Doa Dua Ekor Gajah [1]


Inilah kisah dua ekor gajah. Konon tersiar kabar, seekor pengelana waktu mengisahkan sejuta tahun setelah abad millenium, keturunan dari Sang Singa yang agung, Raja Jenggot Emas, tidak lagi memangku tahta kerajaan. Hutan Alakadarnya dipimpin oleh seekor gajah bernama Gajah Tapak Besi. Di bawah kepemimpinan Sang Gajah, Hutan Alakadarnya berevolusi menjadi negara metropolitan, dimana keganasannya tidak lagi tercermin melaui gigi-gigi dan cakar-cakar tajam, akan tetapi berdasarkan status sosial dan ekonomi para binatang. Berdasarkan ilmu tata kota yang dimiliki menteri Hutan Alakadarnya, pemerintah mendirikan pilar-pilar pencakar langit yang berfungsi sebagai salah satu tempat hunian, gedung perkantoran, dan pasar. Tempat yang dahulu merupakan peternakan, dijadikan Sekolah Rimba lengkap dengan taman bermain dan perpustakaan. Beberapa danau disulap menjadi tempat wisata akhir pekan, dan sisanya menjadi perumahan bagi para buaya dan ikan-ikan.

“Semua fasilitas adalah gratis, berwawasan lingkungan, nyaman, dan mempesona,” begitulah tutur Sang pengelana waktu.

Akan tetapi, kesulitan negara dalam mengatasi pengangguran tetap terjadi dan terus berlanjut. Dari sinilah kisah dua ekor gajah tersebut dimulai. Mereka berdua dikenal sebagai gajah putih dan gajah cokelat, yang hidup di garis kemiskinan, begitulah negara mencatat riwayat tahunan mereka. Terbatasnya lapangan kerja dan ketatnya persaingan bisnis, membuat gajah putih melakukan pengurangan tenaga kerja terus-menerus, sedangkan gajah cokelat menganggur bertahun-tahun. Akibat merasa senasib, gajah putih dan gajah cokelat bersahabat melebihi eratnya dua saudara kandung.

Suatu hari gajah putih termenung sambil memandang awan di tepi danau Hutan Alakadarnya. Hari itu cerah dan hangat tapi awan mendung berputar di kepala gajah putih diselingi topan. Ia pusing memikirkan nasib perusahaannya yang kian hari makin buntung. Bahkan, upah pegawai pun dibayar menyicil, “ah! Perusahaan mana yang upah bulanan pegawainya dibayar nyicil? Apalagi tiap minggu pasti memangkas jumlah pegawai,” keluh gajah putih.

Bosan memandang hamparan langit, maka gajah putih menunduk memandang apa saja yang ia lihat di rerumputan. Walaupun ia berdasi dan menyandang status pengusaha, akan tetapi naluri binatangnya tetaplah ada. Melihat semak-semak rimbun dengan dedaunan hijau muda dan buah berwana merah tua bulat dan berisi, sanggup menggerakkan belalai gajah putih untuk menyantapnya.

Sambil menikmati makan siang, pandangan gajah putih menjelajahi danau berserta pernak-perniknya. Hingga tertambatlah pada sebuah batu putih melebihi warna kulitnya, berada di sela-sela akar pohon yang menyembul. Sinar matahari membuat batu tersebut tampak bercahaya dan mengkilap. Batu tersebut pun dihampiri.

Setelah batu putih tersebut berada dalam genggaman, maka takjublah ia. Batu tersebut lebih halus daripada pualam, hal tersebut disebabkan oleh serabut lembut berlendir menyelimuti permukaan batu.

“Wahai batu, betapa bahagianya aku jika dapat memiliki sedikit saja keindahanmu.” Gajah putih menghela nafas panjang, kemudian melempar pandangannya ke arah danau, “betapa bahagianya engkau menjadi batu. Tidak perlu tahu tentang sulitnya hidup. Bagaimanapun hidupmu, engkau tetaplah batu dengan sejuta fungsi yang tersamarkan oleh rupa sebentuk batu,” ia terdiam sejenak, teringat temannya, gajah cokelat yang sering mengajaknya ke danau ini. “Apa pun yang kulakukan padamu, engkau tetaplah batu putih.” Kemudian ia lempar batu putih ke danau sesuai teknik yang diajarkan oleh gajah cokelat, sehingga batu tersebut melompat-lompat di atas permukaan air.

