Kisah Serigala Dan Tiga Domba [3-END]


Tahun pertama perkawinan serigala dengan domba betina dilalui dengan mulus. Serigala mampu berbaur dengan keluarga sang istri. Pernah terceletuk permintaan ayah domba untuk bertandang ke rumah sang serigala. Menanggapi hal tersebut, dengan tenang serigala menjawab, “Baiklah ayah domba, suatu hari kita akan pergi ke sana sebagai sekawanan domba. Walaupun saya tidak bisa menjamin keselamatan ayahanda dan kawanan domba lainnya, saya akan tetap menyiapkan perbekalan.”

Ayahanda mengangguk tanda setuju, “tidak mengapa, saat jaman muda dulu, saya biasa menanduk semua domba demi berbagai alasan.”

“Baiklah. Akan tetapi, ayahanda jangan terkejut tatkala melihat keganasan dan kebuasan Hutan Alakadarnya, karena keluarga hamba tinggal di seberang hutan sana. Kabarnya, semua domba yang memasuki Hutan Alakadarnya tidak pernah kembali lagi. Kalau bukan karena langit memberkahi saya dengan keberuntungan, mungkin saja saya sudah menjadi bangkai.” Serigala menyeringai, kemudian melanjutkan ucapannya, “selain itu, keluarga saya sudah mencoret nama saya dari daftar keluarga untuk selamanya. Maka, sia-sia saja kita bertaruh nyawa, ayahanda.” Begitulah, cara serigala menjawab setiap domba yang bertanya perihal keluarganya.

Hingga tibalah suatu hari, domba betina mengutarakan isi hatinya kepada serigala berbulu domba, sang suami. Domba betina mengeluhkan kemalasan serigala, sedangkan domba betina setiap pagi mencari rumput obat dan buah-buahan untuk orang tuanya, ditambah lagi malam harinya harus menyediakan susu untuk serigala. Tidak ada lagi istirahat. Tidak ada kesempatan untuk bercengkrama layaknya pasangan domba. Serigala meminta maaf dan bersedia menggantikan tugas domba betina untuk mencari rumput obat dan buah-buahan, serta berketurunan.

Entah apa saja usaha yang dilakukan serigala dan domba betina, hingga akhirnya kandang mereka dihiasi suara embikan dua ekor anak domba betina. “Ibu domba”, begitulah sebutan baru bagi domba betina setelah melahirkan anak-anak domba. Tersebutlah anak-anak domba mereka ternyata berbeda. Anak pertama pandai menirukan lolongan serigala dan bulunya belang, sedangkan anak kedua lebih memilih makan daging atau telur ayam daripada merumput. Oleh karena itu, teman mereka tidaklah banyak.

Serigala jarang pulang ke rumah. Kadang sebulan sekali, kadangan dua bulan sekali. Hal tersebut mengakibatkan anak-anak domba merindukan serigala. Ibu domba selalu mengatakan bahwa ayah mereka harus bekerja keras mencari rumput obat demi kesembuhan kakek dan nenek domba. Akan tetapi, serigala selalu pulang dengan tangan kosong.

“Istri dan anak-anak dombaku,” serigala mulai berkisah, “Hutan Terlarang semakin hari semakin berbahaya. Tidak hanya karena campur tangan manusia, melainkan juga karena hewan buas mulai bermunculan.” Serigala menatap mata anak-anak domba satu per satu, “setiap hari, ayahmu ini harus bertaruh nyawa agar tidak dimangsa.”

Kedua anak domba mendengarkan sampai menganga. “Hewan buas yang seperti apa ayahanda?” Tanya anak domba pertama.

“Ialah serigala. Serigala sangat lihai melakukan tipu daya. Wujudnya tidak berbeda dengan anjing gembala, hanya saja ekornya lebih cantik dari ekor domba manapun. Cakarnya lebih mematikan dari tanduk domba. Serigala dapat berpindah tempat hanya dalam sekejap mata.” Serigala mempraktekkan menggunakan kedua tanggannya, “sudah banyak binatang ternak menjadi santapan serigala tersebut.” Begitulah cerita serigala setiap kali bertemu istri dan anak dombanya.

