Hakikat Hidup Yang Terabaikan [2]


Selamat malam wahai penikmat kata-kata. Berhubung hakikat hidup bagian satu yang saya publikasikan kemarin malam ternyata menuai banyak keluhan tentang penggunaan kerumitan kalimat. Jadi, kali ini saya mencoba untuk menuangkannya dengan lebih manusiawi. Tapi, sebelum saya mulai berkisah, alangkah baiknya jika saya menjelaskan perihal gaya penulisan kemarin malam. Saat itu, ketika saya sedang mengetik, tiba-tiba alien datang ke rumah dan menginvasi kamar saya. Daripada saya di “DORR” (baca: tembak), kan lebih baik saya melakukan emergency call. Coba bayangkan kalau saya tetap bersikukuh untuk mempertahankan laptop? Saya bakalan ditembak, sehingga jadi tidak menjomblo lagi. Baiklah, daripada berlama-lama, saya langsung mulai aja. Kisah ini menceritakan tentang pentingnya berlaku baik kepada semua makhluk ciptaan Allah.

Setiap ciptaan Allah, baik bernyawa ataupun tidak, ternyata memiliki soul. Coba deh anda perhatikan tukang kebun. Tukang kebun yang baik dan menghayati profesinya sebagai penikmat tanaman, biasanya kan berdendang saat ia sedang merawat tanaman. Di setiap pohonnya, ia akan menyanyikan lagu yang berbeda-beda. Misalnya, saat nyirami bunga, tukang kebun itu akan menyanyikan lagu Sunan Kalijaga berjudul “Lir-Ilir”. Sedangkan, ketika ia lagi motong rumput, maka dia akan menyanyikan “Tombo Ati”-nya Sunan Bonang. Namun, ketika sang tukang kebun yang biasanya merawat tanaman-tanaman tersebut tidak muncul-muncul atau digantikan dengan tukang kebun yang lain, maka tanaman-tanaman tersebut perlahan akan layu atau memiliki kualitas dan kuantitas bunga yang berbeda. Walaupun, setiap hari dirawat dengan pola yang sama. Seseorang bilang kepada saya, “Mew, ketika suatu ciptaan Allah, walaupun itu cuma pintu, ketika kehadirannya diperlakukan dengan baik, maka pintu tersebut akan berdoa kepada Allah untuk kebaikan kamu. Namun, kalau kamu kasari, maka ia akan merasa tidak betah hidup bersama kamu. Akhirnya, pintu tersebut akan rusak.” Sedikit religus gak apa-apa kan? Lumayan untuk menambah atau merefresh ilmu di bulan Ramadhan.

Ada cerita pendukung yang akan saya bagi kepada anda. Ini tentang keluarga teman saya. Ayah dan ibunya adalah seorang petani di Ciawi. Sehari-hari mereka macul dan nandur padi di sawah milik tetangganya. Hidup keluarga teman saya bisa dibilang sederhana, apa adanya, ada apa saja, bukan apa saja ada, dan alakadarnya. Cangkul yang menjadi alat utama mereka bertahan hidup, selalu dicuci dan diasah begitu selesai digunakan. Gunanya agar badan mereka tidak pegal-pegal. Sekilas memang tidak ada hubungannya antara badan pegel linu dengan kebersihan cangkul. Tapi ibarat anda memiliki perusahaan, jika anda suruh karyawan anda bekerja terus tapi tidak dibayar, bahkan tidak diperlakukan dengan semestinya, akhirnya doa mereka akan berubah menjadi doa orang yang teraniyaya. Selain itu, para pekerja akan membuat kesempatan untuk mogok, bahkan mengundurkan diri.

Diceritakan rumah teman saya ini terletak di ujung gang, jadi dia harus bangun lebih pagi, mandi saat air dan udara lebih menyucuk tulang, serta makan nasi plus lauk dengan asap mengepul dari dagingnya. Setiap berangkat sekolah, sepatunya selalu dibungkus kresek (plastik belanja) biar gak kotor. Dari satu rumah ke rumah lainnya, dia selalu teriak manggilin teman-temannya buat ngajakin berangkat sekolah bareng. Nah! teman-temannya juga rada spesial, jadi kalau namanya belum disebut, maka dia gak mau keluar.