Akan tetapi, tanpa sengaja lemparannya mengenai kepala kura-kura yang tiba-tiba menyembul ke permukaan.

“Aduh!” Kura-kura mengusap-usap kepalanya. Dengan sigap ia menoleh ke arah gajah putih yang masih terpaku. “Baru kali ini selama seribu tahun hidupku, aku dilempari batu tanpa tahu kesalahanku.”

“Maafkan aku wahai kura-kura, aku tidak sengaja.”

“Kamu tidak akan kumaafkan! Akan kusihir kau menjadi gajah yang selalu sial hingga akhir hayatmu.” Kura-kura mulai merapel mantra. Mulutnya komat-kamit tiada henti.

“Aku mohon maafkan aku, wahai kura-kura.” Gajah putih pun mulai menangis, ia mengiba dan terus mengiba. “Wahai dunia, bantulah aku melunakkan hati kura-kura ini, sungguh aku tak kuasa jika harus menderita melebihi apa yang kualami saat ini,” suaranya lihir dan bergetar. Air matanya terus bercucuran bagai air terjun yang tak akan pernah surut, sehingga kura-kura pun seolah bisa merasakan kepedihan gajah putih.

“Wahai gajah putih, aku tidak jadi menyihirmu, maka berhentilah menangis,” kura-kura menjadi sendu. Akan tetapi gajah putih masih saja menangis. Maka, bertanyalah kura-kura perihal kesedihan gajah putih.

“Wahai kura-kura, sesungguhnya engkau tidak perlu melampiaskan kemarahanmu tadi dengan menyihirku menjadi gajah tersial sepanjang usia, karena hidupku kini sudah merana.” Gajah putih mulai berkisah, “perusahaanku diambang kebangkrutan, hutangku terlalu banyak seolah-olah turunan ketujuhku pun harus ikut melunasinya. Jika perusahaanku ditutup, entah dengan apa aku akan membayar sisa hutangku. Belum lagi aku harus membayar upah pegawai setiap bulan, itu pun aku masih berhutang pada mereka. Oleh karena itu, hingga kini tidak ada betina yang bersedia menerima pinanganku.” Gajah putih mengelap ingus dan air matanya.

“Baiklah,” kura-kura menggosok-gosok kedua tangannya, “akan kukabulkan satu permintaanmu, maka bijaksanalah, karena seumur hidup kau hanya bisa meminta satu kali dan tidak boleh menariknya kembali.”

“Yang benar?”

Kura-kura mengangguk. Ia menunggu gajah putih mengucapkan permintaan.

“Wahai kura-kura, aku ingin kaya raya dan sukses!” Seru gajah putih.

“Maka bersiaplah!” Kura-kura mulai merapel mantra. Mulutnya komat-kamit. Matanya terpejam. Dan tiba-tiba…

DUAARR!!

Halilintar menggelegar seakan sambarannya hanya berkisar satu sentimeter dari telinga gajah putih.

“Nah! Permintaanmu sudah kukabulkan. Sekarang pulang dan tidurlah!” Kura-kura mengibas-kibaskan tangannya tanda gajah putih harus segera pergi. “Keesokan hari,” lanjutnya, “ketika matahari terbit dan pertama kalinya engkau menjejakkan kaki di luar rumah, maka saat itu juga mantraku bekerja. Dan tidak ada syarat yang dapat membatalkan permintaanmu.”

“Terima kasih kura-kura,” ujar gajah putih. Ia segera menuruti perintah kura-kura.

Sesampainya ia di rumah, ia bergegas tidur. Akan tetapi, rasa senang yang meluap-luap membuat gajah putih sulit terpejam. Ia membayangkan kehidupannya yang mapan melebihi siapa pun.

