Wortel Bikin Makan Hati


Pada suatu hari di Hutan Alakadarnya, berjayalah sebuah kerajaan rimba yang dipimpin oleh seekor singa bernama Raja Jenggot Emas. Raja Jenggot Emas dikenal sebagai penguasa yang adil, arif, bijak, cerdik, dan tegas. Tatkala Sang Raja ingin berpergian, ia selalu didampingi oleh permaisuri, selir-selir, perdana menteri, pelayan, dan pengawal yang tangguh.

Suatu pagi, saat Raja Jenggot Emas dan rombongannya sedang berpatroli melewati perkebunan selada, muncullah seekor kelinci putih gendut menghalangi langkah rombongan patroli dari balik semak-semak. Kelinci putih itu menundukkan kepalanya seraya menyerahkan sebuah wortel, dan berkata, “wahai baginda raja yang agung, maafkanlah kelancangan hamba, rakyatmu yang tengah kelaparan ini. Sudilah baginda menolong hamba dari pengejaran dan penyiksaan seekor kelinci yang lebih besar dari hamba.”

“Baiklah, namun, saya menginginkan engkau menceritakan perihal penyiksaan tersebut. Selain itu, untuk apa kau menyerahkan wortel ini kepadaku?” perintah Raja Jenggot Emas sambil mengelus-ngelus jenggot dan jambangnya.

“Aduhai paduka raja yang mulia, gara-gara wortel yang saya tanam inilah saya harus berlari selama berhari-hari. Seekor kelinci cokelat yang merupakan tetangga sekaligus sahabat karib hamba menuduh hamba mencuri dan mengancam akan memasukkan hamba ke penjara,” kelinci putih menceritakan dengan berurai air mata. Saat itu juga, ujung kedua telinganya bergerak-gerak. Ia mendengar langkah kaki kelinci cokelat sudah dekat, oleh karena itu, ia memohon perlindungan kepada raja yang agung.

Benar saja. Tidak sampai hitungan menit, seekor kelinci cokelat besar telah sampai di perkebunan dan berdiri tepat di samping kelinci putih. Mata kelinci cokelat berwarna merah menyala dengan air liur yang menetes di manapun ia berdiri. Nafasnya tersengal-sengal. Walaupun begitu, ia tetap memberi hormat kepada raja dan para rombongan sebelum bertindak brutal. Raja Jenggot Emas menunggu kisah dari kelinci cokelat sambil tetap mengelus-elus jenggot dan jambangnya yang tidak kunjung memanjang walau sudah dielusi setiap kali ia ingat dengan jenggot dan jambangnya.

“Wahai raja rimba ini yang agung. Wahai penguasa Hutan Alakadarnya, hamba mohon percayalah kepada hamba, tidak peduli pengakuan apa pun yang pernah paduka dengar dari kelinci putih yang tidak tahu balas budi ini.” Kelinci cokelat menundukkan kepalanya dengan hikmat.

“Ceritakan!” Titah Raja Jenggot Emas.

“Wahai padukaku, baginda raja yang mulia, Raja Jenggot Emas yang arif dan tidak tertandingi kecerdikkannya. Kami dua kelinci yang malang dan kelaparan ini sedang berebut sebuah wortel.” Kelinci cokelat mulai bercerita. Sesekali ia menatap kelinci putih dengan mata berkobar, “wortel ini, sesungguhnya milik hamba dan hamba lah yang menanam dan merawatnya setiap hari. Namun, suatu pagi, ketika wortel ini sudah ranum, wortel ini hilang, dan hamba melihat kelinci putih berlari dari kebun hamba sambil membawa wortel yang hamba tanam.”

“Tidak benar, paduka!” Sanggah kelinci putih, “ini adalah wortel dari kebun hamba. Hamba tahu karena hambalah yang memberi pupuk dan menyiraminya setiap hari,” air mata kelinci putih mulai bercucuran lagi, ia pun melanjutkan, “wortel ini sudah seperti bagian perut hamba, paduka yang arif.”

