Sudahkah Anda Dishalatkan?


BELUM. Pertanyaan bagi orang hidup tentu saja belum. Namun, kalau ada yang menjawab sudah, perlu ditanyakan riwayat kehidupannya. Bagi saya, pertanyaan tersebut bukan suatu hal yang sepele. Tidah hanya menyangkut nyawa dan agama, melainkan juga pengalaman hidup. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk mengganti kalimat itu dengan yang lebih baik bin mujarab, seperti kalimat yang pernah ditempel distiker kuning bertuliskan: Sudahkah Anda Shalat Hari Ini?. Jangankan shalat untuk kebaikan diri sendiri, masih bisa bilang Alhamdulillah pas ada yang berkenan menyolati saya saja sudah bagus.

Pernah baca cerita Ayam?

Dikisahkan seekor ayam masuk ke dalam sebuah mimpi seseorang kemudian berdialog dengan orang tersebut tentang perbedaan fungsi lutut ayam dan manusia. Dimana lutut ayam adalah untuk mengerami telur sedangkan lutut manusia merupakan bentuk ciptaan yang melambangkan kesempurnaan karena susunan yang demikian adalah untuk melaksanakan perintah rukuk dan sujud. Dan setelah orang tersebut bangun tidur, ia langsung menjadi mualaf dan bermunajat cinta ria dengan Tuhan barunya. Sekali lagi, mengenai ajaran dan hikmah shalat. Saya tidak bergeming. Tidak terpana. Tidak terpaku. Apalagi mengucap puji-pujian. Tapi ada satu kabar bagus, saya tersenyum! Karena saya sadar, hakekatnya ya memang seperti itu kan?

Apakah saya terlihat sombong? Maklumlah, belum turun hidayah. Semoga secepatnya bisa terketuk pintu hatinya.

Datangnya bulan Ramadhan yang penuh berkah dan hikmah ini, tentu saja yang dicari adalah amal dan senantiasa beribadah demi meraih apa yang disebut Lailatul Qadar. Seenggaknya, itu yang terbesit dan orang lain lakukan. Sekilas curhat, beberapa bulan terakhir ini saya sudah cukup banyak merasa ditinggalkan orang-orang tersayang karena rasa cinta dan rasa ingin bertemu dengan Tuhan Yang Maha Kuasa serta menemani makhluk ciptaannya di alam nirwana. Berat bagi saya, menangis pun sudah tidak bisa karena saya sudah ‘kehabisan‘ energi. Lagi pula, masih ada yang lebih pantas sedih sampai mata bengkak akibat menangis bermalam-malam, pikir saya. Yang ada dalam benak saya saat itu hanyalah, mungkin giliran saya sebentar lagi. Itu menurunkan gairah hidup dan menambah rasa bersalah.

Padahal agama saya menginformasikan bahwa shalat akan menjadi pilar-pilar yang memperkokoh jalanan kehidupan saya. Ditambah mengaji, zakat, zikir, puasa apalagi menunaikan ibadah haji. Karena shalat itu sendiri merupakan ibadah yang menghubungkan rohani kepada Sang Khalik dengan cara bermunajat kepada Allah. Melalui media tersebut setiap umat manusia diberi kesempatan untuk berdialog dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, Pengampun Dan Maha Penyayang, tentunya dengan tingkat kekhusyukan yang sudah ditentukan. Dengan mencapai suasana spiritual seperti itulah, saya mampu mengungkapkan segala perasaan dan berbagai macam permasalahannya. Sehingga tidak hanya merasa dekat tapi juga didengar serta dilindungi perasaannya. Khusyuk bukan hanya sekedar tenang dan fokus tetapi juga bersungguh-sungguh.

Namun, sayang sekali, pengertian shalat saya hanya sebatas pemahaman belaka, bukan perwujudan. Maka, bukankah lebih baik saya mengganti tema frekuensi shalat menjadi Sudah adakah yang menyolati saya?. Karena dengan pertanyaan itu, saya tegaskan lagi, ada harapan muncul keinginan menyolati diri sendiri sebelum orang lain mengambil inisiatif untuk menyolati saya.

18 responses to “Sudahkah Anda Dishalatkan?

  1. Kamu butuh pendamping hidup Fie…, hm….. interested?😀

  2. Wew… mirip dagang yah?? Hm…. berarti gue tipe orang yang kurang romantis yah?

  3. “Sudah adakah yang menyolati saya?”
    lalu..
    “siapa saja yang tadi ikut mengubur saya ?”
    kemudian..
    “siapa tuh yang cengengesan ngambil bunga di pusara saya?”
    terakhir..
    “saya akan datang dalam mimpi burukmu malam ini”:mrgreen:
    *tabur bunga*
    *ngeloyor*

  4. Agar Tuhan bisa masuk ke dalam diri Anda, Anda harus keluar dari situ.
    Kalo Anda mau menyalati diri Anda, Anda harus mati dulu. Seperti yang Anda sebutkan di muka, buat orang hidup, tentu belum pernah.

    Nah, di situ masalahnya. Pan seperti kate Nabi tuh, manusia itu di dunia ini lagi tidur atawa mati kecil. Nah, Anda pan ngerase sekarang idup, ya pegimane bise nyolatin diri sendiri. Mati dulu di dunia ini (seperti yang dimaksud omongannye tuh Nabi)

  5. sebenernnya kan ada stiker yang tulisannya lebih panjang
    “Sudahkah Anda Shalat Hari Ini?, Shalatlah sebelum anda dishalatkan”

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s