Susu Rambut Kucing


Kucing. Siapa yang belum tahu hewan yang satu ini? Hewan yang merambah ke kehidupan kampung, kota, hutan, pantai hingga pesisirnya, medan perang, kolong jembatan, loteng rumah, dan siapa tahu ada kucing di padang pasir? “Kucing”-pun enggak melulu soal binatang. “Kucing” menjadi primadona diberbagai istilah bermakna konotasi atau denotasi, termasuk peribahasa, seperti apa yang Abraham Lincoln bilang “No matter how much cats fight, there always seems to be plenty of kittens.”, atau sisipan dalam novel Othello, 1604, Shakespeare menyinggung kucing sebagai “monster” bermata hijau karena caranya bermain dengan tikus sebelum membunuh mereka, menggunakan istilah Green-eyed monster.

Kepopulerannya sudah terasa sejak masih anak-anak. Sejak balita maupun baru lahir. Bahkan sejak dalam kandungan pun, “kucing” sudah diperkenalkan. Contoh satu lagi adalah dalam istilah kedokteran. “Kucing”, disebut-sebut menjadi momok paling menakutkan dibandingkan kelinci, anjing dan kambing karena Sang Pembawa Virus Toxoplasma atau Toxoplasmosis ini mudah ditemui. Di usus binatang itulah parasit berkembang biak hingga bertelur kemudian telur-telurnya terbawa keluar bersama tinja. Jika telur itu tertelan manusia, parasit akan masuk ke jaringan otak, jantung, dan otot yang kemudian akan kembali berkembang biak hingga menjadi kista. Wanita hamil dengan Toksoplasmosis berisiko mengalami keguguran atau melahirkan bayi cacat. Sedangkan pada pria bisa menyebabkan penglihatan kabur. Tapi kan virus kucing gak separah bawaan unggas dan binatang ternak lainnya?

Lalu apa yang menarik dari susu rambut kucing?

Tidak saya sarankan untuk memproduksi atau mengkonsumsi susu rambut kucing. Mari ditelaah baik-baik, susu rambut kucing merupakan tiga hal yang berbeda. Terdapat korelasi dari susu, rambut dan kucing.

Jika susu dikaitkan dengan sumber kehidupan, dimana sejak lahir, dengan mengkonsumsi susu, makhluk mamalia dapat bertahan hidup karena terpenuhinya asupan gizi. Dan jika rambut merupakan kelanjutan dari bertahan hidup, maka rambut bisa menjadi salah satu indikator tingkat kesehatan pemiliknya. Abaikan saja kalau ada yang sengaja membotaki ladang tumbuhnya rambut. Terakhir kucing merupakan refleksi dari responsitas. Sebagai tambahan bahwa hampir semua kucing bersifat luwes yang dibarengi dengan tingkat kepekaan atau kesensitifitasan yang akan menjadikan Sang Kucing selalu menjaga zona pribadinya sehingga siap menghadapi ancaman.

Idealnya, setiap orang diberi kesempatan untuk menyadari betapa berartinya tiga hal tersebut. Dan harfiahnya, produk Susu Rambut Kucing-nya saya, tidak bisa disamakan dengan Selai Rambut Lady Di produksi Sam Bompas.

17 responses to “Susu Rambut Kucing

  1. The question is, does yours is good enough…πŸ˜‰

  2. Saya mah ga masalah mau enak apa engga…. Orang saya mau dari dulu kok….πŸ˜€

  3. bgimna klu rambut susu kucing…???? πŸ˜€

    salam kenal…

  4. *ngakak*
    *bengong*
    *pergi*

  5. Fie, tuh susu rambut kucing emang ada? Kalo ade ribet banget yah minumnya…hehehehe

  6. hello my name is gadis.

  7. hmm gak ngerti… sorry nubie abis..πŸ˜€
    gizi… iya, tolak ukur kesehatan… iya, mestinya lanjutannya… mungkin bisa ke: umur, atau apalah… kenapa lalu hrs ke kucing?
    kalo umur… bisa dilanjut nulisnya: kerang (konon ada yg bisa hidup smp 400thn), atau ikan paus (200 thn), atau kura2 Galapagos (150 thn).

    sekali lagi… kenapa harus kucing…?

    • karena menurut folosofi dan kepakaran kucing. seekor kucing bukan ciptaan Tuhan yang berumur panjang, sehingga ia belajar bagaimana memanfaatkan hidupnya yang singkat itu. seyogyanya manusia juga sama, memanfaatkan hidup yang singkat itu.

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s