Doa Dua Ekor Gajah [2-END]


Gajah cokelat memikirkan permintaannya begitu lama.

Banyak hal yang ingin dia minta, akan tetapi hanya satu saja yang bisa dikabulkan. Maka, setiap kali terlintas permintaan dipikiran sang gajah, ia akan bilang, “aha! Aku tahu!” Tapi, sedetik setelahnya ia mengurungkan niat dan mengatakan pada kura-kura, “sepertinya aku tidak benar-benar menginginkan itu, aku mohon sabarlah wahai kura-kura.”

Dua-tiga malam berlalu tanpa permintaan. Kura-kura sudah bosan menunggu, dan dia pun berkata, “hey! Gajah. Masih lama, tidak? Aku mau pergi, nieh!”

“Duhai kura-kura, aku bingung akan permintaanku. Dari sekian banyak keinginanku, hanya satu yang akan kau wujudkan. Tentu lah berat bagiku memilihnya.”

“Kalau begitu, aku pergi saja sekarang. Kita mungkin akan bertemu delapan bulan sampai sepuluh tahun lagi.”

“Mau kemana?” Cegah sang gajah cokelat.

“Menjelajahi perairan.”

Gajah cokelat hanya terdiam. Ia merasa serba salah. Dalam hati, dikutuki dirinya sendiri. Ia bermain dengan pikirannya yang mengatakan, kalau saja begini, kalau saja begitu, dan sejumlah pengandaian lainnya.

“Tapi, aku tidak akan pergi, jika kau memintanya,” kata kura-kura sambil meregangkan otot. “Bagaimana? Apa kau akan memintaku untuk tetap tinggal di sini, atau memilih berjumpa lagi bertahun-tahun kemudian?”

Hati gajah cokelat bimbang tak karuan bagai ditinggal kekasih. Ia menghela nafas berkali-kali. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk hidup enak, senang, dan nyaman seperti sahabat gajahnya. “Baiklah kura-kura, tolong kabulkan permintaanku ini,” gajah masih berusaha mencari keinginan sejatinya. Tapi tidak satu pun terlintas dibenak gajah cokelat!

“Aku siap!” Kura-kura mulai mengeluarkan cahaya dari sekujur tubuh hijaunya. “Apa yang kau inginkan, wahai gajah cokelat?”

Gajah cokelat pasrah saja dengan apa yang akan keluar dari mulutnya nanti. Maka, ia pun berkata, “Wahai kura-kura sakti penghuni danau terindah di Hutan Alakadarnya, aku minta kepadamu,” gajah cokelat menghela nafas sepanjang-panjangnya, “jadikan lah aku,” terdiam sejenak, “gajah paling beruntung dari semua gajah paling beruntung yang pernah ada di masa manapun juga!”

“Permintaanmu aku kabulkan!” Kura-kura mulai merapel mantra. Mulutnya komat-kamit disertai dengan awan berarak dan gemuruh. Angin bertiup kencang. Air danau bergejolak. Seolah-olah dunia ingin menghempaskan gajah cokelat ke negeri antah berantah akibat permintaannya.

Akan tetapi, gajah cokelat tidak gentar. Tidak satu mili pun kakinya bergeser dari tempatnya berdiri.

Setelah berapa menit kemudian, kura-kura membuka matanya dan berkata, “permintaanmu sudah kukabulkan. Sekarang pulanglah.” Kura-kura mengibas-ngibaskan tangannya ke arah gajah cokelat.

“Tidak!” Gajah cokelat merasakan adanya perbedaan dengan cerita sahabatnya, gajah putih. Diceritakan bahwa tanda-tanda permintaan gajah putih terkabul adalah terdengar gelegar petir. “Darimana aku tahu bahwa permintaanku berhasil kau kabulkan, wahai kura-kura?”

“Kau akan tahu esok hari, tepat setelah engkau bangun tidur dan terpapar sinar matahari untuk pertama kalinya,” kura-kura melihat keraguan tersirat dari mata sang gajah, “percaya lah padaku. Sekarang pulanglah.”

Dengan masih berbalut ragu, gajah cokelat pun pulang. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa kura-kura sudah menepati janji.

