Kisah Serigala Dan Tiga Domba [2]


Tujuh hari tujuh malam merupakan waktu yang cukup bagi serigala untuk mengamati perilaku dan kebiasaan penghuni peternakan domba. Selama hari-hari pengamatan tersebutlah, serigala terpaksa memakan binatang manapun yang lewat disekitarnya, seperti ulat, kelinci, ayam, dan bebek.

Melalui hasil pengamatannya pula, ia mengetahui bahwa terdapat sepasang domba sakit hingga sepasang domba tersebut lebih suka tidur ketimbang merumput. Oleh karena itu, setiap dua hari sekali menjelang sore, seekor anak domba betina rajin keluar masuk Hutan Terlarang untuk mengambil rumput obat dan buah-buahan berwarna merah. Hutan Terlarang merupakan tempat menakutkan bagi binatang-binatang yang menghuni Hutan Alakadarnya. Diceritakan dari masa ke masa, dahulu kala manusia tega membabat habis binatang penghuni Hutan Terlarang demi membuat jalur yang aman untuk dilalui manusia.

Di hari pengamatan itu pulalah, serigala beruntung karena anjing gembala mencukur bulu-bulu domba, kemudian membuangnya ke tepi sungai. Serigala segera memungut dan menjemur bulu-bulu domba untuk dijadikannya sebagai bagian dari rencana. Setelah ia selesai mengamati kebiasan para domba dan anjing gembala, tibalah waktunya bagi serigala untuk beraksi.

Entah bagaimana ceritanya, serigala berhasil mendapatkan perekat. Perekat tersebut digunakan oleh serigala untuk menempelkan bulu-bulu domba dengan bulu-bulunya. Serigala menggunakan permukaan sungai sebagai cermin. Selama apapun ia berdandan, tetap saja sang serigala tidak bisa menutupi kelemahannya yaitu tidak bertanduk dan tidak bersepatu domba. Berdasakan pengalaman di masa lalu, sudah tentu serigala tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Ia gusar memikirkan cara untuk mendapatkan tanduk dan sepatu domba. Butuh waktu untuk bereksperimen dengan mengandalkan bantuan alam. Perlahan serigala mulai patah arang. Perekat yang digunakannya pun terlalu kuat, sehingga bulu-bulunya seakan dapat ikut tercabut jika ia ingin mencabuti bulu-bulu domba.

Dalam perenungannya, diputuskannya untuk menghadang kereta seorang peternak di Hutan Terlarang. Ia pernah mendengar kebiasaan manusia menjual domba. Maka, ia segera berlari menuju Hutan Terlarang. Beruntunglah ia, karena sesampainya di Hutan Terlarang, serigala mendengar langkah kaki kuda dan beberapa domba mengembik. Serigala memacu langkahnya, kemudian merebahkan diri di tengah jalan.

Siapa yang tidak tertipu dengan kostum domba sang serigala?

Kereta peternak incaran serigala berbulu domba, serta merta berhenti. Dikira sang peternak, itu adalah domba betina milik peternak lain yang tertinggal. Maka, serigala tersebut diikutkan masuk ke gerobak.

Ternyata, gerobak tersebut hanya diisi sepasang domba. Secepat kilat serigala melahap kedua domba. Perutnya kenyang. Serigala menyemangati dirinya untuk tetap bergerak sesuai misi.

Entah bagaimana caranya, serigala berhasil membuat sepatu domba, memotong kemudian memasang tanduk domba menggunakan material yang ada di gerobak. Sekarang, muncul lagi permasalahan baru, yaitu serigala tidak bisa mengembik. Ia kuatir kisah turun temurun tentang keledai berkostum singa akan menimpa dirinya.

“Mana mungkin aku bisa mengelabuhi anjing gembala jika aku tidak bisa mengembik?” Percuma saja serigala mengeluh. Ia pun mencoba untuk mengembik. Namun, yang keluar hanya gonggongan.

Ternyata, suara gonggongan sang serigala menarik perhatian peternak. Kereta kuda pun dihentikan. Peternak turun untuk melihat kondisi domba-dombanya. Begitu pintu dibuka. Belum lah sempat peternak mengekspresikan keterkejutannya melihat dua dombanya menjadi bangkai. Ia sudah dikejutkan tingkah serigala yang menyeruak keluar dari gerbong.

“Hey! Dombaku. Dombaku jangan pergi!” Begitulah pinta sang peternak ketika melihat serigala berbulu domba kabur.

Berkat susunan material yang digunakan serigala untuk membuat sepatu domba, memberikan efek suara berderap. Akan tetapi tidak menghilangkan keganasan cakarnya. Serigala sadar bahwa sulit baginya untuk masuk secara hidup-hidup ke Hutan Alakadarnya dengan bulu-bulu domba yang menempel. Maka, serigala menunggu anak domba betina di Hutan Terlarang. Serigala menggunakan sisa waktunya untuk berlatih mengembik.

Sehari. Dua hari. Seminggu. Ia merasa pita suaranya menghasilkan gonggongan ala domba. Lebih tepatnya, mengembik ala serigala. “Ngguueeek…” Serigala memastikan embikannya untuk terakhir kali. Kemudian, serigala menuju semak-semak dekat peternakan domba. Serigala bersembunyi di sana sambil menanti anak domba betina.

Anak domba yang ditunggu-tunggu datang juga. Ia berlari-lari kecil sambil mencabuti rumput obat disekitar pohon besar. Buah-buahan kecil berwarna merah diperolehnya dari tanaman merambat.

Ketika tiba waktunya anak domba itu pulang. Serigala merintih dari balik pohon besar.

“Wahai dunia, betapa malang nasibku,” serigala memegangi lututnya, “aku hidup sebatang karang, tiada kawan, tiada keluarga.”

