Kisah Dari Sebuah WC


ADA-ADA saja berita sebuah koran pagi terbitan Jakarta. Yakni bahwa kamar kecil alias WC di kantor Wali Kota Jakarta Barat tergenang air sehingga tidak bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. (Kompas 3 Agustus, 1992 Halaman 7)
Pembaca mungkin ada yang nyeletuk di hati, begitu saja kok diberitakan di koran. Bagaimana kalau sampai dibaca orang asing apalagi dikliping oleh sesuatu Universitas asing di mancanegara, dan lebih lanjut bahkan diangkat sebagai bahan diskusi mengenai perilaku bangsa Indonesia. Apa tidak banyak berita lain, “yang lebih bermanfaat”?
Tetapi komentar orang lain juga bisa berbunyi lain lagi, meskipun sama-sama bertolak dari “begitu saja kok diberitakan di koran.” Yakni: emangnya di Jakarta WC yang kacau balau cuma punya Wali Kota Jakarta Barat doang? Tidak benar kalau dia pegang monopoli dalam hal kejorokan WC ini? Salah-salah bisa banyak sekali tokoh/kepala kantor lain yang “protes”, tersinggung; merasa dianaktirikan; karena yakin WC mereka sungguh-sungguh takkan kalah, joroknya.
Kalau tidak percaya, silakan incognito datang ke banyak kantor pemerintah dan swasta, baik tingkatan Pusat maupun I dan II ke bawah. Kalau tanpa diumumkan lebih dahulu alias diam-diam diadakan “perlombaan,” rasanya akan banyak sekali animonya. Juga stasiun, terminal-terminal bus, pasar-pasar dan sebagainya. Bisa-bisa cukup beratlah nanti, tugas para juri, bukan hanya mengingat kuantitas, melainkan terutama mengingat perimbangan kualitas kejorokan para pesertanya. Di Indonesia kejorokan WC seolah-olah sudah membudaya, seperti korupsi.
Tapi apa iya, bangsa yang berkebudayaan tinggi macam kita, dan mana ber-Pancasila satu-satunya di dunia ini, bikin lomba saja kok macam begituan? Dan misalkan iya, lalu apa gerangan bentuk pialanya? Bunyi piagamnya?
Gampang:

Kepala kantornya, dengan diilhami hukuman jemur ala Pak Bupati Bekasi kemarin itu, bagaimana jika disekap di WC kantor masing-masing, barang tiga jam? Tanpa boleh dibersihkan terlebih dahulu!

****

Masih menurut koran pagi itu, WC kantor Wali Kota Jakarta Barat itu mengapa sampai tak bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya, tak lain karena genangan air di lantainya setinggi tiga sentimeter. Suatu prestasi jurnalistik tersendiri untuk bisa tiba di angka setepat itu. Atau hanya kira-kira?
Yang segera perlu disimak oleh para pembaca ialah bahwa (apalagi sehubungan dengan dengan Perayaan Akbar 17 Agustus nanti) perlombaan bersih-bersihan WC dan seluruh ‘kampus’ perkantoran kita agaknya superimperatif. Itu bahasa gagahnya. Bahasa rakyatnya: amat sangat perlu. Sebab, realitas kita adalah bahwa kejorokan, sebagaimana halnya korupsi, telah merata-lela dan merajalela di seluruh Tanah Air yang padahal indah ini.
Sudah tentu perkecualian ada saja. Beberapa daerah seperti Wonosobo, Temanggung, Surakarta dan bahkan Surabaya sedemikian bersih sehingga menggondol hadiah-hadiah kebersihan yang membanggakan hati. Kendati begitu agaknya masih relevan dipertanyakan: apakah itu bukan terbatas pada jalan-jalan dan sekitarnya saja? Bagaimana dengan WC-WC di kantor-kantor dan tempat-tempat umum? Apakah sudah sinkron merata?
Sebab bukan mustahil para juri kebersihan nasional kita selama ini, oleh terbatasnya waktu kunjungan penilaian, hanya sempat menjenguki jalan-jalan “raya” kota-kota peserta, mereka tak sempat masuk ke sekian banyak WC umum maupun perkantoran pemerintah daerah; terkecuali mungkin di penginapan dinas dimana mereka diinapkan oleh para tuan rumah.
Sebagai bangsa yang berkebudayaan tinggi dan yang merdeka sudah hampir 47 tahun, sudah layaknya permusuhan kita terhadap kejorokan ditingkatkan tanpa kepalang tanggung. Siapa tahu kita akan mampu lebih meningkatkan lagi: kebersihan lingkungan kantor, kebersihan jiwa para karyawan di kantor-kantor itu, di segala tingkat pemerintahan; sampai-sampai ke kebersihan laku dan perbuatan dalam melayani masyarakat.
Dengan demikian korupsi, segala tingkah indisipliner, manipulasi, pemerasan dan berbagai bentuk tindakan yang tak tercantum di Anggaran Dasar Kopri kita bisa secepat-cepatnya terbersihkan dari kantor-kantor kita.

****

Akhirnya, potensi dan fungsi WC dalam stabilitas birokrasi dan akselerasi modernisasi bangsa kita, tak usah diragukan lagi. Apakah dari sini kita harus memulai gebrakan dan gerakan baru? Yakni menuju ke kebersihan iman dan jiwa? Dan dengan begitu: kebersihan birokrasi demi akselerasi demokrasi?
Wah, wah, wah, kelihatannya kok seperti main-main dengan kata-kata saja.
Tetapi coba pejamkan indera pemirsa Anda. Kerahkan daya analisis Anda serta endapkan seluruh sila-sila yang lima itu. Maka rasa-rasanya tulisan ini tidaklah berlebihan. Kebersihan memang perlu kita perlomba-lombakan.
Di seluruh Indonesia. Sepanjang tahun. Mulai dari kebersihan WC sampai ke pembukuan sejati dan lain-lain.

Sumber: Satyagraha Hoerip, Berpihak Kepada Rakyat, Pustaka Sinar Harapan, 1996

6 responses to “Kisah Dari Sebuah WC

  1. setuju….
    bravo kebersihan…

  2. ya kembali ke manusianya itu sendiri..ketika dia sadar akan kebersihan,ya ga akan terjadi hal yg ga semestinya…

  3. coba tiap org bantuin nyiramin wc-wc yg ada…😀

  4. @ yuan
    setuju tuh! tapi yang sadar kebersihan bisa dihitung sama jari..

    @ ndon
    iya nieh bang, maunya sieh gitu tapi buru-buru mau keluar dari WC terus..😀

  5. Di Kotaku ( SUKABUMI ) Mana ada WC Kotorrr, segalanya bersih, rapi, harum, setiap pagi pewangi lantai disiramkan, setiap hari kapur barus dengan aroma segarrr digantungkan.. Itulah WC di Kotaku.. penasaran??? Datang saja ke Sukabumi…Segalanya jadi terbalik antara cerita KORAN di atas dengan realita di … SUKABUMI KOTA IMPIAN…..

  6. @ warsa
    waaah, congratulation ya, mas.. mbok yo sukabumi ne iku di beritakan di koran.. siapa tahu dapat penghargaan sebagai kota yang suka bersih-bersih WC😀😀😉

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s