Sesampainya di rumah, gajah cokelat termangu-mangu di sudut kamar tidur, memikirkan akan jadi seberuntung apa besok. Ia terbuai dengan khayalannya sendiri, sehingga mimpinya malam itu adalah menjadi raja Hutan Alakadarnya.

Akan tetapi, mimpi sang gajah cokelat tidak berlangsung lama. Tepat jam 3 pagi ia terbangun. Siap menyambut matahari terbit. Dibukanya semua jendela seraya bergumam, “wahai mentari, segerakanlah tugasmu. Aku butuh cahayamu pagi ini, agar keberuntungan yang dijanjikan kura-kura segera terlaksana.”

Maka, terbitlah matahari yang ia tunggu-tunggu.

Betapa gembiranya sang gajah ketika kehangatan pagi merambat masuk ke dalam kamar. Gajah cokelat menari-nari dan sesekali membuat lompatan kecil dari tepi jendela ke tepi lainnya. Ia pun berkata keras-keras keluar jendela, “wahai dunia, sambutlah aku, gajah paling beruntung yang pernah hidup di masa mana pun juga!”

Tidak sabar melihat keajaiban apa saja yang akan menghampirinya, ia segera berlari keluar apartemen. Tanpa mandi, gosok gigi, dan cuci muka.

Sesampainya di luar. Ditengadahkan wajahnya menghadap langit. Ia menunggu keajaiban sambil berimajinasi adanya banjir emas, menemukan ladang minyak, jadi jutawan, disematkan gelar sebagai duta peduli gajah, atau sekedar bertemu dengan belahan jiwa. Namun, hal semacam itu tidak kunjung datang. Gajah cokelat sedih bercampur kalut dan was-was, tapi ia tidak putus asa. Dibesarkan hatinya, “mungkin keajaiban akan muncul begitu aku masuk ke kamar, seperti pengalaman gajah putih dulu.” Ia pun bergegas kembali.

Ia menunggu dan terus menunggu, tapi sia-sia.

“Mungkin aku harus mandi dulu, sama seperti pengalaman gajah putih,” perintahnya pada diri sendiri.

Dibersihkan tubuhnya mulai dari ujung belalai hingga ujung ekornya. Seusai mandi, ia memilih mengenakan pakaian terindah dan termahal yang pernah ia miliki. Tidak ketinggalan memakai harum-haruman yang bercampur dengan kesturi. Dan lagi-lagi, tidak terjadi keajaiban apapun.

Semakin ditunggu, hati gajah cokelat semakin diiris sembilu.

“Wahai dunia, aduhai kura-kura sakti mandraguna. Pantangan apa yang kulanggar? Kesalahan apa yang kubuat? Hingga beginilah nasibku.” Gajah cokelat terisak, “tiada daya bagiku untuk berusaha, karena aku sudah mencapai titik terlemah seekor gajah,” ratapnya lagi.

Gajah cokelat menangis tiada henti sampai perutnya keroncongan. Dengan gontai dia berjalan menuju lemari. Kemudian, membuka dompet yang kulit-kulit pelapisnya sudah mengelupas. “Uangku hanya sanggup untuk makan dua kali lagi,” ia menghela nafas panjang, “sebaiknya aku berhemat.”

Terbayang oleh sang gajah bagaimana akhir hidupnya kelak. Ia menyesali keputusannya untuk mengajukan permintaan sebagai gajah paling beruntung, karena nyatanya tidak terjadi keajaiban apapun dalam kesehariannya. “Jika saja waktu bisa diputar lagi kebelakang,” begitulah perandaian sang gajah cokelat setiap kali lamunannya datang.

Dengan sisa uang yang tidak seberapa, ia jalan kaki ke warung emperan di kolong jembatan layang. Makanan penuh lemak dan banjir minyak terasa gurih di lidah gajah cokelat. Setidaknya, itulah sarapan sekaligus makan siang gajah cokelat sekedar untuk mengganjal perut.

Pagi berganti siang. Siang berganti malam. Gajah cokelat masih meratapi nasibnya. Dia melangkahkan kaki entah kemana, hatinya tak tahu, pikirannya pun tak tentu. Bahkan, kewarasannya diambang derita.

