Panggil Aku “Orang Utan”


Alkisah di suatu era millenium, tersebutlah seorang pemuda tampan dan gagah bernama Krisna. Ia ingin berpelesir ke berbagai negeri di dunia ini. Sayangnya, Krisna adalah penduduk gelap nan gulita. Begitulah kota metropolitan mengistilahkan orang-orang seperti Krisna, yaitu pengelana yang hidup tanpa KTP, menjadikan kardus atau stereofoam sebagai rumah di atas tanah pemerintah, dan sering terpapar sinar matahari dan rembulan. Sehingga, wajarlah jika kulit orang-orang seperti Krisna belang-belang seperti dinding rumah kardusnya.

Keinginannya yang kuat, mengantarkan ia kepada pengalaman yang tidak terlupakan hingga nafas terakhir. Dari pengelana, menjadi duta lingkungan hidup. Dari pemungut recehan, menjadi pelayan masyarakat. Dari pertemuan dengan orang utan, menjadi pemerhati kelestarian alam. Itulah kehidupan Krisna semenjak membulatkan tekad untuk mengembara di dunia yang buas namun tampak mempesona dengan balutan sutra biru dan hijau. Jadi, begini lanjutannya:

Krisna telah memantapkan hatinya untuk menjadi musafir seperti di jaman rasul, yang bisa menempuh perjalanan ratusan mil hanya dengan berjalan kaki. Apa lagi ditambah pengalaman dan bakat yang diturunkan ayahnya sebagai pencari sedekah. Sudah tentu Krisna paham kebiasaan supir, kenek, tukang karcis, dan pencari sedekah lainnya. Baginya, profesi membentuk jati diri. Ia mengincar pengamen kecil untuk dimintai tumpangan bernyanyi. Tidak masalah walau hanya jadi peneprok lagu jalanan, yang penting kakinya tetap bergerak menuju negeri-negeri impian.

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu Krisna berhasil menyebrangi Laut Jawa dan ngaso di emperan Kota Banjarmasin. Mungkin ia menumpang kapal nelayan, ikut terbang bersama pesawat dengan cara bersembunyi di bagian roda pesawat, atau Krisna berenang selama berhari-hari. Krisna dengan penuh semangat melanjutkan perjalanannya menuju Negeri Jiran. Ia semakin semangat tatkala melihat tayangan televisi yang menyiarkan acara berpetualang di suku primitif Indonesia. Pikirnya, sekali dayung, dua atau tiga pisang tertelan.

Nalurinya mengantarkan ia bertemu dengan babi hutan yang sedang kelaparan. Beruntunglah saat Krisna sedang konsentrasi berlari dan menjerit-jerit dalam upaya penyelamatan diri, tiba-tiba seekor orang utan jantan mengangkat tubuhnya dari atas pohon ihau. Kemudian, Krisna didudukkan di salah satu batang pohon. Terlihat terdapat tiga ekor orang utan bertengger dan menikmati buah mata kucing. Gara-gara terus menerus melihat para orang utan itu menyantap buah mata kucing yang lebih mirip buah lengkeng, air liurnya keluar terus sampai mau menetes. Akhirnya, salah seekor orang utan menawarinya buah tersebut. Bentuknya bulat, dagingnya bening, bijinya hitam, kulitnya berpori dan ditumbuhi rambut halus, rasanya manis, harumnya semerbak.

Beberapa lama kemudian, tiga ekor orang utan tersebut terlihat berpencar. Seekor orang utan masih berada di pohon tempat Krisna berada, seekor lagi berada di pohon yang agak jauh, dan seekor lainnya berada di pohon yang lebih jauh dari temannya. Orang utan yang bersama Krisna mulai mengeluarkan suara “iik iik ngek nguuk nguuk…” Seketika, kedua temannya menyahut dengan intonasi yang berbeda. Krisna melihat orang utan di depannya mulai memetiki dedaunan dan merangkai dedaunan tersebut membentuk mangkok. Setelahnya, orang utan memetik beberapa buah mata kucing ranum. Dikumpulkannya buah-buahan tersebut ke dalam mangkok daun, hingga penuh. Dan lagi-lagi, orang utan tersebut berkata “iik iik ngek nguuk nguuk” kepada teman-temannya. Begitu temannya menyahut, orang utan lantas mengambil buah-buahan tersebut satu per satu dan melemparkannya ke arah teman orang utan yang berada di pohon seberang.

Ketika buah-buahan di keranjang orang utan pertama sudah habis. Giliran orang utan kedua yang melakukan hal sama ke temannya di seberang pohon. Sedangkan, orang utan pertama turun dari pohon dan mengambil ranting. Ranting-ranting tersebut ia gunakan untuk membuat beberapa lubang di tanah. Setiap lubangnya diisi biji-bijian dari buah mata kucing. Kemudian, ditutupnya kembali lubang-lubang tersebut dengan tanah dan dedaunan kering.

