Pengusaha Gila Gara-Gara Social Media


“Seorang direktur keuangan di PT Mati Tbk., Galah Malamana (59), harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa, setelah divonis menderita sociomophia oleh Dr. Acula Vom Piere. Sociomophia adalah virus yang menyerang syaraf-syaraf otak. Menurut Dr. Acula, penderitanya selalu mengungkapkan perasaannya secara berlebihan kepada publik untuk menarik minat para komentator. ‘Contohnya adalah apa yang dialami oleh Bapak Galah ini, hampir setiap menitnya dia melakukan update status. Tidak peduli lokasi dimana ia berada. Bahkan, jika anda membawanya ke tepi jurang, ia tetap akan meng-update status,’ papar Dr. Acula. Pernyataan Dr. Acula pun dibenarkan oleh sejumlah pakar telematika, ahli nujum, dan ahli hipnotis.

Namun, Dr. Acula mengatakan, bahwa Galah Malamana masih bisa disembuhkan melalui 3 macam terapi, yaitu terapi oksigen, tertawa, dan lompat tali. Ke tiga terapi tersebut dapat melancarkan aliran darah, meningkatkan stamina, memperbaiki selera humor, mengencangkan otot, melangsingkan, dan meningkatkan nafsu makan. ‘Masa penyembuhannya bervariasi untuk setiap orangnya, ada yang satu tahun, 5 tahun, bahkan hampir seumur hidupnya. Namun, jika pasien memiliki keinginan kuat untuk sembuh, maka ia bisa cepat sembuh hanya dengan dua hingga empat kali terapi saja,’ kata Dr. Acula di Ballroom Japanatik saat konferensi press.” Mew da Vinci, (Some)Times.

Berita di atas merupakan cuplikan dari Majalah (Some)Times. Dapat terlihat jelas bahwa penyakit sociomophia dapat menyerang semua pengguna social media. Social media adalah situs jejaring social yang memungkinkan para penggunanya untuk berbagi pengalaman atau pendapat melalui tulisan. Beberapa social media yang hingga saat ini masih eksis adalah facebook, twitter, myspace, linkedln, yahoo! updates, multiply, dan sebuah social media pendatang baru yaitu google plus.

Penyebab utama seseorang terinfeksi virus sociomophia adalah emosi yang tidak tersalurkan. Umumnya, penderita tidak menyadari bahwa ia telah terjangkiti virus ini, dan menganggap bahwa apa yang dilakukannya ada normal. Atau dengan kata lain, mereka menyebut tindakan tersebut sebagai kebebasan berekspresi. Berbagai respon yang ia terima atas tulisannya, membuat ia merasa lebih nyaman dengan tetap menampilkan sisi misteriusnya. Bagi penderita, setiap kali ia melakukan update status, seolah-olah muncul rasa puas dan lega karena sudah mengeluarkan uneg-unegnya. Padahal, menurut Dr. Acula, rasa puas dan lega yang ia rasakan hanya bersifat semu dan hanya akan memperburuk kondisi kejiawaannya.

 

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s