“Wahai dunia, seandainya saja aku masih memiliki sedikit uang, maka akan kudermakan ke panti asuhan.” Ia merogoh kantong celana. Uangnya memang tinggal sedikit. Sekiranya, satu kali makan pun pasti habis. Lantas bagaimana dengan nazar gajah cokelat?

Ah! Gajah cokelat memang tidak habis pikir tentang permintaan konyolnya ke kura-kura, tapi ia tetap menepati janji. Sengaja ia memilih panti terkumuh yang ada di area tersebut. Pikirnya, barangkali lebih bermanfaat. Maka, kini habislah ia. Tanpa uang, pekerjaan, dan makanan. Perutnya pun kembali keroncongan.

Walaupun begitu, ia masih bisa menikmati malam. Sesekali air matanya berlinang. “Beginilah aku, kelaparan sepanjang malam,” ratapnya lagi, “duhai bintang, wahai malam, dimanakah keberuntungan yang kura-kura itu janjikan?”

Gajah cokelat terus berjalan, hingga akhirnya sampai ke gedung apartemen tempat ia tinggal. Terlihat para pegawai apartemen sibuk mondar-mandir di area tersebut. Ruangan berhiaskan lampu-lampu kecil warna-warni. Terjejer rapi karangan bunga yang tertulis: Selamat ulang tahun, gajah putih. Ternyata keresahan sudah membuat ia lupa akan hari ulang tahun sahabat gajahnya.

“Hey! Gajah cokelat, sahabatku,” sapa gajah putih, “kau datang di saat yang tepat. Pesta baru saja dimulai.” Wajah gajah putih sumringah. Senyumnya merekah bagai melati yang mekar tiap pagi.

“Selamat ulang tahun, wahai gajah putih.” Gajah cokelat menyalami gajah putih, “maaf ya, teman? Jika saja engkau tidak menggelar pesta ini, aku pasti sudah lupa.”

“Tidak mengapa, wahai sahabat gajahku.” Gajah putih menepuk-nepuk bahu gajah cokelat, “ayo! Cobalah makanan di sini. Dijamin enak dan tidak akan kau temui dibelahan hutan manapun juga, karena aku mendapatkannya dari seorang petualang.”

“Sayang sekali, tapi aku sudah kenyang,” kelabu memang masih menyelimuti hatinya, tapi apa daya perut berkata lain, sehingga kedua gajah itu pun tertawa.

Malam itu, gajah cokelat makan banyak. Ia membekali perutnya dengan beragam salad dan lemak. “Perut kenyang, hati senang,” begitulah gumam sang gajah cokelat tatkala pesta berakhir. “Malam yang panjang, karena aku akan tidur nyenyak tanpa lagu keroncong persembahan perut buncitku,” lanjutnya.

Benar saja, gajah cokelat tidur pulas, walaupun begitu ia tidak bangun kesiangan. Paginya segar dan ceria. Ia gembira karena bisa berjumpa lagi dengan gajah putih. Sudah berminggu-minggu, kedua sahabat gajah tersebut sulit bertemu karena jadwal gajah putih yang begitu padat. Ketika ia bangun, gajah cokelat mendapati surat undangan dari gajah putih untuk datang ke Gedung Gajah Putih sebelum makan siang. Tertulis: Aku ingin menunjukkan sesuatu, datanglah!

Gajah cokelat tidak membuang waktu. Ia segera gosok gigi, mandi, cuci muka, memakai harum-haruman, dan mengenakan kemeja lengkap dengan setelan jas terbaik. Gajah cokelat pun siap menghadiri undangan.

Sesampainya di luar, gajah cokelat ingat bahwa ia tidak memiliki uang tersisa. Ia merogoh-rogoh saku celana. Beruntung ia menemukan satu keping jamur emas, “lumayan lah. Walau hanya satu keping, tapi bisa kugunakan untuk beli satu ubi bakar.” Gajah cokelat pun jalan kaki menuju Gedung Gajah Putih.

Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seekor nenek gajah sedang memijat-mijat kakinya di pinggir air mancur. “Lebih baik aku juga istirahat bersama nenek gajah,” gajah cokelat duduk di samping sang nenek. “Mau kemana, nek?”