Raja Jenggot Emas jelas pusing mendengar sanggahan demi sanggahan. Ia merasa geram melihat kedua kelinci buncit di depannya saling berebut wortel yang sudah setengah busuk dan layu. Padahal, perdana menteri melaporkan bahwa desa kelinci sedang dilanda musim paceklik. Akhirnya, timbullah ide untuk menguji pengetahuan kedua kelinci tersebut. Raja Jenggot Emas yang akan menentukan siapa pemilik sebenarnya dari wortel tersebut dan memberikan wortel tersebut kepada yang berhak. Maka, raja menitahkan kepada pengawalnya untuk membawa seekor musafir, seekor fakir, dan seekor miskin kehadapannya dengan segera untuk dijadikan sebagai juri. Sembari menunggu, permaisuri yang agung memerintahkan seekor pelayan menuangkan secangkir teh jasmine untuk rombongan patroli kerajaan dan kedua kelinci tersebut.

Setelah satu jam kemudian, tiba juga tiga ekor juri sesuai permintaan baginda raja. Pengawal tersebut menemukan seekor babi yang tengah berkelana di padang rumput, seekor anjing yang baru saja selesai memangkas bulu-bulu domba di peternakan tuannya, dan seekor serigala kesepian yang sibuk menempeli bulu-bulu domba di tubuhnya dengan lem super. Diperjelas bahwa babi tersebut adalah seekor musafir, anjing tersebut adalah seekor miskin, dan serigala tersebut adalah seekor fakir. Maka, baginda raja memulai pertandingannya. Ia mengatakan akan mengajukan tiga pertanyaan kepada kedua kelinci mengenai wortel mereka, dan jawabannya akan diserahkan kepada ketiga ekor juri dihadapan mereka. Oleh karena itu, baginda raja meminta kelinci putih menyerahkan dan mempercayakan wortel tersebut kepada perdana menteri Raja Jenggot Emas.

Raja Jenggot Emas memerintahkan sang serigala untuk mengamati kemudian mencicipi ujung wortel tersebut. Tibalah saatnya baginda melempar pertanyaan pertama kepada kelinci putih, “kelinci putih, jikalau memang wortel tersebut milikmu, coba kau sebutkan bagaimana rasa ujung wortel itu?”

“Baginda raja, wahai yang agung, wortel itu memang milikku. Walau aku belum memakannya tetapi aku tahu bahwa ujung wortel tersebut rasanya semanis madu,” kelinci putih mengatakannya dengan penuh rasa percaya diri.

“Lalu, bagaimana menurutmu, wahai kelinci cokelat?”

Dengan rasa percaya diri yang tidak kalah besarnya, kelinci cokelat menjawab, “rasanya pahit wahai padukaku, aku tahu karena bibit wortel yang kutanam bukan dari jenis unggulan.”

Raja Jenggot Emas kemudian mempersilakan serigala tersebut untuk memberikan jawaban yang sebenarnya. “Salah! Wahai paduka, tidak satupun jawaban dari kedua kelinci tersebut benar. Walau hamba adalah pemakan daging, namun hamba merasakan kebusukan di dalam wortel ini,” ujar serigala. Raja Jenggot Emas manggut-manggut dan kembali mengelus jenggot dan jambangnya. Ia mempersilakan serigala untuk pergi meninggalkan ladang.

Maka, saatnya pertanyaan kedua diajukan. Baginda raja memerintahkan sang anjing untuk mengamati dan memakan bagian tengah dari wortel tersebut, kemudian baginda bertanya kepada kelinci cokelat, “hai kelinci cokelat, saatnya engkau yang menjawab pertama kali, seperti apakah bentuk dari permukaan wortel yang engkau ributkan sejak kemarin?”

“Baginda dan permaisuri yang agung, permukaannya indah dan mulus bagai porselen. Aku tahu karena aku selalu mencium dan mengelus-elusnya setiap pagi dan setiap menjelang tidur,” jawab kelinci cokelat.

“Tidak baginda! Maaf atas kelancangan hamba, tapi hamba membawanya beberapa hari ini, hamba lebih tahu dari siapapun bahwa permukaan wortel itu banyak lubangnya akibat dimakan ulat. Hambalah yang tiap hari mengusir ulat-ulatnya,” kelinci putih menyeringai karena merasa bisa mengungguli kelinci cokelat.

