Toloong! Saya Seangkot Sama Buaya


Tahu buaya kan? Makhluk seksi, berdarah dingin, bermata tajam, dan terlihat gagah dengan lubang hidung besarnya. Setidaknya sekalipun tidak pernah bertemu, tapi sudah pernah lihat. Baik beberbentuk karikatur, maupun foto atau video aslinya. Saya baru kali ini, berdekatan dan nyaris bersenggolan dengan reptil cantik dan sensual tersebut. Memang dasar nasib! Kalau saya tahu, angkot yang saya tumpangi itu bakalan kemasukan buaya, saya gak bakalan naik. Bagi anda pecinta reptil, mulai dari yang mini sampai jumbo, tidak akan kuatir malah menikmati kemolekannya. Tapi, betul lho, saya gak lagi ngarang cerita. Siapa sangka ada supir angkot yang rela ditumpangi buaya? Saya saja penumpangnya tidak pernah kepikiran bakal ngalami ini.

Saya sieh, awalnya santai dan tenang-tenang saja, karena saat itu sang buaya tidak menunjukkan adanya gelagat mencurigakan. Melihat moncongnya yang diplester, keempat kaki terikat, dan dipeluk mesra oleh pawangnya, membuat saya berada di zona aman dan nyaman. Bagi saya, tidak mengapa, walau sang pawang hanya tulang dibalut kulit sawo matang, dengan sentuhan bekas luka, jempol kaki di perban, tanpa jari kelingking di kiri, dan dia menaruh moncongnya tepat ke arah saya. Semenit berlalu, saya masih tenang. 5 menit berlalu, saya mulai menenangkan diri. 10 menit kemudian, saya galau. Saya tidak setuju dengan bisikan setan di telinga yang mengingatkan strategi perang Sam Kok, yaitu tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya. Coba pahami, di sebelah saya itu buaya. Matanya hanya ditutup pakai tangan. Ikatan di moncongnya gak kelihatan kuat. Apa lagi, buaya itu terlihat curi-curi pandang ke saya. Bagaimana kalau tiba-tiba dia mendadak puber sampai mencium tangan saya, kemudian HAP! Lalu ditangkap?

“Maaf ya, neng?” Bapak pawang ternyata daritadi bisa merasakan kekuatiran saya, “gak apa-apa kan?” kali ini dia nyengir ke saya sambil mengusap kepala buaya. “Masih bayi kok, gak ngegigit.”

“Oh! Iya, silakan pak, gak apa-apa.” Saya mengucapkannya seperti orang mengatakan selamat makan. Menurut saya, jika bersahabat dengan ketakutan itu sendiri, maka lambat laun akan terbiasa. Bahkan, bisa memunculkan sensasi tersendiri, seperti berdebar, kangen, senang, lelah, bangga, kagum, dan perasaan unik lainnya. “Buaya nemu dimana?”

“Di dalam rumah, neng. Sekarang mau dibawa ke penangkaran. Ini buaya tadinya lagi berduaan sama anak saya. Pas saya lewat, trus lihat, waduh! Udah mangap-mangap gitu buayanya,” pak pawang bercerita dengan antusiasme yang tinggi sambil melotot ke buaya, “langsung saya sikat!” Saking semangatnya, sampai diperagakan pakai tangan. Saya jadi ikut terbawa suasana, bukan hanya gara-gara cerita pak pawang, tapi juga buayanya sempat gak dipegangin.

“Wah! Bahaya sekali. Gimana itu nyikat buayanya?” Saya paham, maksudnya disikat adalah diamankan, seperti lantai yang diamankan dari serangan kuman. Seandainya, pak pawang ternyata bukanlah pawang buaya, saya tetap merasa dia berhasil mengatasi ketakutannya. Mengurangi ketakutan ternyata tidak cukup dengan menerima suasananya, tapi juga berani mendatangi bahkan menyentuh objek yang ditakuti.

“Buru-buru saya lari trus nangkap leher dan badannya, pakai dua tangan. Habis itu, badannya saya apit di ketiak. Tangan kanan pegang leher. Tangan kiri mengang moncong sekalian nutupin matanya. Karena waktu itu adanya sarung, jadi kepaksa saya pake buat ngebungkus kepalanya.”

Wah, ternyata saya tidak ada apa-apanya dibanding sama pak pawang. Coba bayangkan, saat itu pak pawang harus bertindak cepat dan membuat keputusan yang tepat. Biarpun yang dihadapinya hanya hewan kecil, tidak berdaya, dan kelaparan. Dia tidak serta-merta merasa kasihan kemudian membiarkan anaknya jadi cemilan si buaya. Coba kalau saya yang dihadapkan pada situasi tersebut, entah apa yang terjadi. Bisa jadi saya malah keluar rumah untuk minta tolong sampai datang tetangga seperti pak pawang. Atau, malah mengambil obat nyamuk andalan saya. Yang jelas, dalam kasus ini, pak pawang lebih memahami rasa takut yang sesungguhnya, yaitu takut tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi seseorang yang lebih berharga daripada keselamatannya sendiri.

One response to “Toloong! Saya Seangkot Sama Buaya

  1. wah buaya macam apa itu!? *gaya sule*

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s