Aku Mau Mati Saja!


Setiap kali berantem atau mengalami kegagalan dalam hidup, pernah gak sieh anda terbesit lebih baik mati saat itu juga? Kalau saya, pernah. Berbagai macam metode pernah dicoba, seperti minum obat, memotong nadi, gantung diri, terjun ke sungai, tidur-tiduran di rel kereta, guling-gulingan di tangga, sampai membenturkan kepala sendiri ke tembok. Saya sendiri juga heran, kok masih hidup ya? Padahal, kalau orang lain yang melakukannya, biasanya langsung tewas. Apa mungkin karena saya pecinta kucing, jadi saya dianugerahi sembilan nyawa seperti mitos kucing? Akhirnya, saya menarik kesimpulan, ternyata mati lebih susah daripada menjalani hidup. Tidak percaya? Jadi begini ceritanya.

Sekitar bulan maret, waktu saya lagi hot-hotnya berantem sama pacar saya, apa lagi ditambah dengan segala problematika dan tekanan dalam hidup yang kira-kira tingkat kesulitannya setara dengan roman picisan di telenovela. Saya dengan garangnya bilang ke pacar kalau saya lebih baik mati aja. Kira-kira saya bilang gini, “Sayang! Kalau kamu gak pulang-pulang juga, lebih baik aku mati aja. Kunjungi pusaraku saat kamu pulang ke sini.” Kemudian, terdengar suara halilintar menggelegar “JEDERRRRR!”, diiringi dengan echo khas sinema keluarga. Dengan kepala berapi-api, telinga dibisiki setan, rambut berdiri, berlinang air mata, dan air liur mengucur deras. Saya menutup telepon sambil berpikir, “cara mati apa yang paling enak dan khusnul khotimah?”

Mata lirak-lirik, ke kanan dan ke kiri. Akhirnya, saya memutuskan untuk menegak persediaan obat-obatan yang disimpan di dapur. Sebelum saya buka lemari, saya kirim sms perpisahan dulu ke kekasih tercinta, “sayang, aku udah mau mati nieh. Kalau kamu masih sayang aku, tolong temeni aku bentar ya? Love you.” Saya klik tombol Kirim. Sudah 5 detik saya nunggu balasan, kok belum dibalas-balas juga? Akhirnya, saya buka kulkas dengan gerakan slow motion, sambil berharap dia balas atau menelepon 10 detik kemudian. Ternyata tetap gak ada respon. Alhasil, air mata semakin bercucuran. Saya mantapkan keinginan untuk menegak habis semua isi di kotak obat.

Memang betul saya kepengen mati, tapi saya juga gak asal nyomot obat gitu aja. Saya pilih-pilih dulu, yang kira-kira rasanya manis. Mau mati juga harus smart! Apalagi dengan dibekali pengetahuan yang cukup mengenai alam gaib dan penghuninya. Ditambah dengan testimoni dari arwah-arwah gentayangan mengenai pengalamannya saat dicabut nyawa. Katanya, lebih sakit dari sejuta kali patah hati dan seribu tahun sakit gigi. Ternyata, obat yang saya cari gak ada. Yang ada cuma obat pilek, batuk, maag, alergi, dan penurun tekanan darah. Saat masa pencarian, pacar saya telepon, dia menghibur dan membujuk mengurungkan niat untuk bunuh diri. Dia bilang macam-macam, tapi saya semakin semangat. Bermodalkan segelas air putih dan seplastik obat, saya naik ke balkon. Saya makan satu per satu seperti makan cemilan, ditemani suaranya. Saat akan melahap butir obat ke-7, tiba-tiba dia mengeraskan suaranya dan bilang, “sayang! Aku tahu, semua yang aku omongin gak bakalan berhasil karena di sebelah kamu ada setannya!” Hiiiy! Saya langsung merinding dan mendadak mual. Beruntung, saya gak ngelihat gimana wajah setan tersebut, dan lebih beruntung lagi, saya memuntahkan hampir semua obat yang sudah saya telan.

Ada pengalaman lain, saat saya lagi depresi berat karena uang saya ludes dimakan broker saham dan forex. Saya keliling kota bogor dengan cara nebeng dari satu angkot ke angkot lainnya. Saat, uang saya mulai tidak mencukupi untuk ongkos pulang, maka saya berencana untuk turun angkot kemudian jalan kaki saja. Namun, nasib lagi-lagi tidak berpihak kepada saya. Di persimpangan, tiga cowok ganteng berbaju kumal, naik ke angkot yang saya tumpangi. Salah satu dari mereka menodongkan pisau ke arah saya sambil bilang, “jangan teriak atau saya tusuk!”

Saya yang lagi galau stadium akhir, memegang tangannya yang menggenggam pisau, sambil melotot dan meracau. Belum sampai pada klimaks, salah satu dari mereka bilang, “kiri, kiri!”, dan yang lainnya menggedor jendela. Sampai sekarang, saya juga gak tahu apa sebabnya. Mungkin pengaruh bau ketiak dan bau mulut? Atau mereka jadi iba saat mendengarkan uneg-uneg saya? Satu hal yang pasti, mereka turun bukan karena terpesona atau terkena jurus maut wanita cantik.

Sejak semua pengalaman tersebut, saya menyadari, betapa sulit dan menderitanya memilih mati dibandingkan hidup. Teringat pesan ibu yang selalu bilang, “orang mati saja, pengen hidup lagi kalau dia bisa.” Makanya, lebih baik saya memberikan kenang-kenangan yang akan selalu diingat kepada orang lain. Selain itu, daripada saya diingat bagaimana saya meninggal, akan lebih mengharukan jika orang lain mengingat saya, tentang bagaimana saya menjalani kehidupan.

3 responses to “Aku Mau Mati Saja!

  1. vie… vie… ini pngalaman pribadi or ngarang.com ya?
    tp seru jga lo jd inget kata GUSDUR
    “Begitu aja ko repot”

  2. PNGN TP TKUT.

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s