Sudah tentu ibu domba sedih melihat penyakit kedua orang tua dombanya semakin parah, akan tetapi bulan demi bulan serigala tidak pernah sekalipun membawakan rumput obat. Berdasarkan hal tersebut, ibu domba berinisiatif untuk mencari sendiri rumput obat dan buah-buahan di Hutan Terlarang, sedangkan anak-anaknya dititipkan kepada anjing gembala. Serigala mendukung keputusan ibu domba sekaligus berpesan untuk mengantarkan susu segar setiap malam kepada serigala.

Lima tahun berlalu. Ibu domba semakin kurus, akan tetapi tugasnya semakin banyak. Dimulai dari mencari rumput obat dan buah, bekerja di kandang ayam demi tiga butir telur untuk sarapan anak domba kedua, memandikan dan menyisir bulu-bulu anak domba pertama, memijat dan menyuapi orang tuanya, dan diakhiri dengan memerah dan mengantar susu ke Hutan Terlarang. Ibu domba tidak pernah menunjukkan bahwa ia lelah atau sakit. Ia hanya memahami, keluarga membutuhkannya.

Tibalah suatu masa dimana ibu domba memergoki sang suami sedang menyantap seekor kelinci di tepi sungai. Saat itu pula, serigala menanggalkan sepatu dombanya, sehingga tampak jelas cakar-cakar yang lebih tajam dari paruh garuda. Terkejutlah mereka berdua. Ibu domba segera lari, tapi serigala berhasil menghadang.

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan, istri dombaku.” Ujar serigala. Tubuh ibu domba gemetar. Lidahnya kelu. Kepalanya pusing. Ibu domba serasa menelan biji kedondong. Air matanya lah yang berkata-kata.

“Wahai domba, ibu domba, istriku. Engkau salah menilai. Aku menolong kelinci malang itu dari sergapan serigala buas,” serigala tetap siaga di posisinya. Berjaga-jaga kalau saja ibu domba lari atau mengembik minta bantuan. Ia pun melanjutkan, “demi bumi dan langit, demi matahari dan bulan, demi penguasa semesta alam, aku tidak melakukan apa pun tapi mengapa istriku sendiri tidak percaya? Oh! Dunia. Teganya dia.” Serigala mengiba. Ditunjukkannya air mata sambil terisak.

“Kalau begitu, mengapa aku melihatmu memakan kelinci itu?” Suara ibu domba bergetar mengimbangi getaran keempat kakinya.

“Aku lupa diri. Tolong maafkan aku, istriku. Sudah lima tahun ini perutku hanya terisi susu yang kau antarkan.” Serigala balik badan, “lebih baik aku pergi selamanya daripada dibenci olehmu. Dan, lebih baik aku mati saja daripada harus kehilangan domba secantik dirimu.” Serigala merebahkan tubuhnya, “injaklah aku hingga mati, agar kau bisa memaafkanku.”

Ibu domba memilih untuk memaafkan tanpa memberi hukuman, walau perasaannya campur aduk. Ia mengajak suaminya ikut pulang bersama dirinya menemui anak-anak domba. Tanpa ragu-ragu serigala mengiyakan ajakan ibu domba. Tidak ketinggalan, serigala memasang lagi sepatu dombanya.

Semenjak serigala memutuskan untuk tidak kembali ke hutan, ibu domba harus bekerja lebih giat demi mendapatkan telur ayam lebih banyak. Jika serigala masih kelaparan, ibu domba harus kembali ke kandang ayam untuk meminta telur.

Semakin hari, ibu domba semakin kewalahan memenuhi permintaan serigala. Serigala bosan makan telur setiap hari, maka ia meminta ibu domba membawakan ikan segar. Di hari lainnya, ia ingin ibu domba menyediakan makanan milik anjing gembala. Setiap kali ibu domba menolak melayani serigala. Serigala segera mengamuk dan mengancam akan memakan anak-anak domba sebagai gantinya. Akhirnya, ibu domba pun kembali menurut.

Suatu pagi, serigala keluar dari kandangnya. Ia merindukan nikmatnya udara segar pagi hari. Kini badannya gempal. Lemak dimana-mana. Namun, kehangatan mentari membuat hatinya riang, maka diekspresikan dengan mengembik sambil berlari-lari kecil.