“Begitu aku kaya, aku akan beli membeli satu gedung rumah susun ini untuk diriku sendiri,” gajah putih mulai berhayal. “Kemudian, setiap ruangannya akan kuisi dengan berlian, intan, permata, emas, dan mobil-mobil mewah. Akan kudirikan banyak perusahaan,” senyumnya mengembang tatkala terbayang banyak gajah betina di sisinya, “gajah-gajah cantik, bersiaplah membuka pintu hati dan rumahmu untuk gajah paling tampan sehutan. Akan kunikahi kalian semua, sehingga tidak ada lagi gajah betina yang tersisa.”

Semalam suntuk ia terus berangan-angan. Ia yakin bahwa kura-kura sudah menepati janji. Akhirnya saat detik-detik matahari terbit, ia pun kelelahan dan ketiduran. Tidurnya pulas sampai petang hari.

Matahari yang menusuk kelopak matanya membuat gajah putih tersentak bangun. “Aku kesiangan!” Gajah putih segera berlari keluar rumah. Bermenit-menit ia berdiri di depan pintu sambil harap-harap cemas. Ia terus-menerus melihat pakaian yang ia kenakan dan isi rumahnya dari luar. Barang kali, dengan begitu ia bisa melihat transformasi dirinya dalam selimut bintang-bintang seperti kisah peri gajah sedang menyihir gajah desa menjadi pangeran gagah. Akan tetapi tidak ada yang terjadi. Gajah putih terus berpikir hingga terucap dilisannya, “kenapa? Kenapa? Ada apa?”

Terlintas dibenaknya untuk membersihkan dirinya. Ia berharap keajaiban segera tiba. Namun, baru satu langkah ia bergerak masuk, teleponnya berdering, ternyata dari mitra bisnisnya yang memesan 100.000 sarung gajah untuk dikirim 3 hari kemudian. Tanpa pikir panjang, gajah putih pun menyanggupi. Berulang kali tanpa bosan-bosannya ia mengucapkan terima kasih kepada sang konsumen.

Gajah putih segera menelepon kepala pabrik untuk memproduksi 100.000 sarung gajah. Naas bagi sang gajah, kepala pabrik menjelaskan bahwa saat ini pabriknya hanya bisa memproduksi 30.000 sarung gajah. Refleks gajah putih menepuk jidat. Sambil berpikir, ia memerintahkan kepala pabrik untuk tetap memproduksi sarung gajah semaksimal mungkin. Terlintaslah ide untuk menghubungi rekan-rekan bisnis sesama pengusaha sarung untuk mengorder sisa produksi yang tidak bisa gajah putih lunasi.

“Agar permintaanku disambut baik, sebaiknya aku menemuinya secara formal,” gajah putih segera mandi. Ia menyegarkan tubuhnya dengan air hangat. Tidak lupa ia berendam di lautan susu basi yang sudah lama tersimpan di kulkas. Dengan setelan jas terbaik milik gajah putih, ia janjian dengan teman-teman gajah.

Begitu bertemu, tidak basa-basi ia segera mengutarakan niat. Sudah tentu teman-temannya bersedia membantu. Tidak tanggung-tanggung dijanjikan akan dibuatkan sarung dengan kualitas nomor satu dari bahan kualitas terbaik dan murah meriah. Hari itu, untuk pertama kalinya sepanjang kembang kempis jantung perusahaan, gajah putih merasa bahagia hingga surga ke tujuh.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua berjalan lancar. 100.000 sarung gajah kualitas terbaik dari yang terbaik sudah siap dikirim. Baru saja ia akan menelepon, sang konsumen sudah sampai dan menunggu di ruang tamu dengan membawa sekoper kepingan jamur emas. Dengan berlalunya waktu, transaksi mereka berakhir dengan kepuasan hati setiap gajah.

Makin hari, gajah putih semakin kebanjiran order. Perusahaan berkembang pesat layaknya roket lepas landas dengan kekuatan turbo. Gajah putih dapat membeli apa saja yang ia inginkan. Ia menambah jumlah perusahaan, anak perusahaan, dan memperbanyak cabang. Didonasikan uangnya yang lebih dari triliunan keping jamur emas ke badan-badan sosial dan ilmu pengetahuan. Dipekerjakan ribuan gajah betina untuk menyambut kedatangannya di lobi-lobi gedung yang akan ia lalui. Gajah putih menjadikan gajah-gajah betina tersebut sebagai pengawal pribadi.

