Tidak Selalu Tentang Kepintaran


Malam larut dalam pikiran saya dan perbincangan tetangga depan rumah. Seharusnya, saat ini saya juga mengobrol dengan kekasih hati tapi kesibukan menghantui kami. Ada benarnya juga yang dikatakan ibu, “mata dan hati tidak selalu bisa mengukur jarak, terasa jauh atau terasa dekat. Tapi bagaimana cara seseorang berbicara dengan lawannya lah yang memberitahu jarak tersebut.” Ia menyusun kalimat tersebut sambil mencuci piring. Setiap kali mendengar ucapan ibu yang seperti ini, saya hanya termangu sebentar lalu melengos, karena kadang ibu tiba-tiba saja memberi petuah tanpa saya ketahui asal muasalnya.

Suara muntah-muntah dan sendawa yang dilakukan tetangga depan rumah telah membuyarkan memori saya tentang ibu. Entah apa yang dilakukan oleh rombongan “mahasiswa” Zeni Internasional tersebut. Mereka berkomunikasi dalam bahasa Jepang yang logatnya kadang terdengar seperti orang Madura. Sekitar satu jam kemudian, seorang teman lama yang baru saja selesai bekarja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong membawa segepok cerita dan untaian rindu. Dia bertanya macam-macam tentang saya dan keluarga, “sudah punya berapa anak?”, “kapan nikah lagi?”, “bagaimana mertua dan orang tua?”, “bagaimana pekerjaan saya?”, “mau ikut kerja di luar negeri gak?”

Ngobrol ngalur-ngidul, membahas ini-itu, diskusi macam-macam membawa kami kepada obrolan yang lebih mendalam. Batin saya terguncang ketika membicarakan perilaku pasangan hidup masing-masing.  Bisa jadi karena kerenggangan, sehingga terselip perasaan dan pemikiran negatif. Teman saya, yang mampu membaca ketidaknyamanan yang terpancar dari aura saya, tidak segan-segan menawarkan diri untuk membantu menyelidiki kadar kesetiaan yang dimiliki pasangan. Dia menceritakan pengalamannya membantu teman-teman kerjanya sesama TKI yang memiliki masalah suami-istri menggunakan kemampuan supra-natural. Diceritakan bahwa proses kerjanya adalah dengan mengirim Ruh-nya untuk menyusup ke alam bawah sadar sasaran, kemudian menggali informasi yang diperlukan. Dia semakin berusaha meyakinkan saya dengan mengeluarkan kalimat andalan: alam bawah sadar tidak akan berbohong. Bisa jadi dia benar, melihat acara hiburan “Uya Emang Kuya” yang mengandalkan seni hipnotis. Bisa jadi dia tidak sepenuhnya benar, mengingat seluruh alam semesta ini penuh dengan rahasia yang tidak ada habisnya, sehingga jika semuanya terkuak maka tidak ada seorang pun yang mampu menahan beban akibat rahasia tersebut.

“Sudah belum mikirnya?” Dia mengusap-usap kepala gundulnya sambil memicingkan mata ke arah saya, “Ini baik untuk kelangsungan hidup sampeyan. Apa lagi yang harus dipikir? Sampeyan tinggal duduk dan menunggu hasilnya.”

“Justru itu, ndul. Semua ya harus dipikir.”

“Boleh saja kalau kau mau. Saya hanya menjelaskan, pikirlah dengan hatimu,” jemarinya diketuk-ketukan ke dada, “pikirkan perasaanmu. Apa sampeyan tidak kuatir kalau dibohongi setiap hari?”

Tentu saja saya kuatir. Siapa yang senang dibohongi? Siapa yang senang berdekatan dengan orang yang rajin berbohong demi kepentingan seseorang atau suatu golongan yang ingin dilindunginya? Namun, saya gelengkan kepala untuk setiap argumennya. Bagi saya memang tidak perlu terlalu kuatir karena tidak ada kata-kata atau kejadian yang harus saya susun untuk menutupi sesuatu. Jika saya pikir kembali, saya seperti berusaha membesarkan hati dengan menguatkan apa yang saya yakini.

