Menangkap Rasa dan Asa Dalam Bait Cinta


Duhai sahabatku, gajah cokelat. Surat ini kutulis untukmu sebagai penyambung rindu. Mungkin sepi dan pilu yang selama ini mencekam keseharianku bisa kau pahami, kemudian berlalu. Maka, biarkanlah aku bercerita dengan segenap kata di penghujung nyawa. Akan kukisahkan kepadamu caraku melewati hari demi hari yang kau tak mengerti. Setelah itu, tolong kenanglah bagaimana aku hidup, tapi bukan bagaimana akhir hidupku.

Duhai sahabat gajahku, aku yakin engkau tahu bahwa aku bisa hidup berlebihan seperti sekarang ini setelah bertemu dengan kura-kura sakti di tepi danau. Engkau pun tahu bahwa, aku tidak memiliki famili, sekali pun kekasih di sampingku. Hanya engkau wahai gajah cokelat, yang tetap setia dari awal hingga akhir perjumpaan. Betapa beruntungnya bidadari yang ditakdirkan untuk bersamamu.

Berbeda denganku. Aku merindukan masa-masa bersantai bersamamu di tepi danau walau hanya sekedar melempar batu. Dalam satu hari, nyaris tidak ada waktu untuk melepas lelah. Awalnya memang menyenangkan, memiliki banyak aset pribadi maupun perusahaan. Kesejahteraan pegawai sanggup aku perhatikan tanpa perlu pusing memikirkan untung dan rugi kas perusahaan. Semakin banyak yang aku keluarkan, maka akan kembali berlipat-lipat secepat kilat. Hatiku yang sepi, kupenuhi dengan betina. Selama kucukupi kebutuhan mereka, maka akan setia sepanjang usia. Begitulah dalam benakku saat itu. Dan benar saja, mereka mendampingiku hingga akhir, bahkan kompetitor pun tunduk di bawah kuasa kepingan jamur emas.

Kudirikan begitu banyak perusahaan beserta cabangnya hingga beranak-pinak. Dan tibalah masanya, aku mampu mendirikan puluhan sekolah gratis bergengsi dengan fasilitas unggulan. Tidak lupa mendonasikan ribuan bahkan jutaan keping jamur emas ke badan amal. Jalanan yang rusak, aku perbaiki dengan merogoh kocek sendiri. Tapi, semakin lama, aku tidak lagi merasa bahagia. Gajah-gajah lain mengira aku bahagia atas hidupku karena bisa memiliki apa yang tidak mereka miliki. Sejatinya, akulah yang tidak memiliki apapun. Aku lemah. Tidak berdaya. Seolah aku adalah budak, tapi entah milik siapa.

Duhai gajah cokelat, sahabat baikku. Jika kura-kura sakti bisa mewujudkan satu saja permintaanku lagi untuk terakhir kalinya, maka permintaan seperti yang kau ajukanlah harapanku. Menjadi gajah paling beruntung seantero Hutan Alakadarnya, bukan pilihan terburuk. Hanya terkadang, sulit untuk membedakan antara “terkabulnya hajat” dengan “goresan nasib”.

Ketika aku miskin, aku tak ada kekasih. Ketika kekayaan menghampiriku, gajah-gajah betina berlomba memperjuangkan sesuatu yang aku miliki, tapi bukan hatiku. Memang pernah kutemui seekor gajah betina jelita hati dan rupa, akan tetapi ia sering mempermainkan perasaanku. Kadang muncul, kadang pergi. Bagai semilir angin senja yang menerbangkan belati. Aku rindu, tapi tidak berbalas. Ingin berjumpa, tapi ia menutup rapat pintu dan jendela hatinya. Kuketuk secara perlahan hingga jemariku terluka, tapi hanya sayatan sebagai hadiah darinya untuk hati yang pilu.

Pernah sekali ia membuka pintu hatinya untuk menyapaku. Namun, belum lah selesai lambaianku, ia melempar derita dan perkara dalam asa dan rasa miliknya, yang entah berujung dimana. Ingin kutanya, sedang apa. Jawabnya hanya, maunya apa. Sedangkan, jika kutanya, apa yang terjadi. Ia hanya melempar senyum bercampur kelu yang tersirat dari dua bola mata dan berkata, tidak ada apa-apa. Akulah gajah dengan permohonan paling sia-sia. Mengejar apa yang tidak bisa kuraih. Meraih hampa berbalut duka.

