Sampingan

Apakah ini menyenangkanmu? Wahai rasa…


Dengan apa harus kuawali percakapan ini denganmu? Mungkin agar kamu tidak hanya sekedar mengerti, ataupun sekilas memahami. Kalimatku, bisa kapan saja membuih, kemudian menjadi bulir-bulir yang hanya akan engkau pandangi sambil berlalu.

Entah apa yang menelusup ke dalam dadaku, seakan aku bisa merasakan kebingungan dan keraguan di hatimu. Sudah biasakah engkau membisu? Sudah budayamukah memalingkan hatimu? Atau beginikah caramu melepas egomu? Ketika engkau menyadari seseorang menantimu pada suatu halte.

Hanya karena kuredam suaraku dalam kebisingan televisi, agar tidak terjangkau oleh telingamu. Dan hanya karena kubiaskan air mata yang bergulir ke dalam shower yang memercik gerimis, agar pandanganmu tidak terganggu. Maka, wajarkah bagimu meniadakan permohonanku? Apakah ini menyenangkan hatimu, sekarang? Apakah semua ucapanku kini merupakan kabar gembira bagimu?

—- Sabtu malam, 31 Agustus 2013, di beranda yang turut membisu bersamaku.
Didedikasikan untuk kamu, jika saja kamu menyadarinya. Cinta… Adalah ketika aku memandangmu. Mengingatmu. Menyertakan namamu dalam doaku. Dan berbincang dengan hatimu.

One response to “Apakah ini menyenangkanmu? Wahai rasa…

  1. Ini puisi, prosa atau pengalaman pribadi? Mengawali pembicaraan adalah dengan salam. Kata pembuka adalah puji syukur kepada Allah. Isi pembicaraan adalah bagaimana bisa bersama di jalan Allah. Kata penutup adalah permohonan kepada Allah agar selalu dalam marifat Allah.

Jangan malu-malu ngasih tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s