentang 3hal itu..๐Ÿ˜‰

  5. sama2 .. baru ngehhh .. sekarang … hehe … aku tunggu karya selanjutnya …

  6. Aku jadi ingat pada cerita tentang seorang wanita yang menubruk mobil…! Lam kenal warsa!

  7. # rory๐Ÿ˜€ karya terbaru segera terbit!

    # warsa
    salam kenal juga..

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s