“Nggueeeek…” Suara embikan serigala tidak pernah berubah. Serigala terus menerus mengembik, sehingga menarik perhatian pemilik peternakan.

Selama ini, ia pusing memikirkan cara menggemukkan domba-domba ternaknya. Namun, setelah melihat serigala, ia menjadi takjub akan keunikan embikan serigala, ditambah lagi dengan tubuh gempalnya. Maka, peternak segera meminta bantuan beberapa teman untuk membawa dan menjual serigala ke pasar.

Serigala, yang sudah tidak selincah dahulu, kesulitan untuk melepaskan diri. Ibu domba menarik-narik celana peternak sebagai isyarat untuk tidak membawa serigala. Tidak habis akal, ibu domba segera berlari masuk ke kereta domba. Ibu domba berharap peternak mengubah pikirannya untuk menjadikan ia sebagai pengganti serigala. Namun, peternak menyuruh anjing gembala untuk menggiring ibu domba ke kandang.

Serigala pun diangkut menggunakan kereta domba. Setelah perjalanan jauh, sampai lah serigala di pasar pelelangan domba. Serigala berusaha kabur dan melepaskan jeratan di leher sambil terus mengembik. Harga semakin melambung, sehingga membuat kompetitor berkurang. Naasnya, pemenang lelang adalah pemilik restoran, yang berencana menjadikan serigala sebagai bagian dari resep percobaan restorannya.

Tamat lah sudah kisah serigala berbulu domba.

18 responses to “Kisah Serigala Dan Tiga Domba [3-END]

  1. Ping-balik: Kisah Serigala Dan Tiga Domba [2] | mew da vinci

  2. Kejujuran adalah penilai sesungguhnya seseorang. Ia dibangun melalui suatu proses, panjang atau singkat. Tetapi yakinlah, ada balasan yang setimpal bagi bangunan kredibilitas dari kejujuran tersebut. Cepat atau lambat…
    Itulah kejujuran, yang sama persisnya dengan sifat yang berkebalikan sesuai ilustrasi tulisan ini… ‘domba berbulu srigala’ #eh

  3. Kalau jujur ya Lut, tulisan edisi kedua kurang greget, kalau di edisi ini dapet nih klimaksnya, pesan moral dapet, dan bagusnya ngga secara langsung tersurat, yang dikiaskan dengan satu baris yang memasyarakat…
    Hebat yaa, ibarat suatu pertandingan, bisa membalikkan keadaan heheh….

    • Hehehe.., kemarin saya juga mau bilang ini tapi takutnya ada tersinggung, eh ternyata ada yang ngingetin.., ya syukurlah.

      Semoga ini bisa menjadi motivasi untuk melangkah lebih baik yah mbak mew.., jangan pernah memaksakan diri untuk menulis dan biarkan kata demi kata mengalir seperti apa yang kita pikirkan #halah nggaya..😆

      • 😆 mas bayang bisa aja.. daripada kesinggung, saya malah termotivasi😀 makasih mas ganteng..
        iya mas bay, biarlah hati menuntun jemari, agar setiap kata menyentuh pembaca:mrgreen:

        • Masalahnya bukan menyentuh atau enggaknya.., tapi bagaimana agar kita bisa memerankan beberapa tokoh dalam konteks yang kita ajukan..🙂

          Hehehe.., kataku kq dadi kayak dalang wayang yah..
          wah..,gak bener ikih.. :mrgreen:

    • 😀 wah, mesti belajar lagi…
      memang sudah waktunya serigala mendapatkan ganjaran😆

  4. nanti baca lagi ah……….. 😀

  5. dongen yang lain2 dari yang lain. saya sebagai penyuka dongeng belum pernah baca dongeng ini, lho🙂

  6. Ping-balik: Posts of the Week #4 (dan #3) | KOLOR INI

  7. di tunggu postingan berikuty

  8. izin baca semua serinya gan.. tanggung cuman yg terakhir.

  9. Ayo semangat..semangat..😀
    Indonesia adalah bangsa yang kaya cerita. masih banyak cerita dan dongen yang menunggu untuk kau tuliskan..:mrgreen:

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s