Melihat kekayaannya yang tidak berkurang walaupun dibelanjakan hingga tidak ada lagi yang ia nginkan, maka dibuang berkarung-karung keping jamur emas dari udara menggunakan helikopter berlapis emas murni 24 karat. Ia ingin menciptakan suasana hujan uang di Hutan Alakadarnya.

Gajah cokelat yang melihat perubahan drastis dalam kehidupan gajah putih, sahabatnya, jadi tergelitik untuk mengetahui rahasia dibalik kesuksesan seekor pejantan. Gajah putih pun menceritakan perihal pertemuannya dengan sang kura-kura sakti.

Mengetahui hal tersebut, gajah cokelat bergegas menuju danau yang dimaksud. Ia mengikuti hampir semua petunjuk gajah putih kecuali satu, yaitu melempar batu putih dengan teknik batu meloncat di permukaan air. Ia kuatir sang kura-kura tidak akan merasa iba kepada dirinya. Maka, gajah cokelat mengumpulkan batu putih sebanyak-banyaknya untuk dicemplungkan ke danau.

Setelah berjam-jam menunggu dan menyemplungkan batu, akhirnya kura-kura tersebut muncul juga. Gajah cokelat dan kura-kura saling memandang.

“Hei! Gajah. Apa yang kau lakukan dengan batu-batu itu?” tanya kura-kura sambil berenang menepi, “apakah kau berniat memenuhi danau ini dengan batu-batu menyilaukan itu?”

“Tidak, kura-kura.” Gajah cokelat pun memperkenalkan diri. Sesudahnya, ia menceritakan perihal gajah putih yang kini menjadi kaya raya akibat mengajukan permintaan pada seekor kura-kura sakti penghuni danau.

Mendengar hal tersebut kura-kura membuka jati dirinya, “apa yang kau inginkan, wahai gajah cokelat? Ingin kaya seperti temanmu juga?”

Gajah cokelat menggeleng.

“Katakan permintaanmu! Akan kukabulkan apa pun. Namun, kuingatkan agar engkau bijaksana, karena aku hanya akan mengabulkan satu permintaan saja.” Kura-kura menegaskan, “jadi, walaupun kita bertemu seribu kali, jika engkau sudah pernah mengajukan satu permintaan, maka aku tidak akan mengabulkan permintaanmu yang lainnya, sekalipun untuk membatalkannya.”

Nah! Apakah permintaan sang gajah cokelat? Bersambung di kisah “Doa Dua Ekor Gajah [2-END]” ya… ๐Ÿ˜€

14 responses to “Doa Dua Ekor Gajah [1]

  1. wah harus nunggu sambungannya ya biar tahu apa permintaannya

    • iya mbak, tapi sambil menunggu, mbak ely dipersilakan mengucapkan permintaan.. barang kali ada kura-kura lewat yang ikut mengamini๐Ÿ˜›

  2. duh apa ya yang bakal diminta si gajah coklat…๐Ÿ˜• semoga bukan yang buruk2…

  3. Jadi penasaran menunggu sambungannya..

  4. asyik…………….
    kaka bikin kisah lagiiiiiiiiiii……….

  5. Mesti kura2ne engko bilang “wani piro?”..hehehe

  6. Gajah cokelat ingin menjadi si kura2 agar bisa memenuhi permintaannya sendiri

  7. Baru sempat baca ini.., dan sepertinya sangat menarik.
    Okey lanjutkan..๐Ÿ™‚

  8. Gajah coklat bingung mau menyebutkan permintaannya, karna lama menyebutkan kura-kura pun membentak sambil berkata “hei gajah coklat apa permintaanmu?” karna kaget n lata gajah coklat bilang “jangkriiikkk…”
    jadilah dah se ekor jangkrik
    ciussss….. me apa…….

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s