Raja Jenggot Emas mempersilakan sang anjing untuk menjawab. “Baginda,” kata sang anjing mengawali kalimatnya, “hamba mohon baginda raja mempercayai saya. Wortel ini permukaannya tidak seperti bulan atau pun porselen. Tidak ada lubang, tidak ada ulat, dan tidak mulus. Maka, jawaban mereka tidak satu pun yang tepat.” Anjing tersebut kemudian mohon diri setelah memberikan jawabannya. Kedua kelinci tampak gusar karena sedari tadi jawaban yang diberikan selalu salah.

“Baiklah. Pertanyaan terakhir,” baginda raja memilin-milin kumisnya yang cuma lima lembar. Seperti sebelumnya, kali ini ia memerintahkan sang babi untuk mengamati dan mencicipi pangkal wortel milik kedua kelinci, “jika memang wortel tersebut adalah benar milik salah satu dari kalian, coba katakan padaku, apa warna pangkal wortel tersebut? Nah! Kelinci mana yang akan menjawab lebih dahulu kali ini.”

Dengan penuh semangat, kelinci putih mengacungkan jari, “baginda, hamba sudah bersamanya bermalam-malam, warna pangkalnya adalah hijau kecokelatan. Mohon baginda bersikap adil kepada hamba.”

“Baginda,” kelinci cokelat mencondongkan tubuhnya, “wortel itu milik hamba. Wortel tersebut hamba tanam di kebun hamba, sudah barang tentu jika hamba tahu bahwa, warna wortel tersebut adalah jingga keemasan seperti jenggot dan jambang paduka.”

Naasnya, ketika baginda raja meminta jawaban dari sang babi, ia malah tidak tahu warna dari pangkal wortel milik kedua kelinci. Sang babi saat itu sangat kelaparan, sehingga ia tidak memperhatikan bentuk keseluruhan dari wortel tersebut. Karena takut akan kemarahan Raja Jenggot Emas akibat kelalaiannya, maka babi berbohong dengan mengatakan bahwa jawaban kelinci cokelat adalah benar.

Kelinci putih menjadi sedih mendengar jawaban babi. Kelinci cokelat menjadi iba, ia pun mengatakan, “paduka, jika memang kelinci putih sangat menginginkan wortel hamba yang tidak seberapa, maka berikanlah padanya. Ia lebih pantas mendapatkannya.”

Mengetahui hal tersebut, Raja Jenggot Emas tersenyum dan mempersilakan kelinci putih mengambil sisa wortelnya dari sang babi. Rombongan patroli kerajaan akhirnya meninggalkan perkebunan selada. Ketika kelinci meminta wortelnya, sang babi ternyata benar-benar memberikan pangkalnya yang tinggal secuil. Kelinci putih sudah kehabisan tenaga untuk marah dan menangis, ia hanya terdiam. Terpaku. Terhipnotis dengan pangkal wortel yang tidak lebih tebal dari jarinya.

27 responses to “Wortel Bikin Makan Hati

  1. Hmm.., cerdik sekali si babi yang telah melakukan kesalahan namun mampu menebusnya dengan sebuah kebijakan sehingga kebenaran itu menemukan tempatnya..

    Good.., “SALAM KARYA UNTUK SEMUA”

  2. Semacam teringat cerita di majalah Bobo dulu waktu kecil. Penuh perumpamaan๐Ÿ™‚

    ELus-elus kelinci cokelat, kelinci putih sih cuekin aja, tukang mencuri siiih๐Ÿ˜€

  3. keyen kakaaaaaa…………. ๐Ÿ˜€

  4. Ada aja akalnya si babi lah.:mrgreen:

  5. ceritanya mengalir;) ada pesan moral yang jenaka;) nice

  6. Hmmโ€ฆ menurutku aktornya ngga melahirkan simpati semua deh. Jadi aku pilih permaisurinya. Gmn ??? hehe

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s