“Ini zaman modern. Zamannya orang-orang cerdas. Memiliki pemikiran maju. Segala sesuatu berhubungan dengan waktu dan strategi. Kalau sampeyan tidak mau ketinggalan, ya harus cerdas.” Semangatnya semakin membara melihat penolakan saya, “diam itu emas kalau kita tahu situasi sebenarnya. Tapi kalau tidak, emasnya cuma imitasi,” dia melanjutkan memprospek saya. Bisa jadi ia merasa kemampuannya disepelekan.

“Biar saja imitasi. Untuk apa mengetahui apa yang ingin disembunyikan orang lain? Jika memang dia memiliki rahasia, dia akan menceritakannya setelah siap,” saya teguk kopi dingin teman saya yang tidak disentuhnya dari tadi, “apa bedanya saya tahu sekarang dan tahu nanti? Apa untungnya bagi saya selain rasa puas memaki-maki orang yang saya cintai begitu memergoki kesalahannya? Itu pun jika memang dia berbohong.” Saya berusaha melanjutkan kalimat sambil mengatur nafas, “menjadi cerdas atau menjadi bodoh, dimata saya terlihat sama.”

“Lantas, bagaimana pandanganmu tentang haram dan halal?”

“Siapa yang haram dan siapa yang halal?”

“Dia haram bagimu karena berhianat! Dan kau halal bagi yang lain.”

Sungguh! Ucapannya terasa janggal di kupingku. Saya diam saja agar tidak salah merespon. Matanya terus mengontak saya. Nafas yang keluar dari mulutnya yang menganga itu terdengar seperti menuntut saya mengucapkan kalimat baru.

“Seandainya kau adalah saya, apa yang akan kau lakukan begitu kau tahu bahwa pasanganmu, orang yang telah lama hidup bersama denganmu hingga akhirnya kalian memiliki keturunan, ternyata memilih untuk menghindarimu karena berselingkuh atau sudah jenuh dengan hubungan yang kalian jalani?”

“Cari lagi yang baru! Kenapa sampeyan mau menyimpan duri di kerongkongan?” Jawaban spontannya memang berdasarkan perilaku umum dan cukup rasional di zaman sekarang. Kawin-cerai-kawin lagi-cerai lagi, tidak lagi menimbulkan rasa malu, iba, dan berat hati. Bagaimana dengan anak-anak? Tidak perlu kuatir! Ada sisi kemanusiaan di hati orang tua mereka berkedok kesepakatan, setidaknya ada badan hukum yang menangani jika kedua pihak enggan mengasuh. Namun, ada juga orang yang berpikiran untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Merebut kembali istri/suaminya dari tangan orang ketiga seperti yang dilakukan Hillary Clinton. Tidak mudah untuk mengatasi perasaan ingin berpisah saat larut dalam kesedihan dan kemarahan.

Hidup penuh pilihan. Pada dasarnya pilihan hanya ada dua, dalam pilihan ada pilihan. Menikah atau membujang. Bercerai atau bersatu. Jatuh cinta lagi atau mati rasa. Bahagia atau menderita. Sembuh atau sakit. Untuk menentukan sebuah jalan hidup yang tepat, kecerdasan apa yang diperlukan? Emosional? Inteligensi? Spiritual? Gabungan dari semua kecerdasan?

Kecerdasan yang mana saja, bagi saya tidak begitu berarti. Demi terjalin hubungan baik dalam keluarga, biarlah saya tetap menjadi bodoh. Mungkin memang Allah telah menakdirkan saya untuk menjadi orang bodoh seumur hidup. Orang yang tidak memiliki hasrat mencari kebenaran sampai rela terisak sambil menyumpah. Orang yang tidak gentar menghadapi penyesalan atas keterlambatan melangkah karena kesalahan saya dan pasangan. Biarlah saya tetap bodoh karena membiarkan orang lain merasa menang dan senang karena sukses membodoh-bodohi saya, walau sebenarnya selalu ada yang tidak bisa dibodohi.

Teman saya beranjak pulang tanpa salam. Hanya kibasan tangan dan punggungnya yang semakin terlihat menjauh dari pandangan. Dasar saya bodoh! Tapi ah, biar saja lah.

2 responses to “Tidak Selalu Tentang Kepintaran

  1. hmmm kelihatannya seperti itu mas ger…
    eeeeh mas ger, ada di sini rupanya😀

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s