Positive Thinking Vs Positive Feeling


Sekarang ini, siapa yang tidak pernah mendengar kata “positive thinking“? Entah siapa yang mempopulerkan “positive thinking“, yang jelas, “positive thinking” sudah menjamur dan bertebaran dimana-mana. Hampir semua lapisan masyarakat senang menyelipkan kata tersebut di beberapa topik pembicaraan. Tidak peduli, ia mengerti maknanya atau tidak, yang penting “positive thinking“. Ini serius, lho! Tempo hari, waktu saya asyik duduk-duduk di emperan sambil minum teh. Gerombolan tukang becak di samping saya yang tadinya sunyi senyap, berubah menjadi turnamen adu kocak. Salah satu komentator sesama tukang becak berkali-kali bilang, “eits! Positive thinking.” Sekedar membayangkan reaksi mereka kalau tiba-tiba saya menghampiri, bisa jadi, nanti mereka terdiam, atau parahnya ngegodain saya. “Eits! Positive thinking,” ujar komentator tadi, membuyarkan lamunan saya. Ternyata, salah satu dari mereka, yang mungkin sudah sedari tadi memperhatikan saya, bertanya, “neng, tahu gak positive thinking apaan?” Kontan, saya mengangguk sambil bilang “tahu, pak”. Ternyata, bapak tukang becak hanya basa-basi saja bertanya, ia sebenarnya ingin menambah pengetahuan saya tentang “positive thinking“. “Neng, positive thinking itu,” dia nyeruput kopi dulu, baru nerusin omongannya, “positive thinking itu berpikir positif, neng. Jadi, kalau terjadi apa-apa, kayak dapat firasat, positive thinking aja. Jangan cepet marah. Jangan cepet kesinggung, gitu kan ya?”

Sebenarnya begini, positive thinking atau berpikiran positif akan lebih cocok ditujukan kepada orang yang mudah panik. Rasa panik atau kecemasan yang muncul akibat dugaan-dugaan yang belum bisa dipastikan nilai kebenarannya bisa berakibat buruk. Contohnya, ketika memberikan hadiah kepada seseorang yang kebetulan memiliki persoalan dengan si pemberi hadiah, umumnya penerima hadiah akan berpikiran macam-macam, seperti menduga ada maksud terselubung atau hadiahnya bakalan meledak waktu dibuka. Padahal, belum tentu dia, pemberi hadiah, memiliki maksud tersebut, bisa saja kan dia tidak ada pikiran apa-apa? Sedangkan, positive feeling, berkaitan dengan hal-hal yang mengikutsertakan emosi. Coba deh, perhatikan tingkah laku teman-teman anda ketika diceritakan kisah horror. Tidak sedikit lho yang ikut merinding sampai gak berani ke kamar mandi sendirian.

Positive feeling dan positive thinking merupakan dua hal yang berbeda, namun, fungsinya seringkali disamaratakan, bahkan dicampuradukan. Jika, diterjemahkan secara harfiah, positive feeling adalah berperasaan/berprasangka positif, sedangkan positive thinking adalah berpikiran positif. Jika feeling berkaitan dengan hati atau nurani, maka thinking menggunakan otak atau akal anda. Kata positive thinking lebih populer karena lebih mudah diaplikasikan. Coba deh bayangkan, untuk menghibur atau menyemangati teman anda, akan lebih mudah jika mengatakan, “ayo! Kamu bisa.” Ketimbang, “kamu harus tegar!” Selain itu, tidak memikirkan apa-apa terkesan lebih rasional dibandingkan tidak merasakan apa-apa. Umumnya, jika seseorang diminta untuk tidak merasakan apa-apa, bakalan protes dengan alasan adanya panca indera. Kalau tidak bisa merasakan apa-apa, berarti panca indera anda sudah disfungsi, begitu kan? Tunggu dulu! Jangan terlalu cepat memberi respon. Coba aplikasikan dengan alasan yang sama ketika anda diminta untuk tidak memikirkan apa-apa. Bagi anda, saat diminta untuk tidak memikirkan apa-apa, anda akan merasa sudah melakukannya, padahal tanpa anda sadari anda memikirkan hal lain. Otak anda, mengindikasikan adanya hal-hal di sekitar anda karena hal tersebut menarik perhatian, sehingga anda menyadari keberadaannya. Begitupun cara kerja hati anda.

Agar dapat bepikiran positif, anda harus mendapat dukungan ekstra dari hati anda. Tapi untuk mendapatkan perasaan yang positif, anda hanya butuh sedikit campur tangan dari otak anda. Artinya, positive thinking adalah melakukan force ke hati sesuai kehendak anda, tapi positive feeling berarti menyelaraskan pikiran dengan hati anda. Saya akan membagikan satu jurus dan mantra sakti ampuh mandraguna.

Anggap saja anda sedang berada di rumah berhantu. Sendirian. Panci dan penggorengan dari tadi bunyi klontang-klonteng. Anda mendengar pintu kamar diketuk sampai digedor. Tidak lama, anda mendengar suara langkah kaki yang sepertinya terus-menerus mengikuti anda. Setiap anda melewati kaca dan cermin, anda melihat sekelebat bayangan selain bayangan anda. Dari belakang rumah, muncul bunyi “gedebuk” seperti buah jatuh. Oke! Sampai di sini feature horror-nya. Kalau anda belum merinding juga, tidak masalah. No Problemo. Masalahnya saya sudah tegang. Maka, sekarang saat yang tepat untuk melaksanakan jurus dan mantra sakti positive thinking dan positive feeling.

Jurus positive thinking: Setel TV, setel radio, nyalain semua lampu, nyanyi sekenceng-kencengnya, beres-beres rumah, yang penting sibuk!

Tapi kenapa sayup-sayup saya denger ada yang ikutan nyanyi sambil cekikikan di ruang tamu, ya? Kalau begitu, perlu mantranya.

Mantra positive thinking: gak ada siapa-siapa, cuma ada saya di rumah. Pikirin yang lain. Bayangkan hal yang menyenangkan.

It works! Tapi cuma beberapa menit. Karena begitu saya menyadari ada hal di sekitar saya yang menarik perhatian, jadi inget lagi deh ada apaan barusan. Kalau begitu, perlu jurus tambahan!

Jurus positive feeling: berdoa, solat, ngaji, baca ayat kursi, baca surat yaasin, apapun aktifitasnya, kembali lagi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ampuh! Sudah lebih tenang, walau masih suka merinding. Sebagai penutup dan penuntas kegelisahan, mantranya boleh juga.

Mantra positive feeling: tidak ada.

Iya, serius, gak ada mantra apa-apa. Hadapi ketakutan anda dan berdamailah dengan suasana atau situasinya. Menurut saya, ketakutan, kesedihan, kecemasan, dan keragu-raguan tidak boleh dihindari. Itu juga gift, present, atau hadiah. Anda tidak akan memahami apa yang anda rasakan saat ini sebelum melihat atau mendapatkan hal yang sifatnya berlawanan. Bagi saya, sudah cukup dengan melakukan jurus positive feeling dan positive thinking, beserta mantranya. Jadi, kenapa harus melawan kalau hanya akan menguras tenaga dan memberikan efek samping?

4 responses to “Positive Thinking Vs Positive Feeling

  1. hmmmmmmmm
    setuju..
    brati bukan “Positive Thinking Vs Positive Feeling” tapi “Positive Thinking Feat Positive Feeling”

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s