Kayak Gimana Sieh Saya Waktu SD? [1]


Tidak banyak yang tahu mengenai masa SD saya. Ketika melihat saya sudah seumuran ini, beberapa teman-teman saya sering kali salah mengira saya memiliki masa kecil yang bahagia dan hidup dalam kemewahan. Saya memang bahagia dengan kondisi ekonomi yang membuat orang tua saya harus bekerja seratus kali lebih berat dibanding orang tua lainnya. Saya tetap bisa menikmati masa kecil dengan gaya dan prinsipnya sendiri.

Saya berasal dari keluarga sederhana dan praktis. Orang tua saya, alhamdulillah, masih lengkap dan harmonis hingga usia keemasan. Saya memiliki satu kakak perempuan yang tangguh dan pandai melihat peluang. Saya tidak memiliki saudara kandung lainnya. Dengan kata lain, saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Sebelum saya tinggal di Bogor sekarang ini, saya lahir di Yogyakarta, kemudian pindah ke Bojong Gede. Seperti anak pada umumnya, saya tidak hanya sempat mengenyam melainkan juga mengunyah bangku taman kanak-kanak di TK ABA Yogyakarta.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kakak perempuan saya memang pandai melihat peluang. Hal tersebut dibuktikan dengan mengerjai saya setiap hari. Dengan kepolosan dan kegembiraan saya ketika bermain dengannya, saya mau saja disuruh ke sana-ke mari. Pernah suatu ketika kakak mendapat tugas membuat prakarya. Saat itu, rencananya ia mau bikin kuncir rambut dari kain gombalan, karet, dan benang jahit. Saya cuma ngelihatin aja dia ngeguntingin kain gombalannya, dijahit, dimasukin karet, kemudian dijahit lagi. Satu kuncir rambut pun jadi. Disusul kuncir rambut kedua, ketiga, dan seterusnya sampai gombalannya habis. Entah ide darimana, tiba-tiba dia meminta bantuan saya untuk menjual semua kuncir rambut tersebut. Satu kuncir rambut dihargai Rp 500. Tentu saja saya mau, karena separuh hasil penjualannya boleh saya ambil. Bayangkan saja, kakak saya telah membuat 50 kuncir rambut dan jika terjual separuhnya saja, uangnya bisa saya pakai untuk jajan selama seminggu penuh. Di tahun 1990-an, dengan membawa uang 500 perak, saya sudah bisa beli semangkuk bakso, 3 roti bagelan, 10 bungkus Mie Krip-Krip, 3 bungkus Anak Mas, dan 1 cokelat Coki-Coki. Tapi maaf, jajanan segitu banyak hanya bisa diperoleh di Yogyakarta, bukan di Kota Metropolitan, Jakarta.

Saat SD, keadaan ekonomi saya tidak sebaik sekarang. Saat bapak dan ibu saya menikah, mereka masih bekerja sebagai staff biasa. Bapak saya harus bisa membagi waktunya untuk keluarga, pekerjaan, dan menamatkan kuliah. Sedangkan ibu, harus pintar-pintar mengelola keuangan, mengurus anak, suami dan mertua, dan juga bekerja. Walaupun mereka sibuk, kami berdua tidak kesepian karena ada pembantu yang mengasuh kami seperti anaknya sendiri. Dari Yogyakarta, kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Tadinya, mau berumah di Pasar Minggu, karena tante saya rumahnya sekitar situ, tapi tidak jadi gara-gara rumah yang bakalan dibeli tersebut bekas orang gantung diri dan dibangun di tempat bekas pemakaman umum. Akhirnya, karena kepepet, kami tinggal di Bojong Gede.

Sepreman-premannya saya di SD Keputran, ternyata ada yang lebih preman lagi di SD Bojong Gede. Bagi yang belum baca bagaimana sekelumit kisah saya, silakan baca artikel Masa Kecil Saya. Sebenarnya saya tidak mau berlagak seperti preman, karena di tempat yang baru, saya ingin membangun image sebagai anak normal. Sehari sebelum masuk sekolah baru, saya sudah tanya-tanya ke ibu dan bapak perihal wujud SD Bojong Gede. Beliau memberi gambaran bahwa sekolahnya sebelahan sama Pasar Pagi. Tempatnya cukup jauh dari rumah, jadi harus naik angkot. Kalau jalan kaki, butuh waktu sekitar 30 menit. Gedungnya gak bertingkat dan sedikit kumuh. Lapangannya kecil. Tapi mau bagaimana lagi? Saya masih 8.5 tahun dan sekolah negeri yang paling layak dan tentunya dekat dari rumah hanya itu. Saya mengerti kekuatiran mereka, jadi tidak banyak bertanya. Pikiran saya waktu itu hanyalah, “wah, hidup merakyat nieh.” Semalaman saya tidak bisa tidur dan cengar-cengir, membayangkan bakalan jadi siswa yang bagaimana saya di sana. Tidak mungkin jadi berandalan lagi karena saya sangat senang ketika membayangkan menjaring teman-teman baru. Kenalan sama anak-anak yang beda suku dan adat istiadat. Berpetualang di dunia baru dengan misi utama, “mencari cinta pertama yang hilang”.

Bersambung dulu ya…

 

 

 

7 responses to “Kayak Gimana Sieh Saya Waktu SD? [1]

  1. kalo jajanan dulu paling es. yang keras ataupun yang cair (es aer kami nyebutnya…medan kali bahasanya).

  2. asyik bangetsssss…….
    preman yaaaaaaa…………..????????

  3. hmmmm…
    misi yg sangat mulia heheheeee

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s