Bagaimana Caranya Menjadi Self-Motivator?


Pernahkah anda merasa bahwa seorang motivator sekelas Mario Teguh selalu terlihat bersemangat dan memancarkan aura positif? Untuk saya pribadi, tidak jarang saya bertanya pada diri sendiri: gimana ya caranya mereka memotivasi dirinya? Apa mereka pergi ke psikolog? Melakukan hypnoteraphy? Atau mampir ke dukun terdekat? Bisa jadi, para motivator melakukan salah satu dari ketiga hal tersebut. Bagaimanapun juga, sehebat-hebatnya seorang motivator, ia tetaplah manusia yang membutuhkan dukungan dari orang-orang disekitarnya. Saya memiliki beberapa tips untuk meringankan beban anda, agar kestabilan mood tetap terjaga. Tips berikut ini, saya paparkan berdasarkan pokok permasalahannya. Keep reading, yah!

Keluhan pertama: saya sering sekali menjadi pembicara dalam acara ini dan itu untuk menyemangati orang lain. Tapi, begitu saya ada masalah, mereka yang bertemu saya hanya menepuk bahu saya dan memberikan petuah macam-macam, seolah tahu apa yang terjadi!

Benar kah? Wah, teman-teman anda hebat sekali. Saya sendiri belum tentu tahu apa yang orang lain pikirkan sebelum mendengarnya terlebih dahulu. Saya rasa anda termasuk orang yang beruntung lho, karena dikelilingi mereka. Saran saya, sebaiknya anda tetap berpikiran positif. Mengira anda tidak didengar orang lain, hanya akan membuat anda jadi lebih sedih. Coba deh, dekati keluarga anda terlebih dahulu, cari orang yang bersedia mendengarkan anda hingga tuntas. Misalnya, orang tua anda, ceritakan saja semua permasalahannya dari A sampai Z. Perkara nanti beliau mengomel, menjadikan cerita anda sebagai bahan lelucon, atau sekedar manggut-manggut, dimaklumi saja karena orang tua adalah sosok yang paling memahami karakter anaknya, bahkan sejak dalam kandungan. Jadi, jangan kapok mencurahkan isi hati anda kepada orang tua, kalau perlu, sekalian saja muntahkan isi kepala anda!

Keluhan kedua: saya sudah cerita sama orang-orang terdekat mengenai permasalahan saya. Respon mereka sejauh ini baik, tapi saya masih merasa tidak puas dengan tanggapan mereka. Ada yang kurang, tapi apa ya?

Kurang asem! Lho, benar kan? Pepatah mengatakan, bahwa seorang ahli adalah seseorang yang sudah banyak makan asem dan garam. Bisa saja kan, mereka terlalu banyak makan garam. Seandainya, anda merasa kurang sreg dengan tanggapan orang-orang yang mendengarkan anda, coba lah berbicara di depan kamera. Untuk yang tidak punya kamera, bisa menggunakan media kaca.

Caranya, cari posisi yang nyaman untuk bercerita. Lalu, bicara saja seolah-olah seseorang sedang mendengarkan anda. Setelah merasa puas, anda bisa mulai mengomentari diri anda sendiri. Kalau diperlukan, anda boleh saja memukul bayangan anda sendiri untuk mengekspresikan kekesalan. Tenang saja, anda tidak perlu kuatir akan menjadi gila, karena sejak awal anda memang sudah gila.

Keluhan ketiga: hidup ini tidak adil! Saya selalu menyimpan permasalahan saya demi menjaga nama baik orang yang terlibat. Tapi kok dia berbuat sebaliknya, sieh? Ini namanya ngajak perang! Saya juga akan update status tentang kejelekannya dari sekarang.

Waduh, repot juga ya. Kalau memang hal terbut akan membuat anda bahagia pada akhirnya, ya lakukan saja. Hanya saja, anda harus mengerti bahwa, sebebas-bebasnya bicara di social media, tetap ada etikanya. Mungkin, anda akan merasa nyaman, lepas, dan senang. Tapi orang lain belum tentu merasakan hal yang sama. Akibat dari status anda yang kasar dan menyakiti orang lain, hanya akan menyebarkan perasaan negatif, sehingga mengganggu ketenangan pembacanya. Pertama, ucapan anda belum tentu enak dibaca dan bisa dimengerti. Kedua, orang yang baca jadi merasa serba salah. Komentar salah, gak komentar salah, akhirnya di-like saja. Itu pun, mereka masih kuatir, anda akan tersinggung. Terakhir, anda menginap di penjara karena tersandung masalah pidana. Sekedar mengingatkan, Indonesia sekarang ini, setiap orang diberikan hak untuk melapor dengan tuduhan pencemaran nama baik. Perkara anda salah atau benar, urusannya belakangan.

Keluhan keempat: mungkin saya ini manusia yang unik. Segala tips yang diberikan tidak mempan. Mulai dari cerita ke orang terdekat, ngomong sendiri, nulis diary, sampai update status. Malah, tiap saya ingat pengalaman tersebut, rasanya kepala mau pecah. Kalau sudah parah, bisa mengganggu kinerja saja di kantor.

Kalau semua tips sudah dicoba tapi masih gagal. Anda berdoa saja. Curhat kepada Allah akan lebih membantu. Jika anda khusyuk saat beribadah, insya allah ketenangan dan kemudahan akan datang dengan sendirinya.

2 responses to “Bagaimana Caranya Menjadi Self-Motivator?

  1. Bagus I Singkat I Mudah difahami I Creative I Responsibility

    Intinya cee…. gw suka dgn gaya SHARE nya itu lho…

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s