Kisah Kecil Di Sore Hari


Waktu saya masih kelas 1 SD, saya dan teman-teman se-geng punya rencana buat bikin acara jelajah malam. yah, model acara uka-uka, dunia lain, atau indigo yang lagi nge-trend di TV sekarang ini. Maklumlah, SD kami terkenal angker. Banyak cerita horror tentang SD kami. Ada yang bilang bekas Sekolah Rakyat, banyak orang gantung diri, vampire, drakula, sarang genderuwo, sampai kisah penculikan anak-anak menjelang maghrib oleh kuntilanak. Ide ini disambut meriah oleh teman-teman sekelas. Banyak yang pengen ikut, bahkah dari kelas sebelahpun juga daftar. Akhirnya ditetapkan juga jadwal keberangkatannya yaitu, tepat pukul 5 sore ngumpul di bawah pohon beringin, depan Keraton Yogyakarta.

Saya sengaja berangkat tepat pukul 5 sore dari rumah, karena selain rumah saya dekat, saya pun pesimis dengan keseriusan mereka. Eh, tidak disangka, saya melihat ada 10 orang yang masih setia menunggu sejak tadi, walau sambil misah-misuh. Basuki, teman saya yang sebesar karung beras, bilang ke saya kalau mereka hampir saja bubar. Saya sih hanya ketawa saja. Tanpa basa-basi, ngobrol ngalur-ngidul, berdiri gak ada juntrungannya, langsung saja kami melangkahkan kaki ke gerbang putih Sekolah Dasar Keputran 1 Yogyakarta. Langkah demi langkah, kami maju dengan langkah selebar bayangan badan kami. Saya pasang wajah garang, siap menerjang hantu di depan. Namun, sesampainya di sana, ternyata gerbang sekolah sudah dikunci. Saya dan teman-teman seketika itu lemas sambil menepuk-nepuk jidat. Lain dengan Basuki, dia menepuki perutnya sampai berbunyi “bung, bung, bung…”.

Saya melihat teman-teman tidak lagi bersemangat dan mengajak pulang. Benar juga sih, apa lagi yang bisa kami lakukan di depan gerbang. Gelar tikar? Makan gorengan? Main gundu? Atau melihat bintang? Hmmm, solat maghrib lebih baik. Lagi pula, kami belum mendengar adzan maghrib sejak tadi. Saya meluluskan permintaan mereka. Setelah bersalam-salaman dan berpelukan, kami bubar jalan. Saya melambaikan tangan kepada mereka yang kelihatannya lagi asyik ngerumpi.

Saya terus berjalan kaki ke rumah dengan langkah kaki gontai. Badan basah, mandi keringat. Rambut lepek. Angin menikam sekujur tubuh, seakan ingin merobek kaos putih tipis saya. Terus terang saja, saya tidak ingin pulang secepat itu. Saya menoleh kebelakang. Berharap melihat sesuatu. ‘Apa sajalah, yang penting seram,‘ pikir saya saat itu. Tentu saja, itu hanya angan-angan kosong belaka. Saya berjalan melewati alun-alun. Berlari di rerumputan basah. Main lompat kodok. Berguling-guling. Kemudian, berlari lagi hingga sampai di depan gang yang hanya selebar tubuh cungkring saya. Gang itu, kalau disusuri terus, lama-lama tembus ke gang besar depan masjid. Tanpa ragu, saya berlari sekencang-kencangnya hingga ke depan masjid. Sesampainya di masjid, saya wudhu dan solat berjamaah. Selesai solat, saya langsung pulang ke rumah.
Keesokan harinya, saya berangkat sekolah seperti biasa. Di tengah jalan, saya bertemu Basuki dan ibunya. Langsung saja saya sapa sambil berlari kecil, “Bass!”. Basuki dan ibunya menoleh ke belakang. Sesampainya di samping Ibu Basuki, saya tanya-tanya, “Basuki, kemarin kamu pas pulang dimarahin ibumu gak?” Saya cengar-cengir sambil menggandeng tangan ibunya.
Basuki geleng-geleng, “enggak tuh. Emangnya kamu kena marah ya?”
“Enggak juga sih…”
Selang beberapa saat, Basuki buka suara. “Eh iya, aku minta maaf ya, Lut. Kemarin aku gak bisa dateng. Soalnya, ibu ngajakin aku ke mall baru dekat Beringharjo,” Basuki mengulurkan tangannya.
“Lho?! Maksudmu Bass?”
“Jangan marah gitu dong…” Basuki mulai merajuk, “Bu, Lutfi marah nih bu, sama Abas…” Tangan ibunya digoyang-goyang ke depan dan ke belakang.
Ibu Basuki hanya tertawa melihat kami, “maafin tante ya, nak. Kemarin habis pulang sekolah, Basuki tante culik.”
“Bener tante?” Mata Ibu Basuki saya tatap lekat-lekat. Ibu Basuki mengangguk sambil tersenyum.
Wah, batinku, ‘mati aku!
Lha, ya bagaimana tidak? Yang saya datangi, salami, sampai saya ajak ngobrol dan saya peluk, ternyata Basuki Palsu! Lha ya, itu dia hantu sekolah yang kabarnya santer beredar di masyarakat. Untung Gusti Allah masih menyelamatkan saya. Kalau saja, gerbang tidak dikunci, saya tidak segera pulang, dan kaki saya berhasil menginjak tanah SD Keputran 1 Yogyakarta. Mungkin Basuki Palsu itu langsung berubah wujud jadi kuntilanak, genderuwo, pocong, mister gepeng, atau makhluk sejenisnya, menculik saya ke alam mereka. Bisa jadi, yang saya temui bukan cuma Basuki Palsu, tapi juga Laksmi Palsu, Bestari Palsu, Hani Palsu, Ranum Palsu, Gayathri Palsu, dan teman-teman jadi-jadian lainnya yang tidak bisa saya sebutkan lengkap di cerita ini.
Maknanya adalah jangan sekali-kali nantang, apa lagi dengan yang memiliki kekuatan gaib.

 

6 responses to “Kisah Kecil Di Sore Hari

  1. aduh..ada2 z..anak2 pemberani..

  2. bang yisha dan bang fiaz, terima kasih ya udah “i like it”😀

  3. jangan sekali-kali gitu lagi y..:D

  4. hiih ngeri…..
    waktu masih di batam dulu, ada juga orang cerita kalo ketemu aku malam2 jalan keliling komplek, pas ditanya jare gur senyum..
    padahal pas kejadian aku ngorok dikamar dengan damai…😀

    Themesnya bagus, tapi mata tua saya jadi pusing karena bulat2 warna-warni mengaburkan warna tulisan…nuwun

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s