Terlintas Sebuah Judul


Terdapat suatu kisah tentang dua anak manusia yang pernah saling bergandengan tangan melewati pilar-pilar cinta, kasih, dan sayang. Mereka bangkit dari rasa sakit yang sama. Saling bertukar mimpi, menghembuskan rindu, mengobati luka, dan mengeratkan genggaman ketika salah satu dari mereka terjatuh.

Saat itu, mereka tidak ubahnya bagai pertemuan dua burung yang kehilangan sebelah kaki, lantas saling memahami. Dimana keduanya mempersilakan bahu mereka dijadikan sandaran untuk saling menopang.

Jika tiba saatnya terbang, maka kepakan sayap mereka dimulai dari gerakan terhalus, sehingga tidak ada yang tersungkur. Dan jika salah satunya telah lelah dan lapar, maka dengan sendirinya sang pasangan menjadi kuat. Disandarkan sang pasangan terbang pada pangkal dahan terkokoh, kemudian pergi mengitari pepohonan berbuah ranum. Sementara pasangannya mencari makanan, ia menyiapkan tempat bermalam. Begitulah cara kedua burung tersebut melalui matahari, bulan, dan bintang.

Entah sudah berapa lagu disenandungkan ketika kabut dan badai berusaha menyesatkan mereka. Namun, siapa peduli? Bukankah mereka masih melakukan kebiasaan yang sama?

Hingga tiba masanya…
Mereka berhenti saling membahu walau sekedar untuk bertengger. Tidak dikisahkan apa sebabnya. Yang ada, hanya sekelumit dongeng kosong yang dibawa semilir angin.

Selantang apapun kicauan mereka, tidak sanggup menjelaskan perih akibat terjatuh tiap kali menapaki sang bumi.

Tidak ada yang tahu persis bagaimana nasib kedua burung tersebut.
Ada yang mengatakan, keduanya terus terbang tanpa memperdulikan bulu-bulu mereka berguguran.
Ada pula yang mengatakan, salah satunya bersandar pada pohon tua dan menyebut nama sang kekasih dalam tiap detak dan detik jantung sesak karena rindu. Meyakini sang waktu, langit, dan bumi menjadi luluh hingga terbukalah jalan agar bertemu kembali walau dipenghujung nyawa.

Dipersembahkan untuk seorang kekasih yang pernah bersemayam dalam seribu kebaikan, dan setiap langkahnya selalu diantar melalui kisah untuk Tuhannya dari seorang perempuan, yaitu saya.

7 responses to “Terlintas Sebuah Judul

  1. Seekor Phoenix adalah seekor burung yang gagah dan kuat, atau setidaknya begitulah menurut pandangan orang-orang. Namun seekor Phoenix selalu merindukan seorang kekasih, seekor burung yang mampu dan mau menemaninya terbang melintasi angkasa, di bawah terik mentari, di bawah sinar rembulan, di malam-malam yang sepi. Sang Phoenix tahu bahwa ia adalah makhluk yang langka, bahwa mungkin ia adalah satu-satunya dari jenisnya, bahkan ia tahu bahwa burung-burung yang lain takut kepadanya karena ia bersinar seperti mentari, terang dan membara.

    Pada suatu ketika sang Phoenix dalam kesepiannya hendak terbang melintasi lautan berharap tidak akan pernah kembali. Namun di tepi pantai seekor burung Pipit yang kecil menyapanya dan bertanya, mengapa ia terlihat sedih. Sang Phoenix pun bercerita tentang kisahnya. Begitupun dengan si burung Pipit, yang merasa hangat di dekat sang Phoenix, bercerita tentang kisahnya. Mereka akhirnya bercengkerama di dahan sebuah Nyiur dihembus angin laut. Sang Phoenix merasa senang mendengarkan kisah si burung Pipit, bukan karena kisahnya yang menarik dan heroik, tetapi lantaran suara si burung Pipit membuatnya merasa tenang dan nyaman.

    Namun badai datang menghampiri dan si burung Pipit berharap sang Phoenix akan melindunginya di bawah dedaunan. Sang Phoenix hendak membawanya terbang melintasi badai, namun ia khawatir karena si Pipit terlihat takut, mungkin karena si Pipit belum pernah terbang setinggi seekor Phoenix terbang, mungkin karena si Pipit takut bertengger di atas bulu-bulu sang Phoenix yang membara, walaupun sang Phoenix tahu, bahwa api itu tidak akan membakar si Pipit yang dikasihinya. Di tengah kekhawatiran karena badai yang semakin mendekat, sang Phoenix memutuskan untuk menyembunyikan si Pipit di bawah karang, sementara ia sendiri terbang lebih tinggi dari badai.

    Setelah badai berlalu, sang Phoenix kembali ke karang itu hendak menemui si Pipit untuk mendengar suara dan tawa cerianya, namun si Pipit tidak lagi berada di sana. Sang Phoenix dengan panik mencari ke sana ke mari, memanggil si Pipit. Ia terbang mengitari pulau itu, karena ia tahu, si Pipit tidak akan pergi jauh. Namun ia tidak pernah lagi melihatnya, walau terkadang ia masih mendengar suara kicauan si Pipit. Sang Phoenix berpikir, bahwa mungkin si Pipit membencinya. Hingga kini sang Phoenix masih sering terlihat terbang di angkasa, masih berharap untuk menemukan si Pipit dan membawanya terbang bersama.

  2. aiih romanthis pisaan,
    tapi logikanya apa burung masih bisa terbang tanpa bulu2nya…
    kenapa burung pipit ini harus berhenti di dahan pohon tua, sementara masih ada hutan belantara tempat burung2 pipit lainnya berkicau bersama matahari
    tanya kenapa?😀 pisss ah

  3. wah, prosa tingkat tinggi nih… saluut mbak…

  4. Tulisan yang berkesan untuk diresapi🙂

  5. kamu berbakat juga ya jd penulis, bahasanya tingkat dewa trus lumayan dalem jg maknanya, great jobb lutfia🙂

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s