Orang utan pertama pun kembali naik ke atas pohon. Krisna yang masih kelaparan berusaha memetik buah mata kucing, akan tetapi orang utan pertama malah mencengkram tangan Krisna dan menunjukkan taring-taringnya. Krisna menjadi pucat dan lemas. Ia pasrah jika dijadikan santapan rakyat orang utan. Orang utan pertama kembali berkomunikasi dengan mengeluarkan suara “iik iik ngek nguuk nguuk”. Ternyata, orang utan kedua melemparkan beberapa buah ke arah orang utan pertama. Orang utan pertamapun memberikan buah-buahan tersebut kepada Krisna.

Lagi-lagi entah bagaimana ceritanya, Krisna yang semula berharap dapat bergabung dengan suku primitif, malah jadi menetap dan ikut bergelantungan di pohon bersama kawanan orang utan. Ia menyaksikan dengan matanya sendiri, para orang utan tersebut saling membantu untuk menjaga dan melestarikan hutan tempat hunian mereka. Mereka hanya memakan buah-buahan yang sudah matang, kemudian menanam bijinya. Kulit buah-buahan tersebut ditumpuk di bawah pohon yang usianya lebih muda. Mereka bsia megetahui dengan cepat ketika ada satu kawanan mereka yang hilang atau terpisah. Bagi Krisna, orang utan juga memiliki Tim SAR dan bidan layaknya manusia. Jika ada salah seekor orang utan yang mati, mereka beramai-ramai menggotong mayat tersebut, kemudian menguburkannya. Orang utan tidak pernah bepergian sendiri, setidaknya mereka akan membawa dua atau tiga ekor kawannya untuk membantu dan menemani dalam perjalanan. Mereka hanya bepergian untuk mencari makan. Tim orang utan yang pergi lebih dulu, akan makan di tempat, kemudian kembali pulang dengan membawa makanan untuk orang utan lainnya.

Hingga tibalah masanya ketika muncul sejumlah pemburu orang utan yang hanya ingin menyiksa dan menjual mereka. Krisna terenyuh ketika melihat orang utan saling melindungi dan mengarahkan rombongannya ke tempat persembunyian yang berbeda-beda setiap harinya. Krisna yang masih ingat bahwa dirinya adalah manusia, hatinya tergerak untuk membalas segala kebaikan yang pernah ia terima dari kawanan orang utan. Ia turun gunung, lewati lembah, dan melewati sungai yang mengalir indah. Ia pergi mencari media massa untuk mengabarkan perihal penyiksaan dan pembunuhan orang utan yang tidak berperi keorangutanan. Walau beberapa kali Krisna mendapat teguran, peringatan, bahkan ancaman perihal kegiatan kemasyarakatan yang ia lakukan demi melindungi hewan yang berbudi pekerti luhur tersebut, namun Krisna tidak gentar dan semakin besar nyalinya.

Gerakannya dalam membela hak-hak orang utan di mata dunia, telah menjadikannya sebagai duta lingkungan hidup. Beberapa orang yang mengetahui bahwa awalnya Krisna adalah penduduk gelap, menjadikan hal tersebut untuk menggoyahkan tekadnya. Krisna pun dijuluki sebagai Penduduk Gelap Mawas. Mawas adalah sebutan lain untuk orang utan. Akan tetapi, kecintaan Krisna pada orang utan, malah membuatnya bangga dipanggil orang utan karena ia tahu betul bahwa, sifat-sifat gotong-royong dan saling peduli para orang utan, tidak akan pernah luntur termakan teknologi. Krisna meyakini, orang utan diciptakan bukan sekedar karena tubuh dan perilakunya menyerupai manusia, akan tetapi orang utan hidup untuk mengikuti nalurinya melestarikan hutan.

Jika Krisna saja bangga disebut orang utan, lantas kapan anda bangga dengan orang utan?

25 responses to “Panggil Aku “Orang Utan”

  1. saya agak jijik dengan orang utan dan sebangsanya. tapi filosofinya, melestarikan kelestarian alam adalah penting krn ada ekosistem yang padu didalamnya. ehehehe……

  2. blm baca… Tapi pingin jadi koment pertama heheheee..
    saya keluar dulu ya….

    tar kl udah baca koment lagi….

  3. Nice post sist… (Padahal belum baca full, cuma baca paragraft paling akhir)๐Ÿ˜€

  4. orang utan aja lebih ngerti ya tentang melestarikan hutan.

  5. saya udah baca mew….

    ini inspirasinya dari mana mew???

  6. Memang mbakyu.., sudah selakyanya bagi kita untuk bangga pada orang utan yang cuma ada di negeri ini..๐Ÿ˜€
    Hmm.., salut dah ama artikel pelestarian ini.. GOOD..

  7. Mantab gan…. kelestarian dan keseimbangan lingkungan hrs trus terjaga jika tdk mk gk tau nasib anak cucu kita kedepan.
    perbanyak tulisan seperti ini gan tenk..

  8. ah, yisha pening………….. ngga pengin! ๐Ÿ‘ฟ

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s