Susu Ini Sudah Halal, Yang Lain Haram?


Ada-ada saja kelakar manusia dari hari ke hari. Sejak stempel halal pertama kali disosialisasikan, beragam pendapat konsumen berseliweran dimana-mana. Umumnya, konsumen menjadi lebih mantap dengan pilihannya, setelah melihat ada label halal. Saat pertama kali melihat ada logo bulat berwarna hijau di sebuah produk yang bertuliskan halal, sempat terbesit suatu hari akan ada produk yang dibubuhi label haram, dijual di supermarket atau toko-toko kelontong. Label halal memiliki tujuan yang baik, walaupun sempat menjadi perhatian publik, khususnya pengusaha. Bagaimana tidak? Saya, yang hanya orang dengan pola pikir sederhana saja, pernah salah paham saat belanja. Tidak semua produk, baik yang sudah berinovasi maupun yang masih mempertahankan citra usangnya, memiliki label halal. Berarti produk tanpa label halal bisa dikategorikan haram, bukan begitu?

Gara-gara penasaran sama Si bulat hijau yang imut dan terkadang dicetak lamat-lamat ini, saya segera browsing untuk lebih memahami lebih jauh tentang Si dia. Hingga juni 2011, setidaknya MUI memiliki 33 kelompok produk yang bersertifikat halal, diantaranya adalah kosmetik, obat, mie instan, minyak, dan susu. Sungguh mengejutkan, bahwa ada juga susu yang sudah bersertifikat halal. Sepengetahuan saya, susu dibuat dari susu sapi segar atau kacang kedelai, sedangkan susu yang kurang familiar paling banter susu kuda liar, susu macan kebun binatang, susu kedelai, dan susu kambing. Jadi, janggal sekali jika susu tersebut kemudian diharamkan hanya karena tidak bersertifikat halal. Kalau begitu, agar Air Susu Ibu (ASI) ditempeli label halal, sebaiknya para calon ibu menyusui segera mendatangi kantor cabang MUI terdekat untuk disertifikasi.

Namun, pernyataan tersebut disanggah lho. Label halal tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa produk yang akan dikonsumsi dijamin aman untuk tubuh, baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun lingkungan. Bukan berarti yang tidak ada label halalnya dari MUI disebut haram. Melainkan, produk-produk tanpa label halal tersebut, tetap boleh dan layak dikonsumsi, hanya saja tidak di bawah pengawasan MUI. Pihak MUI sendiri tidak sembarangan untuk menyatakan suatu produk disebut halal, atau dengan kata lain layak dikonsumsi oleh umat Islam. Mereka memiliki tahap seleksi yang berlapis. Dimulai dari melakukan registrasi, memberikan daftar bahan-bahan yang digunakan untuk membuat produk tersebut, merincikan cara pembuatannya, hingga mendatangi langsung pabriknya untuk melihat cara pembuatannya. Setelah itu, baru dilanjutkan dengan seragam tes untuk memastikan tidak tergantung bahan kimia yang memiliki dampak negatif di kemudian hari.

Namun, baik produk dengan sertifikat halal maupun tidak, para konsumen sebaiknya lebih bijaksana dan lebih cermat sebelum membeli dan mengonsumsinya. Teliti dulu kandungan dan masa kadaluarsanya. Contohnya untuk susu, cek vitamin dan mineralnya pada label. Periksa juga bahan pengawet yang digunakan. Jika ada istilah asing dalam produk tersebut, sebaiknya tidak langsung dibeli. Kalau anda tidak mengerti dengan istilah-istilah yang dicantumkan, sebaiknya bertanya kepada orang yang lebih memahami maksud penggunaan dan efek sampingnya, sebelum terlanjur meracuni anda. Membeli produk dengan istilah atau nama kimia yang asing, bukan berarti semakin baik kualitasnya atau mendongkrak gengsi anda. Justru kurangnya pemahaman anda, bisa membahayakan kesehatan. Jika, setelah mengonsumsi produk tersebut, tiba-tiba mengalami pusing, sakit kepala, telinga berdengung, atau gatal-gatal. Lebih baik, segera hentikan penggunaannya. Jika dipaksakan, bisa memicu timbulnya kanker dan alergi. Parahnya, anda bisa langsung pingsan, mengalami koma, kelumpuhan, atau kematian mendadak. Konsumen yang bijak adalah konsumen yang cermat, berhati-hati, selektif, waspada, dan siaga.

4 responses to “Susu Ini Sudah Halal, Yang Lain Haram?

  1. mesti waspada ne..

  2. Bahkan merek ternama juga kita tetap harus cek ricek halalisme nya yahπŸ™‚

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s