“Saya pegal, nak. Mau menghadiri acara pernikahan anak bungsu saya di Gedung Gajah Putih,” jawabnya sambil terus memijat, “bagaimana denganmu, wahai gajah cokelat?”

“Oh! Saya juga mau ke sana.” Gajah cokelat meregangkan otot-ototnya, “mari nek, saya antar.”

“Duhai gajah cokelat, engkau masih muda lagi baik hati. Tapi gajah tua sepertiku tidak mampu mengimbangi kecepatan berjalanmu,” nenek gajah mengiba, “sudilah jika engkau memapahku, wahai gajah baik hati.”

Gajah cokelat tersenyum, menguatkan kedua kaki dan punggungnya untuk menggendong nenek gajah, “bersiap ya, nek? Kita akan segera sampai,” gajah cokelat mengambil ancang-ancang dan…

WUSSSH!

Ia berlari secepat kilat.

Sesampainya mereka di Gedung Gajah Putih, gajah cokelat menurunkan nenek gajah perlahan.

“Terima kasih, wahai gajah cokelat,” nenek gajah merapikan bajunya, “selain gigi emasku ini, tidak ada lagi yang bisa aku berikan saat ini.” Nenek gajah membuka dompet merahnya yang berisi gigi palsu. Kemudian, ia mencopot dua butir gigi, “terimalah,” katanya sambil menyodorkan dua graham emas kepada gajah cokelat.

“Terima kasih nenek gajah,” kesedihan yang semula bercokol di hati gajah cokelat seakan sirna. Ia terharu dan kembali bersemangat. Rasanya, detik itu juga gajah cokelat ingin segera bertemu gajah putih untuk menceritakan pertemuannya dengan nenek gajah.

Sebelum gajah cokelat dan nenek gajah berpisah, nenek gajah meminta tolong kepada gajah cokelat untuk mengantarnya pulang. Gajah cokelat pun menyanggupi, apa lagi nenek gajah mengatakan bahwa ia akan memberi hadiah atas kemurahan hatinya, jika gajah cokelat bersedia. Mereka pun berjanji bertemu di depan pintu masuk Gedung Gajah Putih saat petang nanti.

Tanpa membuang waktu, gajah cokelat bergegas menemui gajah putih di ruang kerjanya. Akan tetapi, gajah putih sudah pergi, begitulah yang disampaikan sang sekretaris gajah putih. Tidak ada lagi kata-kata perpisahan dari gajah putih selain memerintahkan sekretaris gajah untuk melayani segala kebutuhan gajah cokelat ketika ia tiba.

Gajah cokelat tidak meminta apapun, kecuali ingin berbicara melalui telepon. Namun, apa boleh buat, gajah putih terlampau sibuk. Jadwalnya tidak hanya padat, tapi seharian penuh tidak ada waktu senggang, walaupun sekedar menyapa di perjalanan. Ia menunggu dan terus menunggu gajah putih, seperti ketika menunggu keajaiban dari kura-kura sakti yang tidak kunjung datang.

Gajah cokelat menghibur laranya, sambil beringsut dari ruang kerja sang sahabat gajah, menuju pintu masuk Gedung Gajah Putih.

“Wahai dunia,” pintanya, “kesedihan seperti apa lagi yang tega kau timpakan kepadaku?” Lamat-lamat terdengar suara nenek gajah memanggil-manggil. Gajah cokelat segera menyingkirkan kesedihan dari wajahnya. Kemudian melaksanakan janji untuk menggendong nenek gajah pulang.

Sesampainya di rumah nenek gajah, gajah cokelat disuruh menunggu. Tak lama, nenek gajah keluar sambil membawa sepeda ontel.

“Ini adalah sepeda kesayanganku,” nenek gajah mulai bernostalgia, “saat masih muda dulu, saya dan suami saya sering berkeliling Hutan Alakadarnya menggunakan sepeda ini.”

“Wahai nenek gajah, benarkah saya boleh memilikinya?”

Nenek gajah mengangguk. Tidak tersirat kegundahan maupun keraguan dari bola mata sang nenek.

