Tag Archives: cerita cinta

Hening Di Kerumunan, Melebur Dalam Hujan


Tidak mengapa jika memang harus hening dan terduduk dalam kerumunan. Tidak mengapa jika yang ditanyakan harus terjawab kemudian. Tidak mengapa jika timbangan hati melebihi beban dipundak. Tidak mengapa jika selubung langit lebih pekat. Selama hanya ada di dunia, maka tidak mengapa.

Kadang tanya terjawab singkat. Kadang kalimat terkesan padat. Asal mata manusia tiada melihat. Asal kalbu tiada terungkap. Maka tidak mengapa jika sejenak saja kulembutkan hati pada sepertiga malam dengan meleburkannya dalam deras hujan. Ataupun sekedar gerimis petang.

— Minggu, 9 November 2014. Melebarkan permadani sebagai pembaringan nanti malam. Mungkin saja, menjadi teman duduk menikmati lembayung setiap sore hingga matahari tenggelam. Teringat bagimana sebuah rasa, yang hanya ada pada seorang saja. Sedangkan yang dirasa… Entahlah bagaimana… Dan entah bercengkrama dengan siapa…

Terlintas Sebuah Judul


Terdapat suatu kisah tentang dua anak manusia yang pernah saling bergandengan tangan melewati pilar-pilar cinta, kasih, dan sayang. Mereka bangkit dari rasa sakit yang sama. Saling bertukar mimpi, menghembuskan rindu, mengobati luka, dan mengeratkan genggaman ketika salah satu dari mereka terjatuh.

Saat itu, mereka tidak ubahnya bagai pertemuan dua burung yang kehilangan sebelah kaki, lantas saling memahami. Dimana keduanya mempersilakan bahu mereka dijadikan sandaran untuk saling menopang.

Jika tiba saatnya terbang, maka kepakan sayap mereka dimulai dari gerakan terhalus, sehingga tidak ada yang tersungkur. Dan jika salah satunya telah lelah dan lapar, maka dengan sendirinya sang pasangan menjadi kuat. Disandarkan sang pasangan terbang pada pangkal dahan terkokoh, kemudian pergi mengitari pepohonan berbuah ranum. Sementara pasangannya mencari makanan, ia menyiapkan tempat bermalam. Begitulah cara kedua burung tersebut melalui matahari, bulan, dan bintang. Baca lebih lanjut