Sering kudapati engkau bersedih atas nasibmu, wahai gajah cokelat. Namun, tahu kah kamu? Kebutuhanmu selalu tercukupi tepat waktu, baik hati maupun jiwa. Maka, jangan lah bersedih. Tidak lah pantas bagi seekor pejantan sepertimu berlinang air mata untuk hal-hal yang sejatinya tidak engkau perlukan.

Seandainya, ada satu kesempatan bagiku untuk merasakan kenikmatan yang datang kepadamu, maka berani jamin, apa saja aku tukar tanpa terkecuali demi pengalaman tersebut. Pengandaian, tetap lah pengandaian. Karena kura-kura sakti pengabul hajat, tidak bisa lagi kutemui. Wahai gajah, ketahuilah bahwa, terobati sudah batinku hanya dengan bermain bersama angan dan kisah-kisah jenakamu.

Kini berakhir sudah perjalananku. Entah kapan akan tiba masanya aku hilang ditelan alam. Menyerpih bagai debu. Namun, hanya satu pintaku, wahai gajah cokelat. Bersyukurlah selalu, karena mampu bagimu tercukupi segala kebutuhan di dunia ini tanpa derita berarti, kecuali engkau sendiri yang menggoresnya.

Salam sayang dan rindu, untukmu.

 

———–
Kisah sisipan “Doa Dua Ekor Gajah”.

Didedikasikan untuk Alfin Andri, Ali Permana, dan seorang kawan penyemat resah, rindu, sekaligus luka yang pernah mengobati lara dengan inspirasi dan bahagia tak terkira. Terima kasih.

12 responses to “Menangkap Rasa dan Asa Dalam Bait Cinta

  1. Sesungguhnya kura2 pengabul hajat tak lebih besar dari sang gajah cokelat. Sang Gajah sadar, ia besar dan lambat, tapi apa bedanya dengan kura-kura yang juga lambat ?? Tapi si kura2 memiliki kelebihan maka disebut kura-kura sakti.
    Ta apalah si kura-kura sakti sudah tak ada, maka alasan paling logis yang ada saat ini di dalam hutan belantara alakadarnya bukan lagi adanya kura-kura sakti pengabul hajat melainkan Gajah Cokelat Sakti pewujud hajat.

    Brrrrr……😀

  2. hhhhmmmmmmmmmmm….. manis deh 😀

  3. good lutfi good good……
    sbb salah satu ayat dari Al Quran mengatakan “semakin kita menyibukkan diri kita untuk urusan dunia mengalahkan akhirat, maka hati dan fikiran kita pun akan selalu disibukkan dengan urusan dunia” maka imbangilah antara urusan dunia dan akhirat biar hati merasa selalu tenang.

    Profesor mengatakan “jagalah fikiran”
    Ustd. Aa Gym mengatakan “Jagalah Hati”

    hati & fikiran merupakan soulmate yg tidak akan terpisahkan
    bila hati senang maka otak pun bisa berfikir jernih
    bila fikiran pusing maka hati pun juga resah

  4. Splendid, beautifully written🙂

  5. sudah berapa kura-kura yang terkumpul ?:mrgreen:

  6. satu ?
    “….Sejak matinya kura-kura betina itu seminggu kemudian dua kura-kuranya itu jadi ikutannya gak mau makan. Tak pikir masih hari berkabung, tapi kok lama ya? lama-lama mereka lemes, kirain wadahnya sempit jadi tak ceburin ke kolam, tetap makin lemes, trus, buru-buru beli kura-kura 2 ekor lagi sepasang. ternyata tiga hari kemudian 3 kura-kuraku (termasuk yang baru beli) mati dimakan sama yang jantan. Kok bisa ya? kura-kura kan ompong. Trus, sampai 3 minggu dia gak mau makan. mungkin jadi tahan lapar habis nyantap kura-kura tiga. Trus, karena penasaran aku beli lagi dua. KIra-kira dua minggu mereka hidup bareng. kura-kura jantan itu makan 2 kura-kura yang baru beli itu. Akhirnya tak paksa dia makan makanan normal. Sampai ikutan mati juga akibat gak mau makan….”

    wkwkwkwkw…. ups, muuph..:mrgreen:

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s