Roadshow Kampanye Parpol.


“Suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populi vox dei) atau suara rakyat adalah suara artis?” Kalimat inilah yang saya baca di surat kabar Rakyat Merdeka terbitan Minggu, 10 Agustus 2008, sore tadi.

Saya akui, selama ini saya terlalu sibuk untuk memperhatikan berita-berita di media massa seputar artis baik yang kawin-cerai, terlibat narkoba, foto-foto panas yang beredar, penyematan gelar Duta atau kebangsawanan, maupun jadi caleg, cabup, cawagub, atau sekedar ikut-ikutan jadi anggota parpol. Kemunculan para artis tersebut di kancah politik juga diiringi sambutan panas dengan deretan menu terpedas dari orang-orang yang paham sistematika, struktural, dan hukum negara.

Apa saya harus ikut protes juga? Ya. Saya memang akan memprotes sebagai orang yang sempat mempertanyakan sistem pendidikan di Indonesia.

Protes kepada siapa saja yang baru menyuarakan ketidak-setujuannya atas taktik udang beberapa partai politik. Protes, hanya karena mereka artis lantas warga rame-rame mendokumentasikan sebagai potret pemimpin timokrasi. Karena serombongan artis, masyarakat pun menjerit-jerit, para jurnalis mengetik teras berita kontras, naratif dan menjerit. Karena serombongan itu begitu mencolok, semua tanya kenapa.

Sayangnya, saya baru melihat rakyat Indonesia seheboh ini mempertanyakan kredibilitas dan kualitas calon pemimpin Indonesia. Saya bisa maklum kalau mereka yang duduk di kursi-kursi petinggi negara itu kurang penggemar. Padahal, tiap waktu media massa menyoroti kebobrokan sistem pemerintahan Indonesia, melompongnya konsep-konsep yang ditawarkan pemimpin terdahulu, pemikiran yang sangat marketing sekali dan otak-otak yang hasil timbangannya tidak melebihi nol koma nol nol satu ons.

Ah, rakyat Amerika Serikat saja tertawa-tawa tuh melihat “kampanye”-nya Paris Hilton yang berniat mengecat ulang Gedung Putih dengan warna pink, kalau terpilih.

Jadi, kenapa kita tidak tayuban saja? Menikmati nyanyian dan goyangan caleg-caleg pedangdut Indonesia.

Iklan

19 tanggapan untuk “Roadshow Kampanye Parpol.

  1. itu betul..
    tapi alangkah baiknya mereka tidak hanya termasyur belaka tapi juga bisa mengelola negara. Tidak hanya sekedar duduk dan bilang oke kayak lagunya T2.
    jika diadakan debat caleg mungkin kita akan jadi tahu, siapa yang berhak duduk di sana. apa mungkin malah gak pernah tahu karena setiap mau jawab pertanyaan ada break, bilang: “eits eits.. sebelum itu, saya mau nyanyi dulu..” 😀

    Suka

  2. Yang berdebat itu mereka sendiri, cuma mereka memukul gong melalui mass media, sehingga kedengaran kesegala penjuru, mereka riuh menarinari dan bernyanyi sendiri. Rakyat mungkin tidak perduli, cuma gongnya itu makin nyaring bunyinya, soalnya di lap pakai duit.

    Suka

  3. ..demkrasi yang salah kaprah.. sebetulnya, metode suara terbanyak itu gak selalu dan bahkan seringkali tidak memberikan hasil yang terbaik.. terutama bila yang memberikan suara tidak berdasarkan kriteria2 yang pantas dan dapat dipertanggung jawabkan..

    Suka

  4. kayaknya para artis pada malu semua ma anggota DPR, coz akting mreka lebih heboh

    anggota DPR jauh lebih bisa memukau rakyat seindonesia, jadi para artis mau berguru ke sana

    :Dv

    Suka

  5. #singal
    wow! memang enak kalau duit boleh buat kain lap-lapan.. 😀
    begitulah kang..
    kayaknya saya termasuk terpukau sama gongnya tantowi yahya, nurul arifin, angelina sondakh, dan adjie masaid, mereka artis yang punya talenta di bidang politik.
    Namun, partai-partai yang jumlahnya kian meningkat ini, menyebabkan mereka merekrut artis biar bisa dapet voter sebanyak-banyaknya. Sekali pun artis tersebut belum matang.. maaf ya, saya ndak bermaksud mendiskriminasi..

    # ariefdj
    😀
    namanya juga demokrasi, mirip teorinya pluto tentang siklus sistem kenegaraan.. bahwa jika negara sudah dipimpin rakyat maka akan terjadi kekacauan sehingga akan kembali ke aristokrat dimana pemerintahan dipimpin oleh cendekiawan.
    sekarang ini lagi menuju timokrasi rasanya…

    # petak
    oh ya?
    waaah… ada maksud lain nieh kayaknya.. apa maksudnya rakyat masih didikte? hmm… *sambil ngelus-ngelus dagu*

    # geiztia
    iya mbak, makasih ya..
    saya usahakan gak golput.. 😉

    # indra1082
    …hmm…
    mungkin sampai kita semua muak nembang lagu ini:
    “suwe ora jamuuuu, jamu godong telo.. suwe ra ketemuuu, ketemu pisan tetep telooooooo…” hahaha…

    # giri
    hehehe..
    kalau begitu, marilah kita sama-sama mengenal lebih jauh profil artis yang rame-rame masuk politik itu.. kalau memang ada yang bisa membawa perubahan positif bagi negara, marilah dijadikan kendaraan bagi rakyat untuk bersuara. jangan asal ganteng, cantik, atau jago nyanyi dan goyang lalu dipilih..

    eia, tapi mas, masih untung dewi persik dan inul gak ada niatan mencalonkan diri jadi calon walikota dan calon wakil walikota bogor ya? kalau ndak, kota hunian saya ini bisa digergaji lalu diboorrrrr.. :p

    Suka

  6. ini adalah dalam proses dalam sebuah perjalanan panjang civilisation bangsa ini…
    rakyat cuma pake pendekatan short term… kalo apa2 mahal, kemudian semakin mahal, gak ada yang bisa dipercaya…

    mana sekarang krisis global… turbulensi krisis USA mulai menyeret Eropa, saat ini mulai mendekat ke Asia, dimulai dari Korea.
    kemaren makro ekonominya bagus, kita masih susah, sekarang makro ekonominya mulai gawat… kita gimana ya..???

    Suka

  7. # sayur asem
    horeeee makasih ya, lain kali saya calon kan diri saya sebagai… 😉

    # deddy d
    kan senasib sepenanggungan… 😕 satu senang semua senang, semua susah seenggaknya ada satu yang senang biar semua senang :mrgreen:
    anyway, sifat khas rakyat indonesia adalah pemaaf dan pelupa. Jadi, kalau sampeyan mau nyalonin diri jadi petinggi negara manfaatkan sifat utama itu ya.. 😈

    Suka

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s