Anak domba segera menghampiri serigala, “wahai domba, mengapa kau ada di sini?” Ujarnya pada serigala berbulu domba.

“Aku dari peternakan di ujung hutan,” serigala mulai berkisah, “kawanan domba dan anjing gembala mengusirku karena aku berbeda.” Ia menatap mata anak domba lekat-lekat, dan kembali melanjutkan keluh kesahnya, “tidak ada tempat untuk bernaung, tidak ada kawan untuk berbagi. Mengapa sang pencipta tega melakukan ini padaku, aku pun tidak mengerti.”

Anak domba mendengarkan curahan hati serigala dengan khidmat.

“Wahai domba, jika engkau dewasa kelak, aku percaya engkau akan menjadi domba tercantik di peternakanmu,” serigala berdiri, “sekarang aku akan melanjutkan perjalananku. Entah kemana, entah untuk apa, entah sampai kapan.” Ia menghitung langkahnya. Satu langkah, dua langkah, setelah itu, “aduh! Kakiku…” Serigala kembali melanjutkan skenarionya. Ia sengaja membuat dirinya tersungkur.

Anak domba membantu serigala berdiri dan bersandar ke pohon, “wahai domba, kau mau kemana? Lebih baik, ikutlah bersamaku.”

“Tidak. Tidak. Bagaimana dengan anjing gembala dan kawanan dombamu?” Serigala menggeleng, “lebih baik tinggalkan saja aku. Aku tidak mau membuatmu sengsara karena aku.”

“Aku akan merawatmu,” janji anak domba.

“Tapi aku berbeda. Aku tidak sebaik yang kau bayangkan,” serigala terisak-isak karena terkenang masa lalunya saat tinggal di pemukiman serigala. “Pergilah! Semua domba adalah sama.”

“Aku juga berbeda,” anak domba berusaha meyakinkan serigala, “aku akan menjaga dan merawatmu. Itulah yang membuatku berbeda. Lantas apa yang membuatmu merasa berbeda, wahai domba?”

“Domba, aku tidak pandai mengembik,” ujar serigala.

“Tidak masalah.” Anak domba tersenyum kepada serigala, “ayo! Ikutlah denganku. Bergabunglah ke peternakan kami. Anjing gembala sangat baik. Ia tidak akan mengusirmu.”

Serigala mematuhi perkataan anak domba. Anak domba membawa serigala menemui anjing gembala. Sulit untuk mengelabuhi anjing gembala. Serigala harus menjawab macam-macam pertanyaan yang diajukan. Sudah tentu anjing gembala curiga, karena bau alami serigala masih tercium walau tercampur dengan bau domba.

“Sudahlah, anjing gembala. Kau tidak perlu menghabiskan waktu bersantaimu untuk mencurigai aku. Aku merasa terhina mendapat sambutan seperti ini.” Langkah serigala menjadi lemas. Ia merasa rencananya sudah gagal. Saat berjalan melewati anak domba, serigala melempar pandangan. Melihat hal tersebut, anak domba mencegah kepergian serigala dan memintanya untuk bersabar. Walau baru bertemu sekali, anak domba mengatakan hal-hal baik tentang serigala berbulu domba kepada anjing gembala. Akhirnya, anjing gembala meluluskan permintaan anak domba.

Selama serigala menyamar sebagai domba, kesehariannya dihabiskan bersama sang anak domba betina tersebut. Terkadang, ia menemani anak domba tersebut mencari rumput obat dan buah-buahan. Di lain hari, ia mengintai dan memangsa anak ayam yang terpisah dari kawanannya. Dan beberapa hari sekali, ia meminta anak domba betina untuk menyediakan susu. Pernah suatu hari anak domba mengeluh karena serigala sering meminta susu domba. Namun, keluhannya hanya ditanggapi serigala dengan diam atau kata-kata penuh belas asih.

Anak domba betina pun menjadi domba dewasa yang siap menikah. Dalam aturan kehidupan domba. Jika ada dua domba jantan menyukai betina yang sama, maka kedua domba tersebut harus bertarung. Dan sudah menjadi aturan, bahwa domba yang menang berhak mengawini domba bentina incarannya.

Serigala tidak mau kepalanya hancur akibat tertumbuk tanduk palsu di kepala. “Domba, aku jika kau menyukai domba jantan lain,” ujarnya, “maka aku tidak akan menghalangi. Pergilah kau dengannya.” Serigala tersenyum sambil menatap domba betina yang dulu menolongnya.

“Setelah semua pengorbananku untukmu, tentu aku tetap bersamamu,” domba betina berusaha menepati janjinya yang terdahulu. Kemudian, ia mengatakan pada induk dan anjing gembala, bahwa ia memilih serigala berbulu domba sebagai kawan hidup. Lagi-lagi, permintaan sang domba betina diluluskan oleh anjing gembala, dan direstui oleh induknya. Bersambung ke “Kisah Serigala Dan Tiga Domba [3].

8 responses to “Kisah Serigala Dan Tiga Domba [2]

  1. yah, gagal deh untuk mengakhirinya karena ide cerita yang lumayan panjang…😆

  2. Ping-balik: Kisah Serigala Dan Tiga Domba [1] | mew da vinci

  3. nunggu installment selanjutnya.

  4. jadi, kisah ini belum selesai dibikin ya, ka…..????
    yisha sangka udah selesai, hanya saja, kayak punya yisha, sedikit demi sedikit me postnya…… :mrgreen:

  5. srigala berbulu, bersepatu dan mengembik spt domba, tukang ngibul ya….
    Idealnya, srigala bergaul dengan sang anjing hahaha……

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s