Setelah cukup lama berbincang, gajah cokelat berpamitan dan mulai mengayuh sepeda ontel tersebut.

Sepanjang perjalanan pulang, gajah cokelat berpikir untuk menjadikan sepeda ontel ini sebagai ladang bisnis. Maka, sejak saat itulah ia mulai menjadi ojek sepeda. Apa pun dan siapa pun pasti diantar, begitulah semangat gajah cokelat.

Layaknya gajah putih, usaha ojek sepeda gajah cokelat pun terus berkembang. Selesai mengantar seekor gajah, ia langsung mendapatkan penumpang lainnya. Tidak jarang gajah cokelat mendapatkan bonus dari pelanggan.

Dari satu sepeda, berlipat menjadi dua, kemudian empat, delapan, dan seterusnya.

Hingga pada suatu siang, gajah cokelat tertabrak mobil ketika ia hendak menyelamatkan anak gajah, yang menerobos lampu merah. Seketika itu juga, gajah cokelat segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Beruntunglah ia bahwa, tidak ada luka serius yang diderita, gajah cokelat tersandar dengan status lunas pada biaya administrasi rumah sakit. Tidak tanggung-tanggung, gajah cokelat dirawat di rumah sakit dengan pelayanan dan ruang rawat inap Super VIP. Gajah cokelat bersyukur atas apa yang ia alami.

Karena ini adalah pertama kalinya gajah cokelat memasuki rumah sakit termewah sehutan, ia pun menyempatkan diri untuk berjalan-jalan.

Tidak disangka, dalam perjalanannya, ia berpapasan dengan gajah putih. Saat itu, gajah putih duduk di kursi roda ditemani oleh suster kepala. Gajah cokelat pun menghampiri sahabatnya. Mereka berbincang mengenai apa saja termasuk pengalaman hidup.

Dari situ lah, gajah cokelat tahu bahwa gajah putih menderita penyakit komplikasi. Kesehatan gajah putih semakin hari kian terkikis dan tidak kunjung sembuh karena tidak bisa istirahat dengan tenang. Selalu saja ada dering telepon dan kunjungan dari rekan-rekan bisnis. Gajah putih harus tanda tangani ini dan itu, ditambah lagi menyempatkan diri untuk ikut konverensi melalui media apa pun.

Gajah cokelat miris mendengar nasib gajah putih. Ia merasa beruntung karena kehidupannya yang sederhana ternyata dibalut kenyamanan hidup yang tidak dimiliki gajah-gajah lain seperti gajah putih.

Gajah cokelat iba dan semakin kuat rasa kesetiakawanannya. Dikunjungi gajah putih setiap hari. Dibacakan cerita dan disenandungkan lagu-lagu untuk menyemangati sang sahabat.

Namun, nasib berkata lain. Gajah putih pun akhirnya meninggal dunia di meja operasi dengan meninggalkan surat dan materi. Gajah putih tidak memiliki sanak saudara, oleh karena itu seluruh hartanya diberikan kepada gajah cokelat tanpa hutang sekeping jamur emas pun.

Begitulah kisah dua ekor gajah. Di akhir cerita, gajah cokelat benar-benar sadar bahwa, sejak awal permintaannya sebagai gajah paling beruntung seantero Hutan Alakadarnya, memang sudah dikabulkan oleh sang kura-kura sakti.

7 responses to “Doa Dua Ekor Gajah [2-END]

  1. kenapa lama bangets sih bagian 2 ini? yisha nunggggggggggguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu….hiks!

  2. Ping-balik: Doa Dua Ekor Gajah [1] | mew da vinci

  3. Muatan dari cerita ini banyak sekali ya. Ada persahabatan, harapan, kesempatan, dan yang paling aku sukai yaitu tentang kesyukurannya karena si gajah telah memberi banyak manfaat pada gajah lain. Walaupun bari disadari gajah di akhir. Sama seperti realita hidup. Nice story😀

  4. dongeng modern yang sarat pesan moral. #ceile😀
    bikin lagi cerita seperti ini mew. yang ada tokoh kucingnya.

  5. Dongeng yang asyik
    @telat mbaca.com

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s