Tag Archives: catatan

Bukan Tanda Tanya


Seperti api yang membara. Telah terbakar sebuah jiwa hingga hilang namanya. Apa yang sedang engkau pikirkan, wahai wanita?

Duduk di sudut dan tidak berkata-kata. Menatap luar jendela. Sesekali berurai air mata. Lantas bergumam, “aku tidak apa-apa, aku tidak apa-apa…” Begitu beratkah hidupmu? Sudah sempitkah duniamu?

Semoga Allah mengobati hati dan jiwamu.

Saksi Setetes Air Mata


Wahai air mata, apa yang akan kau katakan jika Allah anugerahkan nikmat berbicara kepada kami yang meneteskanmu? Mungkinkah engkau akan buka tabir hati kami? Ataukah engkau justru mengolok segala kebodohan kami di masa lalu?

Wahai air mata, kelak engkau akan menjadi saksi di hari kemudian. Bisa jadi kita tertakdir sebagai kawan. Penyeri dahaga serta tirai gerimis penuh kesejukan. Atau justru engkau menjadi didihan air dalam kuali.

Wahai air mata, semoga engkau tidak menjadi saksi akan kesalahan saudara muslimku yang dulu menyakiti diri ini. Agar tidak tertumpah pula saksi-saksi air mata dari saudara muslimku lainnya yang pernah aku dzolimi.

Maka jika saja engkau bisa berdoa, jika engkau bisa memohon kepada Sang Maha Kuasa, maka mintalah kepadaNya, untuk menenangkan pemilikmu, meringankan bebannya, dan menjadikannya ikhlas serta bahagia menjalani ketetapan Allah Jalla Jalaluh…

—-***—-

Pemukiman Bukit Az-Zikra, Sentul, Kabupaten Bogor. Sabtu, 14 Februari 2015. Duduk menanti panggilan Sang Maha Kuasa.

Fajar Yang Redup


Bismillaahir Rahmaanir Rahiim… Dengan mengingatMu wahai Tuanku yang Maha Agung… Aku berserah diri atas semua kejadian yang telah Engkau tulis untukku. Walau tanya dalam qalbu. Walau tanya dalam qalbu. Dan walau tanya dalam qalbu. Aku tahu wahai pemilik hatiku, wahai Tuan… Engkau tidak bermaksud demikian sebagaimana bulir-bulir air mata ini mengalir… Bukan Engkau yang salah, wahai Tuan… Akulah yang terlalu sempit menyiapkan ruang untuk menempatkan hati ini. Akulah yang terlalu renggang dalam mendekatkan diri padaMu. Akulah yang terlalu mengedepankan keinginanku tanpa memahami maksudMu. Maaf maafkanlah aku…

Wahai Tuan… UtusanMu telah meninggalkan bumi ini. Sedangkan aku tengah sendiri dalam gelapnya hati. Kukira akan tiba fajar, wahai Tuanku… Kukira segera fajar. Ternyata belum juga buana membuka diri. Tapi telah datang apa yang kutunggu. Itukah perintah dariMu? Batas waktu yang kau janjikan untukku.

Aku melihatnya, wahai Tuanku yang Maha Sempurna. Dan aku tidak bisa, seketika itu tersenyum karena mataMu Engkau berikan kepadaku. Dan aku tidak bisa seketika itu tersenyum wahai Tuan…

—- Di samping lentera yang menyala saat siang, Perumahan Bukit Az-Zikra, Sentul, 1 Desember 2014.

Barakallaah… 🙂 Aku melihat tahun yang ditulis sebagai rencanamu dengannya. Doakan aku, agar aku bisa menyampaikan perasaanku atas berbahagianya kalian dengan ikhlas dan tulus, karena kecintaanku pada Allah, tidak ingin menimbulkan kebencianku pada kalian. Semoga mimpimu dengannya, terlaksana pada tahun “2016/17”, sebagaimana calon ibu dari anak-anakmu, menuliskannya, bersahut-sahutan denganmu…

Hening Di Kerumunan, Melebur Dalam Hujan


Tidak mengapa jika memang harus hening dan terduduk dalam kerumunan. Tidak mengapa jika yang ditanyakan harus terjawab kemudian. Tidak mengapa jika timbangan hati melebihi beban dipundak. Tidak mengapa jika selubung langit lebih pekat. Selama hanya ada di dunia, maka tidak mengapa.

Kadang tanya terjawab singkat. Kadang kalimat terkesan padat. Asal mata manusia tiada melihat. Asal kalbu tiada terungkap. Maka tidak mengapa jika sejenak saja kulembutkan hati pada sepertiga malam dengan meleburkannya dalam deras hujan. Ataupun sekedar gerimis petang.

— Minggu, 9 November 2014. Melebarkan permadani sebagai pembaringan nanti malam. Mungkin saja, menjadi teman duduk menikmati lembayung setiap sore hingga matahari tenggelam. Teringat bagimana sebuah rasa, yang hanya ada pada seorang saja. Sedangkan yang dirasa… Entahlah bagaimana… Dan entah bercengkrama dengan siapa…

Rindu Itu Kutaruh Di Dalam Almari


Sehari bagai setahun. Seminggu bagai seabad. Sebulan mungkin tak akan kuasa kulalui. Detikku segera berlalu. Waktuku segera berganti. Mungkinkah bayangmu akan abadi?

Sesekali dalam pintaku, kutanyakan perihal dirimu kepada Rabb yang Maha Segalanya untukku. “Wahai Allah! Wahai Allah! Ingatkah dia padaku? Karena aku tengah mengingatnya. Lupakah dia denganku? Karena aku masih mengingatnya.”

Jum’at, 3 Oktober 2014 – Sentul, Bogor, Indonesia. Di samping lemari es, menikmati bising genderang palu dan paku buruh-buruh bangunan.