Jika anda melihat teman saya ini jalan bareng rombongannya, anda tidak akan menyangka bahwa ia memiliki status sosial lebih rendah. Karena seragam yang ia kenakan sebersih teman sekolah lainnya, bahkan kerahnya pun tidak pernah robek. Padahal, anak-anak sekolah lain paling lama setahun sekali ganti seragam dengan alasan kerah robek, baju bernoda, kainnya kasar, dan warnanya sudah kekuningan. Saya sendiri juga tidak paham teknik mencuci baju yang baik dan benar itu seperti apa. Yang saya tahu, kalau sudah selesai dipakai, bajunya bakalan langsung dilempar ke bak cucian. Kemudian saya pencet tombol ini-itu, dan mesin cuci pun menggilas pakaian saya sambil bunyi “jeg gejrekgejrekgejrek”, kadang itu mesin suka goyang ngebor juga.

Tapi, kata teman saya itu, selama mencuci baju, ibunya baca shalawat terus-menerus sampai proses penjemuran selesai. Ketika nyetrika baju, beliau terlihat sering ngelus-ngelus baju yang bakalan digosok. Pembantu saya juga punya kebiasaan yang sama. Waktu saya tanya, alasannya adalah biar bajunya cepat licin dan gak gampang kusut.

Pernah suatu hari saya praktekan dengan mencuci pakaian dalam. Sebelumnya, maaf kalau rada vulgar. Waktu itu, pakaian dalam yang akan saya cuci ada 5 buah. 3 warna-warni, 1 warna hitam, dan 1 warna putih. Pembantu saya pernah bilang, kalau baju mau awet, saat perendaman, baju yang warna-warni sebaiknya dipisah dengan baju yang satu warna. Dan, baju warna putih tidak boleh dicampur dengan yang bukan warna putih.

Kebetulan, pakaian dalam warna putih saya cuci belakangan. Sedangkan, pakaian dalam yang lain sudah sampai ke tahap penjemuran. Ketika lagi asyik ngerendam pakaian dalam yang putih, keponakan saya telpon. Dia curhat masalah account game-nya yang kena banned. Saat tutup telpon, saya bukannya ingat cucian tapi malah ingat kalau ada film “Doraemon” yang belum saya tonton. Alhasil, saat pakaian dalam tersebut saya tiriskan dari bak perendaman, tiga detik kemudian langsung muncul bintik hitam yang tidak mau hilang sampai sekarang. Setahu saya, bintik hitam tersebut muncul karena jamur.

Jika menilik sampai mendelik dari pernyataan di pembuka cerita, sepertinya pakaian dalam tersebut sedih atas keteledoran saya.

Inilah hakikat hidup kedua yang ingin saya sampaikan. Hakikat selanjutnya, ditunggu besok ya.

P.S. didedikasikan untuk Endin Saripudin.

19 responses to “Hakikat Hidup Yang Terabaikan [2]

  1. tersenyum mesra….
    *inspiratif, nice posting*

  2. kisah yang inspiratif. setiap jenis perlakuan itu ada efeknya ya. jadi keinget nih saya belum begitu intensif merawat piaraan lele. padahal saya ngarep dari si lele biar jadi bisnis yang menghasilkan. baiklah. besok saya akan nginep bersama mereka biar kayak andai aku menjadi. tidur di kolam sambil bernarasi tentang kehidupan ikan2 itu.

  3. makin ngga paham……… ๐Ÿ˜›

  4. Ikutan sama Yisha ga paham juga …๐Ÿ˜€
    Salam …

  5. yg blm faham baca sampe 10 kali ya
    ini mantra lo biar kalian jd orng sukses, kaya raya mati masuk surga
    amin….

  6. knp harus pakaian dalam mew???

    suka cerita menyuci,menyetrika baca sholawat….

  7. Ping-balik: Hakikat Hidup Yang Terabaikan [4-END] | mew da vinci

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s