Teorinya Gitu Sieh..


Pagi ini saya sengaja dandan rapi, pakai tank top hitam dan blazer coklat muda plus sabuk coklat muda dipadukan celana pensil panjang hitam dan sendal teplek hitam, untuk menghadiri persidangan, di Pengadilan Negeri Bogor. Walau, aah pas buat shopping habis ngantor.. Tentunya, gaya saya kali ini gak saltum lagi di hari pertama saya. Saya datang cukup tepat waktu, karena hanya menunggu sekitar 10 menit untuk masuk ke ruang sidang. Sekedar info bahwa, dulu saya pernah mengikuti praktek Sidang Semu dimana kasus, Jaksa, Hakim, Pengacara, Terdakwa, Korban, Saksi dan para Hadirin hanya rekayasa, walau pun saya bukan dari Fakultas Hukum. Menurut pengalaman saya di Sidang Semu, baris terdepan di siapkan bagi kerabat terdakwa dan korban, pengacara dan saksi. Jadi saya duduk di tengah jejeran kursi, agak mojok ke samping. Di sana, ada 3 wartawan merangkap photographer dari lima yang bertebaran. Sebelum acara dimulai, saya benar-benar bosan. Kalau kebanyakan hadirin bawa rekanannya, saya cuma sendirian. Gak ada sinyal Wi-Fi, gak ada pulsa buat sms-an atau telpon, gak bawa komik, novel atau iPod buat hiburan dan gak ada temen ngobrol. Di sebelah saya duduk ibu-ibu paruh baya dengan pakaian serba cokelat gelap mulai dari: sepatu high-heels, stocking, rok span, kemeja lengan pendek, kalung batu, jilbab, soft-lens, lipstik, blush on, eye-shadow… Saya memperhatikannya agak lama sampai dia nyadar dan noleh ke saya, senyuman saya dibalas nyengir. O-ou! Giginya coklat dengan behel cokelat juga! Buru-buru saya lepas kacamata, ternyata efek lensa. Dia masih normal. Kuatir dia tersinggung, saya langsung basa-basi: pura-pura tanya jam disambung datang dari mana plus embel-embelnya, biar gak bosen saya tanya soal kasusnya, dan di situ saya dapat info kalau ini adalah perkara pidana, kasus penipuan uang sebesar 50 juta dan dia adalah salah satu kerabat dari korban.

Lho? Kok gak duduk di depan? Bukannya kursinya sengaja disiapin buat keluarga pihak terlibat?”
“Oh ya? Yang di depan malah kebanyakan orang yang gak saya kenal,” ada jeda “bukan dari keluarga kami atau pihak lawan”.
“Penyimpangan, bener-bener…” Saya kecewa. “Padahal dalam aturannya gak boleh gitu lho”. Dia cuma meng-oh-kan.

Dalam waktu 5 menit, ruang sidang penuh. Sesuai dengan yang saya praktekan dulu, pertama-tama Panitera masuk dan menempatkan diri di tempat sidang. Dilanjutkan dengan mempersilakan Majelis Hakim memasuki ruang sidang dan para Hadirin harus berdiri hingga Hakim duduk, untuk sekedar penghormatan. Atas dasar teori itu, saya spontan berdiri begitu melihat Hakim masuk. Saya menunggu hadirin lainnya ikut berdiri tapi nyatanya mereka malah ngelihatin saya dan beberapanya pasang ekspresi: Ha?!
Waktu itu rasanya saya pengen langsung di telan bumi. Sambil mengumpat: Kok pada gak berdiri sieh? Kok gini sieh? Kok gitu sieh? Dan macam-macam sieh lainnya.

Kemudian, para pihak (Terdakwa dan Korban) baru dipersilakan memasuki ruang sidang. Susunannya: Korban dan Terdakwa duduk di depan Majelis Hakim didampingi kuasanya, Korban di sebelah kanan dan Terdakwa di sebelah kiri dari meja Majelis Hakim. Ketua Majelis Hakim membuka sidang dengan ketukan palu tiga kali: DUKK! DUKK! DUKK!

Di sesi tersebut, Ketua Majelis Hakim menanyakan identitas para pihak dimulai dari Korban. Berbeda dengan sidang perdata, dalam sidang pidana tidak ada upaya perdamaian di sidang pertama. Dalam sidang ini, kasus dibuka langsung ke tahap pemeriksaan. Setelah adu argumen agak lama, kedua belah pihak dipersilakan mengajukan saksi-saksinya untuk disumpah dan dimintai kesaksiannya dalam Acara Pembuktian.
Dalam Acara Pembuktian tersebut, ada salah satu saksi yang diancam dijatuhi hukuman karena memberikan kesaksian palsu. Kira-kira kronologisnya seperti ini:

“Jadi,” saksi sambil mengintip isi kertas di tangannya “saya waktu itu transfer 16 juta,” jeda “dan 7 juta ke rekening terdakwa,” ngintip lagi “jadi totalnya 27 juta”. “Waktu itu saya kirim,” sambungnya lagi sambil ngebalik kertasnya “saya kirim hari selasa tanggal 22 april 2009 untuk nominal 16 juta dan 7 jutanya saya kirim sekitar 5 hari kemudian” kali ini dia benar-benar membacakan isinya.
Eh? Gak salah?” Saya nyeletuk spontan. Saya akui bahwa aritmatika dan memori saya memang jelek ditambah dengan tidak adanya pengajuan keberatan dan Hakim pun kelihatan serius mendengarkan kesaksian. Jadi saya adem-ayem saja. Namun, diakhir kesaksian pengacara korban mengajukan pertanyaan pada Hakim, “pak, coba anda hitung, bener gak 16 + 7 = 27?”
Hakim kelihatan mikir, gak lama dia langsung berdiri dari kursinya sambil menunjuk-nunjuk saksi “Jangan mempermainkan saya ya! Saya bisa tuntut anda atas kesaksian palsu. Anda melanggar sumpah!” Wajah saksi langsung pucat dan pengacara tadi langsung menimpali, “apa sieh kertas-kertas tadi itu? Coba sini saya lihat!”

Melihat kejadian ini, saya cuma bisa cekikikan sambil geleng-geleng kepala. Kalau iya saksi tadi cuma buatan, bisa jadi dia salah satu rejected product. Files-nya belum dipindahin ke memory internal.

6 responses to “Teorinya Gitu Sieh..

  1. Cin, bisa juga kamu buat cerita menarik ini..tapi yg buat saya lebih cekikikan lagi waktu kamu berdiri ngelihat hakim padahal yg lain ngga berdiri…mungkin pikiran orang yg liat kamu dlm hatinya bicara…”Wah, ada juga ya yg ngfans sama hakim” ^^

  2. Kata orang pengadilan kita penuh dengan segala hitung-hitungan . Kalo sudah diitung semua bisa diatur .

    Bisa jadi saksi grogi hingga salah ngitung karena diliat gadis bertank top eh berblazer eh paduan dua2anya:mrgreen:

  3. nambahi atasnya: .. dan berdiri dengan pedenya… salut…salut…:mrgreen:

  4. perasaan aku kmrn juga ikut sidang, tapi kok hakim nya malah cekikikan

    *sidang tilang

  5. cerita yang menarik dan bebas stres tentunya , salam kenal ya

  6. hwakakakakaka…..segalanya di pengadilan bsa berubah…lha wong 1+1 ajah bisa 3 atau 11…

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s